16. Two Crabs

3.6K 466 5
                                        

As you start to walk out on the way, the way appears.

-Rumi-

.

.

.

Leon memperhatikan gerak-gerik Niken.

Setelah memindahkan dus terakhir dari mobil, Leon baru sadar kalau Niken tidak ada di ruang tamu rumah barunya lagi. Saat pertama datang tadi, Niken sibuk memperhatikan detail ruang tamu yang masih kosong. Tapi sepertinya sekarang dia sedang melihat ruangan lain. Leon langsung berjalan untuk mencari keberadaannya. Bibirnya langsung tersenyum ketika melihat gadis itu ada di lantai atas. Tepatnya di ruangan master bedroom yang menjadi salah satu alasan terbesar kenapa Leon menyukai tempat itu. Niken sendiri sedang sibuk mengagumi tempat itu, tepatnya pada satu titik favorit Leon.

Gadis itu tidak pergi ke belakang untuk mengagumi kolam renang dan taman kecil yang ada di rumah itu. Tapi dia langsung naik ke atas dan berhenti untuk melihat sebuah benda. Ini adalah salah satu kelebihan Niken. Dia tidak mudah terpukau pada kemewahan, tapi lebih kepada nilai di balik suatu barang. Ini salah satu kesamaan yang Leon miliki dengan gadis itu. Karena memang dia juga terpukau dengan benda yang ada di depannya saat ini.

"Bagus 'kan?" Suara Leon bergema di ruangan yang masih kosong itu. "Itu adalah salah satu sebab kenapa aku memilih rumah ini."

"Bagus sekali," kaki gadis itu berjalan mendekat dan menyentuh benda itu. "Apa ini peninggalan penghuni sebelumnya?"

"Benda itu sudah ada sejak pertama kali rumah ini dibangun," Leon ikut berjalan mendekat untuk menyentuh benda itu. Tersenyum lebar ketika melihat wajah terpukau Niken.

Benda itu adalah sebuah pintu kaca berbingkai kayu. Pintu kaca dengan desain gambar bulan dan bintang di tengah langit malam. Kaca itu diwarnai sesuai dengan bentuk gambarnya. Warna biru, kuning dan hijau yang saat ini terpantul ke lantai karena sinar matahari siang. Entah apa yang membuat pintu kaca bergambar itu begitu spesial tapi benda inilah yang menarik Leon untuk membeli rumah ini. Ternyata bukan hanya dia yang tertarik dengan benda itu. Nyatanya, hal yang sama juga terjadi dengan pacarnya.

Hal ini membuatnya semakin yakin bahwa keputusan awalnya untuk membeli rumah memang sudah tepat.

"Sudah dapat inspirasi untuk mendekorasi?" Leon menatap buku sketsa yang Niken pegang dengan tatapan penasaran.

Niken memeluk buku itu erat. "Sudah ada, tapi yang jelas aku tidak mau menambahkan tirai untuk pintu kaca ini."

"Aku setuju."

Niken tersenyum kemudian berjalan keluar dari ruangan itu. Leon mengikuti langkahnya menuju tiga buah kamar lain yang kosong, dua buah kamar mandi kemudian sebuah ruang kosong lagi, tapi ruangan terakhir ini tidak berpintu. Niken menunjuk tempat itu dengan wajah bingung. "Ruangan seperti ini mau kamu pakai untuk apa?"

"Ruang keluarga," Leon bersandar di dinding ruangan itu dengan kedua tangan terlipat di depan dada. "Bagaimana menurutmu? Aku suka karena ruangan ini tidak punya pintu pembatas."

"Kenapa kamu suka dengan ruangan ini?"

"Karena aku ingin anak-anak nanti bebas masuk ke ruangan ini jika kita ada di sini, tanpa pintu yang menghalangi mereka yang artinya tidak ada privasi di ruangan ini," Leon tersenyum tipis melihat mata Niken melebar. Leon mengernyit. "Kenapa?"

"Ternyata kamu sudah memikirkannya sejauh itu," pipi gadis itu memerah kemudian dia berdeham. Dia kembali menatap ke sekeliling ruangan itu. "Baiklah, aku bisa mengaturnya," Niken mengangguk kemudian mencoret sesuatu di sketsanya. "Bagaimana dengan tiga kamar lainnya?" Gumamnya sambil berjalan turun ke lantai bawah.

Affogato (FIN)Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang