Masa putih abu abu,
Aku mendaftar di SMA yang sama dengan mas Yoga, juga mas Attar pastinya. SMA swasta ternama di kota ini.
Aku memiliki teman sejak hari pertama mos. Dia cantik dan tinggi juga hampir sama dengan tinggiku. Dan ternyata entah kebetulan dia juga tinggal di komplek dekat komplek tempat tinggalku.
Sarah namanya. Dan kami sama sama anak tunggal.
Klop deh. Kalau aku hobi menggambar, dia hobi menulis. Suka sekali menulis cerita.
"Sar, kamu tar pulang di jemput?"
"Iya Na, tapi supir papaku taunya aku pulang jam tiga. Tapi ternyata mos terakhir ini kita pulang jam sebelas." Keluhnya.
"Udah tar bareng aku aja. Kamu kirim pesan aja nanti kalo udah pulang."
"Emang kamu bawa motor sendiri Na?"
"Enggaklah, aku gak bisa naik motor malah. Aku kan bareng kakakku, anak kelas 3 ipa."
"Lhoh kata kamu kan kamu anak tunggal sama kaya aku?"
Sarah dan semua memang belum ada yang tahu jika mas Yoga adalah kakakku. Karena aku harus menghargai dia sebagai ketua pelaksana mos.
"Dia kakak sepupu aku Sar, tapi udah kaya kakakku sendiri."
"Ohhh gitu. Oke deh kalo gitu. Sekalian biar kamu ngerti rumah aku ya, tar gentian aku maen keumahmu Na."
"Siiip. Ya udah yuk, bentar lagi kumpul ke aula kan?"
"Yup ayolah."
Kami pun melangkah bersama menuju aula gedung sekolah kami ini.
Kami memang sudah menjadi banyak perhatian di masa mos ini. Karena kami selalu bersama. Bukan ke-pede-an, tapi kami emang cantik kok. Dengan postur tinggi pula.
"Hasna althafia p. " Suara kakel yang membaca nametag ku saat kami melintas.
"Amanda sarah wihhh sama sama aduhai." Komentar teman yang satunya lagi.
"Boleh nih." Ucap yang paling pinggir.
Dari kalung id yang mereka pake, aku rasa mereka anak OSIS juga.
Dan sampailah sesion terakhir mos yang ada acara dikerjain, buat surat buat kakel OSIS pendamping mos lawan jenis.
Seepirily....
Aku gak perlu khawatir.
"Na, kakak kamu namanya siapa? Aku bikin buat kakak kamu aja." Bisik Sarah
"Yoga, Dian Yoga. Itu lho, yang paling kanan Sar." Tanjukku dengan bibir yang aku monyong monyongkan.
"Allah....beneran itu Na kakak kamu???"
"Huussst jangan brisik. Push up mampus tar."
Sarah akhirnya beneran membuat surat untuk mas Yoga. Dan daripada tar di bilang rebutan sama teman, aku pilih bikin surat buat mas Attar aja. Sama aja kan, satpam aku juga.
Selesai semua surat siswa baru terkumpul.
Langsung diserahkan pada kakel yang bersangkutan peraturannya.
Jadilah aku senyum senyum pada mas Attar menyerahkan suratku. Sebetulnya mas Yoga terlihat sedikit melotot pas aku kasih surat ke mas Attar. Tapi dia seolah mengerti setelah Sarah yang di belakangku memberikan surat padanya. Karena mas Yoga sudah tahu dari awal mos aku sudah berteman dengan Sarah.
"Baiklah, kami para pendamping mos akan membuat laporan perhitungan surat yang di dapat setiap orang. Dan nanti akan diminta setiap pendamping untuk memilih satu surat untuk dibaca. Gimana adik adik, setuju ya?". Suara dari sang ketos yang bernama Firman.
Tepuk tangan meriah pun memenuhi aula.
Penghitungan pun selesai.
Kakel pendamping yang mendapat surat terbanyak adalah kak Cindy, lalu kedua mas Attar dan ketiga mas Yoga, dan kak Kirana keempat dan kelima kak Seto.
Ohhh kak Seto adalah salah satu dari yang menyebut namaku dari nametag ku tadi ternyata.
Dia tersenyum ke arah ku, berharap aku memberikan surat untuk dia kali ya...
Lucunya adalah kak Firman berada di posisi terakhir. Mungkin karena dia terlalu galak kali. Bukan, lebih tepatnya tegas sih sebetulnya.
KAMU SEDANG MEMBACA
terima kasih nafas ku (selesai) ✅
Contokisah seorang gadis selalu bahagia, meski apapun yang ada di hadapannya. kedua orang tuanya yang berpisah tak membuatnya menjadi hancur dalam membayangkan masa depannya. berkali luka yang tergores karena kata cinta tak menjadikan bekas yang dapat te...
