Satu Minggu Sebelum Ujian Nasional 3

553 35 4
                                        

Hari kamis geng pejuang ujian nasional yang beranggotakan Geffa, Andre, Fahri, Elsa dan Fiona telah berkumpul. Mereka telah menyelesaikan kelas untuk mata pelajaran peminatan pada ujian nasional.

Mereka belajar bersama di rumah Andre. Rumah Andre sepi dikarenakan kedua orangtuanya yang sibuk bekerja. Fiona dan Elsa yang baru pertama masuk ke rumah Andre terkejut dengan pajangan di rumahnya. Mendali dan piala berjejer. Foto – foto seseorang yang mengenakan seragam gagah terpajang.

"Gak nyangka papa lo tentara." Ucap Fiona.

"Lo gak ada gagah nya sama sekali." Ucap Elsa.

"Kalian aja kaget apa lagi kita yang udah bertahun-tahun aja masih heran tidak ada perubahan ke arah yang benar." Ucap Fahri.

"Kalian membicarakan orang yang masih ada disini." Balas Andre sedang membuat minuman untuk teman-temannya.

Belajar bersama pun dimulai. Fiona dan Fahri belajar bersama saling membantu. Sedangkan Geffa membantu temannya Andre dan Elsa.

Andre yang kurang rajin dalam hal belajar pun ikut serius. Meski ini terlambat dan telah mendekati waktu ujian namun belajar bukan lah suatu halangan untuk menambah pengetahuan. Belajar bisa dimulai kapan saja dan tidak ada kata terlambat.

Menghabiskan waktu selama berjam-jam akhirnya mereka selesai belajar.

..........

Keesokan harinya pada hari jumat diisi dengan mengadakan berdoa bersama untuk kelancaran ujian yang diisi oleh masing-masing guru menurut kepercayaan masing-masing.

Fiona dan Elsa tidak pulang karena mereka diajak ke perpustakaan untuk belajar bersama lagi oleh siapa lagi kalau bukan Andre dan Fahri.

Fahri ternyata tertarik didunia kedokteran sama seperti Fiona. Mereka saling berbagi pengetahuan dan informasi juga mengenai pilihan universitas yang menyediakan beasiswa.

Lain halnya dengan Elsa yang pandai dibidang seni dan Andre masih belum terlihat ia akan kemana, sebab kali ini Andre mulai fokus belajar.

"Oh ya ngomong-ngomong dimana Geffa ?" Tanya Elsa.

"Lo gak usah cariin orang yang dari bayi udah pinter, dia lagi di lapangan basket." Jawab Andre.

"Wow." Kagum Elsa.

Perpustakaan sekolah akan tutup karena sudah sore yang mengharuskan mereka berempat harus pulang.

Geffa masih disana, duduk dikursi sambil minum dengan baju seragamnya yang telah basah.

"Lo ngapain masih disini ?" Tanya Fahri.

"Gue baru selesai main." Jawab Geffa.

Geffa sebenarnya sudah selesai dari tadi namun ia terlalu malas untuk mengunjungi teman-temannya yang ada di perpustakaan lalu dilanjutkannya permainan basket sampai larut sore dan bertepatan teman-temannya juga pulang.

Geffa mau menanyakan apakah akan ada belajar bersama lagi namun setelah terdiam teman-temannya menatapnya. Namun disela Andre yang berbicara dulu "Sampai ketemu besok."

"Iya gue duluanya sama Elsa." Ucap Fiona.

Geffa pun bertanya "Hari ini gak ada belajar ?"

"Lo pasti senangkan. Kita berencana besok mau belajar dirumah gue lagi. Gue harus bisa menaikkan nilai ! Besok adalah hari yang panjang untuk belajar !" Ucap Andre dengan semangat.

"Lo mau ikut ? atau gue tebak pasti lo gak mau." Kata Fahri.

Diluar prediksinya ternyata sia-sia dia bermain sampai sore dan ternyata hari ini tidak ada belajar bersama dan diganti besok.

Kenapa belajar bersama merupakan hal yang menyenangkan bagi Geffa. Sebelumnya ia tidak pernah merasakan perasaan seperti ini.

..........

Sabtu pagi Andre dikagetkan oleh sosok Geffa yang sudah berada didepan rumahnya.

"Lo mimpi apa sampai kesini."

"Lo masih butuh bantuan gak kalau gak gue balik."

"Eits iya gue mau jangan pulang dong."

Geffa datang pertama kemudian disusul teman-teman yang lain.

Waktu terus berjalan sampai waktu menunjukkan sore. Mereka memesan makanan dan bercanda bersama sambil mengeluarkan playstation milik Andre.

Terlihat mereka bersenang-senang. Permainan dibagi menjadi dua tim, penentuan tim dengan hompimpa sampai keluar tangan yang pas 3 vs 2 yaitu ada Fiona, Fahri dan Andre. Sedangkan Geffa bersama Elsa.

Perwakilan pemain Andre vs Geffa.

"Lihat bukankah Geffa terlalu tenang, bagimana kalau dia menyerang ?" bisik Fiona.

"Lo yakin bisa mengelahkan Geffa ?" bisiknya lagi.

"Tenang aja gue sering main game ini."

Sedangkan Elsa hanya dapat melihat Geffa bermain "Gef lo bisa main kan."

"Tenang aja."

Permainan tambah seru dan Andre yang bermain sambil menggunakan mulutnya untuk berkomentar. Fiona dan fahri melihat satu sama lain sambil menggelengkan kepalanya, merasa tidak yakin.

Sampai akhirnya pemenangnya adalah Geffa. Mereka semua sudah membereskan barang bawaan mereka dan sekarang akan pulang dan masih berada di halaman rumah Andre.

"Gak masuk akal, gue yang membonceng Geffa !" Jengkel Fiona.

"Ya.. mau gimana lagi kita kalah." Tutur Fahri.

"Ini semua gara-gara lo." Tunjuk nya ke Andre.

"Kenapa bukan gue yang sama Elsa."

"Rumah lo kan sejalan sama Geffa, lagian lo mau muter-muter. Lo sampai rumah tambah larut." jawab Andre.

"Oke oke ini gue terpaksa." Pasrahnya.

Fiona pulang bersama Geffa sedangkan Fahri dengan Elsa. Mereka yang kalah harus mengantarkan pemenangnya ke rumah.

Fiona berharap Geffa akan memintanya berhenti untuk bergantian karena sudah tidak ada yang melihat tapi yang didapatkan malah Geffa yang cuek. Fiona yang terlanjur jengkel akhirnya menjalankan motornya langsung kerumahnya. Ia sempat heran kenapa Geffa diam saja dan tidak menegurnya.

Sesampainya di depan rumah Fiona bertanya "Kenapa lo gak negur gue waktu di jalan ?"

"Cara mengendarai lo yang pelan tambah membuat gue tambah capek."

"Seharus nya lo yang bilang mau gantikan gue dan gentian lo bonceng. Lo yang cuman tinggal duduk mengeluh capek."

"Yaudah gue pulang."

Fiona kesal, setelah berbicara panjang kali lebar pun balasannya hanya itu. Serta semua maksud yang tidak jelas dari Geffa.

..........

Fiona dikamarnya sedang telfon dengan Elsa.

"Lo tau gak Geffa bilang gue mengendarai sepedah paling lambat. Kesel banget gue."

"Haha beneran deh Geffa membiarkan lo yang bonceng sampai rumah."

"Iya masak dia gak ada pekanya sama cewek. Emang tadi lo sama Fahri gimana ?"

"Gue tadi berhenti buat gantian jadi gue dianter sampai rumah."

"Apa ! enak banget padahal gue tadi sudah berharap seperti itu."

"Percuma deh kalau hayalan lo buat Geffa."

"Kesel banget gue hari ini."

Pembahasan mereka terhenti dan mulai membahas tentang langkahselanjutnya untuk memilih universitas.

RANKING 1 Vs RANKING 2Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang