Belajar Bersama

750 47 1
                                        

Mama Geffa memperlihatkan foto-foto masa kecil Geffa dan adiknya Giffari. Mereka sangat tampan dan menunjukkan muka yang imut waktu kecil. Ekspresi senyum, merengut dan menangis diperlihatkan pada setiap lebar foto. Sementara Geffa yang dikenalnya sekarang hanya punya satu ekspresi.

"Tante ini foto Geffa kenapa ?" Fiona menunjuk foto Geffa yang memperlihatkan lutut dan siku terluka sambil menangis.

"Oh itu waktu Geffa umur lima tahun lagi belajar naik sepeda roda dua setelah belajar naik roda empat dan tiga tapi karena percobaan pertama roda dua akhirnya jatuh semenjak itu Geffa sudah gak mau naik sepeda sampai sekarang belum bisa naik sepeda." Cerita mama Geffa.

"Aneh banget ya tan, bisanya orang kalau bisa naik sepeda montor besarnya mungkin sekarang Geffa sudah bisa naik sepeda."

"Gak tau Geffa memang seperti itu. Mungkin kamu bisa coba ke Geffa suruh naik sepeda."

"Eh iya tan." Mungkin suatu hari Fiona bisa mengerjain Geffa. Mana mungkin dia masih belum bisa naik sepeda

Geffa dan Giffari sudah sampai rumah melewati ruang tamu dan Mama Geffa memanggil kedua anaknya. "Hei, adik. Katakan hai untuk Fiona temannya kakak."

Giffari hanya menoleh datar ke arah Fiona. Ekspresi semacam kakanya yang turun menurun ke adiknya.

"Ayo. Cepat." Mama Geffa berdiri dan mendorong Geffari ke Fiona. Fiona berdiri. "Geffari." Sambil mengulurkan tangan untuk salim.

Setelah salim, Fiona mengusap rambut Geffari gemas "Wow. Lucu banget. Aku Fiona. Kamu kelas berapa ?"

Geffari menjauhkan kepalanya lalu menjawab "Kelas 3 SMP."

Fiona menatap kaget tangan nya dijauhi anak kecil ini serta menatap jengkel ekspresi datar Geffari "Kamu sangat mirip dengan kakak mu."

"Apakah boleh aku bertanya ?" Tanya Geffari.

"Tentu."

"Ranking berapa disekolah ?"

Menjawab pertanyaan Geffari sambil kedua tangannya dipinggang "Ranking dua dari semua anak kelas dua belas. Tepatnya dibawah kakak kamu. Seandainya kakak kamu itu saat mengerjakan soal mengantuk bisa jadi." Sambil menunjuk dirinya sendiri "Aku yang dapat."

Geffari masih menatapnya datar dan sudah bisa ditebak. Perempuan ini pasti mengincar kakaknya. Dia masih belum pantas untuk kakak. "Annoying."

Geffa mendengar ejekan adiknya tertawa pelan. Fiona melihat Geffa menertawakannya langsung percaya seratus persen dua saduara ini sama-sama menyebalkan. Sampai mama Geffa berkata "Adik bukan seperti itu mengucapkan salam dengan kakak Fiona. Minta maaf sekarang." Geffari melirik Fiona sekilas langsung pergi keatas menuju kamarnya.

"Eh Adik ! Maaf ya memang sifatnya susah diatur." Mama Geffa mendekat ke Fiona sambil mengelus rambut belakang Fiona. "Iya tante tidak papa. Aku baik-baik saja sudah kebal juga." Fiona sudah terbiasa dengan sifat kakaknya.

"Ya sudah tante tinggal dulu yam au ngurusin adiknya dulu. Semangat belajarnya !"

"Baik tante. Siap !"

Sekarang tinggal Fiona dan Geffa yang berada di ruang tamu duduk di lantai beralaskan karpet berbulu lembut. "Lo kok bisa dapet album ini ?" Tanya Geffa setelah sadar ada album foto masa kecilnya yang terbuka di atas meja.

"Mama lo yang nunjukin ke gue." Jawab Fiona sambil membuka catetan matematikanya.

"Ish mama." Geffa menutup albumnya lalu menaruhnya di bawah samping tempat nya duduk.

Fiona dan Geffa memulai mengerjakan soal-soal dari buku yang membahas ujian nasional serta memberi batas waktu mengerjakan dan diakhir mereka akan mencocokan dengan kunci jawaban lalu dilihat yang punya nilai salah terbanyak dan nanti akan dibahas bersama. Ternyata Geffa tidak punya buku-buku soal yang membahas ujian nasional atau sejenis contoh soal UN, USBN, SBMPTN dan sebaginya. Geffa hanya belajar buku yang diberikan sekolah. Berbanding terbalik dengan Fiona yang harus membeli buku-buku soal ujian dari berbagai penerbit supaya nanti punya pengalaman mengerjakan soal yang bermacam-macam.

RANKING 1 Vs RANKING 2Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang