Rey memakai earphonenya dan pura-pura tidak mendengar ucapan dari Key, Key hanya tertawa melihat kelakuan Rey yang masih terihat kesal karena Key bercanda dengannya masalah beasiswa.
"Lo beneran nih nggak mau ngomong sama gue ?"
Rey hanya mendengus malas, dia terlalu terkejut dan marah-marah tidak jelas. Tetapi Key ternyata hanya menggodanya. Ada sedikit rasa senang, karena Key hanya dapat beasiswa di Yogyakarta. Rey masih ada kesempatan untuk mengunjungi. Tetapi dia tetap kesal dengan Key yang mempermainkannya.
"Tahu ah lo gila" Rey mulai mengomel dan melepas earphonennya.
"Lagian lo juga, banyak bacot."
"Lo nggak mau ikut ke Yogyakarta ?"
"Gue..."
"Pasti alasannya jagain Maya kan ?"
"Bukan gitu Key... Yaudah nanti gue coba deh---"
"Gue ngerti, lo disini aja."
"Key..."
"Gue nggak marah, gue juga tahu kok kita pasti LDR. Gue sudah memikirkannya dan juga, setelah gue dan Maya berantem hebat di Rumah Sakit. Gue mulai sadar, dia sangat kesepian."
Handphone Rey berdering dan menampilkan kontak dari suster yang ada di Rumah Sakit tempat Maya dirawat. Raut wajah Rey lansgung berubah saat mendengar suara dari suster tersebut.
***
Pemandangan saat ini benar-benar kacau, ruangan Maya berantakan dan keadaan Maya benar-benar kacau. Dia memegang pisau buah yang ada di ruang tersebut, Key memandang wajah Maya dan untuk pertama kalinya wajah Maya sangat rapuh dimata Key.
"Gue cuma punya lo Rey..."
"Maya, sini pisaunya. Bahaya..." Rey berusaha lembut.
"Kenapa semua yang gue sayang pasti meninggalkan gue ? Gue cuma punya lo yang bisa perhatian dan pengertian sama gue. Tapi kenapa semenjak ada dia, lo mulai melepaskan gue. Apa gue cuma barang ? Yang jika sudah menjadi rongsokan bakalan lo buang ?"
"Gue sayang sama lo May---"
"LO BOHONG !!! LO SAYANG SAMA KEY !!! LO CUMA KASIHAN SAMA GUE !!!"
"Lo senang kan Key ? Banyak yang sayang sama lo ? Semua ada dipihak lo ?" Lanjut Maya.
"Maya ! Lo makin keterlaluan, Key nggak ada hubungannya." Tegas Rey.
"Lo tahu, awalnya gue ingin berteman dengan Key... Gue ingin rasanya punya teman, tapi gue nggak bisa karena gue nggak rela lo membagi rasa sayang lo untuk kita berdua."
"Jadi apa mau lo ?" Tantang Key.
"Tinggalin Rey."
"Maya !!!" Teriak Rey.
Maya terkekeh, dia menunduk dan menatap pergelangan tangan nya. Dia melihat tubuhnya yang begitu kacau, benar kata Key bahwa dia memang gila. Jadi untuk apa dia bertahan sejauh ini, jika dia tidak waras ?
"Ternyata permintaan gue sulit ya untuk dikabulkan." Maya menatap Rey dan Key secara bergantian.
"Rey... Makasih pernah sayang sama gue, walaupun hanya sebatas adik dan kakak sepupu."
"Key... Makasih karena lo ngambil kebahagian terakhir gue..."
Maya tersenyum dan keadaan langsung kacau, perawat langsung berlarian untuk membantu. Key terdiam dan terduduk saking terkejutnya, Rey langsung berlari mengendong Maya ke UGD. Darah dari pergelangan tangan Maya terus bercucuran, Maya tidak sadarkan diri.
(To Be Continue)
Sinetron banget dahhh gue :)
Gak bisa bikin orang tenang, udah mau LDR.
Terus dibikin masalah kayak gini :)
Gue yang bikin, kenapa gue yang pusing :)
Double Update nihhh zheyenggg 💛💃
Terima kasih untuk kesetiaan kalian yang menunggu cerita sayaaaaa, walaupun malas²an updatenya :)
KAMU SEDANG MEMBACA
ZONA NYAMAN
Short Story"Berduri kayak kaktus. Kaktus nomor 1, gue nomor terakhir. Level gue lebih rendah daripada kaktus. Gue kalah saing sama kaktus nya yang penuh duri itu." -Key Melodi Putri- "Sampai kaktus gue mati gara-gara lo, gue botakin kepala lo. Bodo amat mau p...
