Jika waktunya tiba,
Tak terasa hampir tiga tahun sudah alm.papa meninggalkan aku.
Tadi malam, telah di adakan pengajian tahlilan seribu hari meninggalnya papa.
Dan hari ini akan ada pemasangan batu nisannya.
Batu nisannya pemberian dari Mama.
Atas permintaannya sebagai tanda cinta kata Mama.
Dan semalam juga seusai acara, aku mendapat banyak pertanyaan yang menagih janjiku bahwa aku akan menikah setelah seribu hari papa.
Mau tak mau, siap tak siap. Aku pun memang harus menepati ucapanku sendiri. Dan akhirnya aku jawab bahwa aku sudah siap menikah dengan mas Attar.
Mama dan maminya mas Attar pun lalu menyepakati akan mengadakan acara lamaran satu bulan yang akan datang. Tepatnya 10 juni.
Dan aku diminta untuk terima jadi saja, semua akan di persiapkan oleh Maminya mas Attar. Juga Mama.
Aku dan mas Attar hanya mendapat tugas untuk mencari dan memilih sendiri cincin pertunangan kami.
Aku tetap bekerja seperti biasanya. Begitupun mas Attar. Karyawan kantor belum ada yang mengetahui tentang rencana lamaran.
Kecuali mas Jaka yang pastinya tahu.
Aku jadi lebih sering berangkat dan pulang kantor bareng mas Attar. Pak Aspar jadi lebih banyak mengurus taman di rumah.
"Na, nanti pulang jalan yuk, sekalian liat cincin."
"Boleh banget Mas. Aku hari ini gak sibuk kok. Pertemuan sama PT. Nusa di cancel minggu depan."
"Kenapa? Ada masalah?"
"Enggak kok. Cuma manajernya ada acara dadakan. Hubungi aku langsung malah."
"Apa setelah makan siang aja kita jalan? Aku juga gak sibuk kok."
"Oke tar kabari aja."
Mas Attar selalu menurunkan aku di depan kantorku, sebelum dia sendiri parkir ke belakang.
"Bu Hasna, ada tawaran tanah satu hektar lebih. Daerah barat sih, gimana? Apa kira kira minat?" Ucap Rama yang berbarengan denganku masuk ruanganku.
"Tawaran dari siapa Pak Rama?"
"Dari pak Adrian yang dulu pernah ambil cluster itu lho Bu. Katanya dia kenal sama beberapa pemiliknya dan memang berniat menjual tanah tersebut. Katanya 8 sertifikat dengan nama berbeda Bu. Gimana?"
"Coba nanti saya pikirkan dulu dengan keluarga ya, nanti saya kasih kabar ke pak Rama. Oh ya yang mau jual homestay kemaren jadi gak?"
"Siang ini mas Tio dan saya akan bertemu dengan ownernya Bu. Kalo yang saya tangkap memang benar benar mau di jual itu."
"Ya sudah kalo sekiranya bonafit, ambil aja Pak. Nanti kabari saya gimana hasilnya. Setelah makan siang saya ada acara sepertinya gak balik kantor lagi."
"Siap Bu."
Begitulah keseharian H corp property yang aku jalani. Tawaran masuk juga mengisi ruang kami.
Banyak pihak yang ingin menjual aset namun lebih memilih mempercayakan pada kantor kami.
Aku lebih memilih membeli dan bukan menjadi perantara.
Sesuai janji tadi pagi, jam makan siang mas Attar menjemputku.
"Assalamualaikum Bu Hasna...."
"Waalaikumsalam Pak Attar. Jadi nih? Mas udah bawa mobil apa jalan kesini?"
"Udah itu parkir di depan kok. Mau jalan sekarang?"
"Bentar Mas, duduk dulu deh. Tadi pak Rama cerita ada tawaran tanah sehektar lebih daerah barat RR barat. Gimana menurutmu, ambil gak?"
KAMU SEDANG MEMBACA
terima kasih nafas ku (selesai) ✅
Historia Cortakisah seorang gadis selalu bahagia, meski apapun yang ada di hadapannya. kedua orang tuanya yang berpisah tak membuatnya menjadi hancur dalam membayangkan masa depannya. berkali luka yang tergores karena kata cinta tak menjadikan bekas yang dapat te...
