19. Hokkaido

3.4K 421 12
                                        

"Give the ones you love wings to fly, roots to come back, and reasons to stay."

-Dalai Lama-

.

.

.


Niken bangun terlalu siang.

Dia yakin sudah menyetel alarmnya semalam. Tapi sepertinya dia mematikan alarm itu tanpa sadar. Niken langsung bangun dari ranjangnya dan sadar bahwa dia masih di rumah Leon. Gadis itu meringis sambil menyisir rambutnya. Sudah jam tujuh. Leon pasti sudah bangun sejak tadi. Niken langsung bergegas bangun dan merapikan ranjangnya. Dia mengambil baju ganti dan langsung berlari menuju kamar Leon. Kamar mandi yang bisa digunakan hanya yang ada di kamar Leon saja. Minggu depan Leon baru akan mengurus dua kamar mandi lainnya.

Niken mengetuk pintu kamar Leon beberapa kali. Dia mengernyit ketika tidak mendengar jawaban Leon. Tanpa pikir panjang, Niken langsung membuka pintu kamarnya. Leon sudah tidak ada di dalam kamarnya. Niken mengernyit dan mengecek kamar mandinya. Kosong. Kemana Leon pergi? Niken tidak punya waktu berpikir dan akhirnya memutuskan untuk mandi dulu sebelum mencari keberadaan pacarnya. Mungkin dia ada di lantai bawah.

Niken langsung turun ke bawah dengan membawa semua bawaannya setelah selesai mandi. Dia meletakkan bawaannya di sofa dan langsung mencium wangi mentega dan telur dari dapur. Perut laparnya langsung berbunyi keras. Kakinya langsung melangkah ke dapur dan menemukan sosok Leon di sana, berdiri di depan kompor. Rambutnya masih acak-acakan meskipun dia sudah memakai kemeja biru langit dan celana abu-abu gelap. Fokusnya hanya pada masakan, sama sekali tidak menyadari sosok Niken yang berjalan mendekat ke arahnya.

Niken berdiri di depan pantry sambil menunggu Leon menyadari keberadaannya. Sementara itu Niken menikmati punggung pacarnya yang lebar sedang memasak sarapan untuknya. Pemandangan ini membuat Niken menyesali kenapa dia tidak pandai memasak. Mungkin dia harus kursus memasak supaya dia bisa mengimbangi skill memasak Leon di dapur.

Leon tiba-tiba berbalik dan mengerjap ketika menemukan sosok pacarnya yang sedang menopang dagu. Bibir Niken langsung melengkung senang. "Selamat pagi!" Ucap Niken semangat.

"Pagi," Leon meletakkan sebuah piring di depan Niken. "Ini sarapan untukmu."

Niken menatap dengan takjub sandwich dan telur mata sapi di piringnya. "Wow, ini terlihat mewah sekali untuk sarapan."

Leon menyipit. "Ini sarapan bergizi."

Niken tertawa pelan kemudian menggeleng. Tipikal Leon sekali. "Iya, iya," Niken meletakkan piringnya di atas meja makan. Kakinya melangkah ke depan kulkas. Dia mengambil satu kotak susu stroberi yang kemarin dia beli bersama Leon di supermarket.

Leon sendiri sudah duduk di meja makan dan sedang menyeruput kopinya. Dia menggulung lengan kemejanya sebelum mulai makan. "Hari ini kamu ada klien?"

Niken hampir tersedak susunya. Dia baru ingat kalau jadwalnya hari ini adalah bertemu dengan seorang temannya untuk membantunya mencarikan hadiah tambahan untuk Leon. Tinggal tiga hari lagi, Niken harus segera mengambil hadiah yang dia pesan. "Tidak ada, hari ini aku mengosongkan jadwal untuk beristirahat di rumah. Kupikir pasti lelah setelah mengadakan pesta di rumahmu."

"Hmm, begitu ya."

"Nanti kamu bisa mengantarkanku ke apartemenku saja."

Affogato (FIN)Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang