Jadi....
Mas Yoga sudah penuh dengan jadwal tambahan pelajarannya. Begitu juga mas Attar.
Dan kami, aku dan Sarah tetap selalu setia menjadi penghuni kantin saat menunggu kedua pangeran kami selesai jam tambahan.
Yup, setelah kejadian beberapa hari lalu, aku tahu bahwa mas Attar menyayangi aku layaknya perasaan seorang cowok pada seorang lawan jenisnya bukan seorang kakak pada adiknya. Mas Attar mengakui semua pada mas Yoga, bahwa dia mencintai aku sejak aku kelas 3 SMP. Tepatnya setelah perpisahan Mama dan Papa.
Sweet sebenernya. Walau aku jadi merasa kaya orang yang di kasihani. Tapi enggak, aku bersyukur ada yang menyayangi aku.
Meski sebentar lagi, tiga bulan lagi mas Attar dan mas Yoga sudah lulus dan akan lanjut kuliah. Tapi aku tetap dukung. Aku tahu mas Attar bercita cita masuk teknik sipil seperti mas Yoga.
Tapi setelah akhir semester kemaren, mereka mendapat tawaran beasiswa jurusan manajemen bisnis. Dan jadi pertimbangan jadinya.
"Papa tumben udah pulang?" Tanyaku pulang sekolah
"Iya. Sekali kali lah. Mumpung gak banyak kerjaan. Kalian baru pulang?" Kami berempat sudah menyalimi Papa lalu kami ikut duduk di ruang makan.
"Kalian bersih bersih dulu, baru makan sini bareng Bapak." Kata simbok sambil menyiapkan hidangan.
"Oke deh simbok..." Jawab kami.
Sarah ikut aku ke kamarku untuk mebersihkan diri sedang mas Attar masuk kamar mas Yoga juga.
Lalu kami kembali turun untuk makan bersama Papa, momen langka selain sarapan.
"Yoga, besok kalo jadwal sekolah agak senggang, papa mau pelimpahan perusahaan alm.papamu. Supaya kamu bisa tangani langsung sendiri."
"Kenapa gak setelah aku lulus aja sekalian sih Pa?" Pinta mas Yoga.
"Iya Pa, biar aja mas Yoga konsen ujian dulu kali." Tambahku.
"Hemm ya sudah kalo gitu mau mu. Papa cuma berfikir secara hak aja, kamu kan udah tujuh belas tahun, jadi sudah bisa ambil alih perusahaan secara utuh. Itu aja. Papa sih akan tetap pantau pastinya."
"Ya harus Pa. Masa Papa mau lepasin aku urusin sendiri. Udah tar aja lah Pa."
"Kamu lama gak kerumah mama ya Na? Dia telpon papa tanya kabar kamu. Memang gak chatting sama kamu?"
"Hape Na sedikit error Pa. Kaya nya batrenya yang drop." Jawabku.
"kenapa gak bilang? Mau ganti apa gimana?"
"Aku udah ngajakin beli Pa, tapi dia gak mau. Ya udah."
"Ya kayanya gak butuh butuh amat sih buat apa juga. Papa kalo mau nyari ya bisa hubungi mas Yoga kan. Lagian aku juga cuma dirumah sekolah. Udah."
"Ya gak gitu Na. Alat komunikasi tetap penting. Bentar lagi juga Yoga lulus. Udah nanti kamu beli lagi aja. Nanti papa transfer uangnya. Atau kirim tagihannya ke papa."
Jadilah akhir pekan ini, kami berempat jalan bareng lagi ke sebuah pusat perbelanjaan. Plaza gadget terbesar.
"Na, cari yang bisa di pake maksimal sekalian." Peringat mas Yoga.
"Hemm Mas aja yang pilihin deh."
Mas Yoga yang memilih tipe spek ponsel.
Setelah mendapatkan dan melakukan pembayaran, kami memilih main ke tempat permainan. Lumayam buat hiburan. Seru.
"Na, selalu tersenyum dan tertawa gini ya? Aku gak suka liat kamu nangis. Walau cuma sekali." Kata manis mas Attar saat kami bermain basket.
Sarah dan mas Yoga lebih suka bermain balap motor visual.
KAMU SEDANG MEMBACA
terima kasih nafas ku (selesai) ✅
Short Storykisah seorang gadis selalu bahagia, meski apapun yang ada di hadapannya. kedua orang tuanya yang berpisah tak membuatnya menjadi hancur dalam membayangkan masa depannya. berkali luka yang tergores karena kata cinta tak menjadikan bekas yang dapat te...
