Selalu merindukan,
Semalam kami semua langsung tertidur seusai acara resepsi karena pastinya saja semua kelelahan.
Pagi ini semua terlihat lebih segar, terutama si pasangan pengantin baru. Yang sedari sarapan tadi tak pernah hilang senyuman.
"Tar, aku masih gak nyangka deh si Tian balik lagi. Kamu bisa bisanya gak cerita lagi." Percakapan mas Yoga saat kami semua berkumpul di ruang depan setelah sarapan tadi.
"Aku juga kaget Yog, aku baru tau pas ketemu di rumah sakit kemaren pas periksain Hasna itu. Aku sempet mikir kok kaya kenal nama dokternya. Ternyata bener Tian. Sarah tuh yang lebih tau pastinya kan rekan kerja." Jawab mas Attar.
Mas Yoga memang ambil cuti satu minggu, kantor di tangani mas Jaka.
Sore nanti kami akan mengantar Mama dan om Didi ke bandara untuk berangkat ke Swiss.
Sedang mas Yoga dan Sarah rencana akan bulan madu ke Bali besok selama tiga hari.
"Aku juga gak tau kali kalo dokter Astian itu temen kalian Mas, dia baru sadar pas aku kasih undangan. Dan kebetulan terus ketemu kalian itu Na. Kan baru sebulan lebih dia dinas disini katanya karena ada urus usaha keluarga gitu." Balas Sarah
"Berarti toko kain mamanya Tian masih ya Tar, kalo dia kesini ngurusin usaha keluarga kan setau aku usahanya toko kain itu."
"Iya kayanya, tapi papanya Tian kan yang punya restoran Padang ternama itu Yog. Dan itu dia yang tangani sekarang kemaren sempet crita dia."
"Terus gimana ceritanya Hasna hamil yang periksa Tian, spesialis kandungan dia Sar?"
"Enggak, dokter bedah umum kok. Gak tau deh kalo Hasna periksa gimana cerita ya." Terang Sarah
"Ya kan aku cuma mikir Hasna gak sehat karena asam lambung gitu kata dia ya udah aku daftar ke poli umum. Terus ketemu Tian itu, dia rujuklah ke poli kandungan dan ternyata bener perkiraan Tian, Hasna hamil."
"Lagian Na, bisa ya kamu dek hamil gak sadar. Untung gak kenapa napa."
"Ya aku mana ngerti sih Mas soal begitu,aku juga lupa kalo udah telat bulan." Jawab ku membela diri.
"Yang penting sekarang di jaga, ati ati." Nasehat mas Yoga yang selalu sayang padaku.
"Kalian berangkat kapan?" Tanya mas Attar
"Besok pagi Tar. Jumat pagi kami sampe sini lagi. Kamu masuk kantor kapan? Kalo Hasna masih lemes biar Jaka aja kalo emang gak ada yang urgent." Titah mas Yoga pada mas Attar
"Iya rencana aku juga mau dirumah aja dulu nemenin Hasna. Masa kalian doang yang holiday kita juga ya sayang meski di kamar doang." Mas Attar merangkulku tiba tiba.
"Eeetttt. Awas ya Mas, trimester pertama itu rawan jadi jangan sembarangan. Sabar tahan dulu. Apalagi Hasna lemes gitu." Tegur Sarah
"Siap Bu Dokter....tenang aja." Jawab mas Attar.
"Mama berangkat jam berapa Na?"
"Kalo gak salah pesawat jam setengah empat, ya jam dua setengah tiga nanti berangkat aja Mas." Jawabku pada mas Yoga.
Setelah cukup bercerita sambil menonton televisi, kami berempat kembali ke kamar. Istirahat sambil menunggu siang. Rencana setelah makan siang kami berangkat ke bandara mengantar Mama.
Para besan memang tidak ikut mengantar ke bandara karena semalam sudah berpamitan dan saling bermaafan dan mendoakan.
Dalam kamar, aku kembali menyalakan televisi. Sambil tiduran di kasur bersama mas Attar yang terlihat akan terlelap sungguhan.
Aku menyandar di ujung ranjang, sambil mengelus punggung mas Attar yang berbaring memeluk perutku.
KAMU SEDANG MEMBACA
terima kasih nafas ku (selesai) ✅
Kısa Hikayekisah seorang gadis selalu bahagia, meski apapun yang ada di hadapannya. kedua orang tuanya yang berpisah tak membuatnya menjadi hancur dalam membayangkan masa depannya. berkali luka yang tergores karena kata cinta tak menjadikan bekas yang dapat te...
