Life must go on,
Tadi malam adalah tahlillan 7 hari meninggalnya Papa.
Dan siang ini pak Adam meminta aku, mas Yoga juga Mama untuk bertemu dirumah.
Sejak hari wisudaku lalu, dimana bertepatan dengan meninggalnya Papa, Mama memang belum pulang kerumahnya sendiri.
Mama masih menginap dirumah ini, menemani aku.
Aku sudah bisa melepaskan semua kesedihanku.
Aku sudah mengikhlaskan Papa kembali padaNya.
Aku bertekad akan melanjutkan harapan alm.Papa.
Aku juga sudah bisa bersikap kembali normal.
Maminya Sarah dan maminya mas Attar tetap datang kerumah, setiap hari. Pun papinya, membantu acara tahlilan setiap harinya.
Sarah sendiri kembali harus sibuk dengan jadwal kuliahnya. Dan aku memaklumi itu.
"Na sarapan dulu."
"Iya Ma." Balasku dan tak lama aku turun menuju meja makan, bersamaan dengan mas Yoga dari luar.
Aku menikmati sarapan, ketujuh tanpa Papa.
"Pak Adam majuin jam ketemu, katanya dia akan datang jam sepuluh."
"Iya, dia juga sudah telpon mama Yog."
Setelah sarapan, aku keluar rumah, duduk diteras.
Terasa tak ada, meski biasanya pun tak sering bersama.
Dalam sehari, hanya saat sarapanlah moment pasti bertemu Papa. Selain dari itu, tak dapat dipastikan bertemu dengannya.
Dan kini, kami benar benar di pastikan tak bertemu.
"Pagi mas Yoga, mba Hasna dan bu Rima." Salam pak Adam setelah dipersilakan masuk oleh pak Aspar
"Pagi Pak Adam." Balas kami
"Kita tunggu Pak Malik dan Pak Tian dulu, saya sudah menghubungi untuk meminta turut hadir. Karena bagaimanapun mereka ikut bertanda tangan sebagai saksi.
Kebetulan hari ini Jumat, aku rasa memang papinya Sarah bisa meluangkan jam kantornya.
Aku sebetulnya tidak berminat membahas tentang wasiat Papa. Namun aku juga tahu hukum pastinya.
Jadi ya, aku hormati hal itu. Terutama aku harus menghormati pesan Papa.
Aku kembali teringat malam itu, banyak lembaran kertas yang sudah pak Adam siapkan saat tiba di RS. Seolah memang semua sudah di persiapkan dengan baik olehnya, dan tentunya itu adalah permintaan Papa.
Sebagai mahasiswa jurusan hukum, aku tahu berbagai tipe klien memberikan kewenangan pada pengacara pribadi.
Dalam waktu hampir bersamaan papinya Sarah datang setelah papinya mas Attar bersalaman dengan kami semua.
Lalu mereka bergabung duduk bersama.
Pak Adam juga meminta pak Aspar dan simbok ikut bergabung diruang tamu.
Dan pak Adam mulai membacakan wasiat Papa.
Lebih dari 20 puluh lembar.
Dan aku ingat betul, semua itu ditanda tangani beberapa menit sebelum Papa menghembuskan nafas terakhirnya.
Kami menerima semua wasiat Papa dengan penuh syukur dan haru.
Mas Yoga menerima peralihan seluruh harta peninggalan alm.papanya yang selama ini masih dalam perwalian alm.papa
Ada sebuah rumah mewah yang terletak di blok sebelah kompleks kami.
Rumah yang dulu ditempati sebelum kecelakaan menimpa kedua orang tua mas Yoga.
Juga perusahaan beton yang memang sudah di kelola mas Yoga secara langsung.
Dan beberapa rekening dengan nilai yang sangat fantastis. Semua kembali pada hak mas Yoga.
Papa juga meninggalkan semua hartanya dan di alihkan sepenuhnya menjadi kuasaku.
Rumah yang kami tempati.
Perusahaan H corp yang meliputi perusahaan property serta perusahaan kontraktor yang sudah aku tahu.
Juga rekening tabungan yang bernilai jauh lebih fantastis dari hak mas Yoga.
Namun, ada juga catatan yang harus aku selesaikan. Yaitu memberikan untuk pak Aspar dan simbok inem, masing masing senilai 50 juta rupiah.
Dan juga, sepuluh persen saham perusahaan kontraktor untuk Mama.
Namun, Mama menyerahkan kembali saham pemberian alm.papa untukku.
KAMU SEDANG MEMBACA
terima kasih nafas ku (selesai) ✅
Contokisah seorang gadis selalu bahagia, meski apapun yang ada di hadapannya. kedua orang tuanya yang berpisah tak membuatnya menjadi hancur dalam membayangkan masa depannya. berkali luka yang tergores karena kata cinta tak menjadikan bekas yang dapat te...
