11

130 6 0
                                        

Belajar dalam bekerja sebagai ibadah,

Mas Attar menepati janjinya memenuhi permintaanku. Dia langsung aktif di kantor kostruksi H corp. Aku menempatkannya sebagai direktur pelaksana harian. Posisi tepat di bawah owner.
Mas Jaka sangat senang, mendapat partner mas Attar. Mas Jaka lebih banyak mengawasi jalannya keuangan memang, sebagai manager oprasional keuangan.

Aku sendiri tetap lebih banyak berada di kantor property H corp. Masih satu kawasan sebetulnya, bahkan dengan kantor mas Yoga. Khas beton industry.

Sarah masih sibuk sebagai mahasiswi kedokteran.
Mas Yoga dan Sarah tetap punya cara sendiri untuk tetap bisa ketemu dan jalan berdua meski jadwal koas Sarah sudah mulai padat.

Kami berempat juga sebisa mungkin tetap kumpul, meski hanya makan bersama di rumah.
Meski aku dan mas Attar bertemu setiap hari, namun kami hanya profesional tentang pekerjaan. Semua karyawan tahu, jika mas Attar adalah sosok pria yang memiliki hubungan dekat denganku.

Tak jarang memang pulang kantor aku bareng dengan mas Attar.

Maminya mas Attar tak jarang menyinggung tentang kelanjutan hubungan kami.
Tapi kami masih menanggapi dengan santai.
Kami masih ingin menikmati karir kami.

"Nanti lah Mi. Attar masih mulai belajar untuk bekerja kan. Na juga masih menikmati karirnya." Penjelasan mas Attar saat aku ikut makan malam di rumahnya.

"Gak masalah lagi. Kalian bisa tetep bekerja setelah nikah. Karena menurut mami sama papi akan jauh lebih baik kalian menikah dan sah. Halal. Daripada kalian pacaran seperti sekarang." Mami mas Attar memang selalu ingin aku segera menikah dengan mas Attar.

"Na masih muda banget Mami, baru 21 tahun. Sabarlah."
Aku tahu, mas Attar gak ingin memaksaku untuk menikah secepatnya.

"Tapi Attar, Hasna, pesan alm.papa kamu beliau menitipkan kamu untuk menjadi menantu papi secepatnya." Terang papinya mas Attar.

"Om, Tante, maafkan Na. Bukan Na menolak atau mengulur keinginan kalian sebagai orang tua. Tapi kalo boleh Na minta, beri waktu Na satu atau dua tahun. Agar Na bisa menangani kerjaan Na dulu dengan lancar." Pinta ku pada kedua orang tua mas Attar yang sudah aku anggap seperti orang tuaku.

"Baiklah kalo begitu. Padahal, kalian nikah sekarang pun, kalian akan tetap bisa belajar urus perusahaan dengan bersama. Papi juga akan selalu support kamu Na. Tapi papi hargai permintaanmu."

"Makasih Om. Na rasa satu tahun gak akan lama."

Sebetulnya aku tahu apa yang menjadi kekhawatiran orang tua mas Attar. Tapi aku masih bisa menjaga bahwa hubunganku dengan mas Attar tidak akan melewati aturan. Apalagi sedikit sedikit aku sudah mulai mengerti aturan dan ilmu agama.

Jadi meski kadang aku bepergian ke luar kota dengan mas Attar saat ada kontrak kerjasama, kami tetap menjaga interaksi kami.

Aku mulai pacaran sama mas Attar waktu aku masih SMA. Jika diluaran banyak sudah pasangan kekasih yang saling berciuman bahkan lebih. Tidak dengan aku dan mas Attar. Dia sangat menjaga aku. Dulu, kami hanya bergandengan saja. Namun itu sudah lama tak kami lakukan.
Terakhir aku tahu mas Attar menyentuh aku itu ketika aku pingsan setelah pemakaman papa.
Dan dia sempat meminta maaf akan hal itu. Aku mengerti, itu darurat. Dan mana mungkin mas Yoga mampu membopong tubuhku seorang diri, jika dia saja juga masih dalam keadaan lemah dan terpukul.

Aku sudah jarang pergi ke rumah Mama.
Karena memang sekarang, Didi juga sering menginap disana.
Aku hanya kadang mengirimkan hasil desain coretanku melalui email pada Mama.
Namun aku tetap berkomunikasi baik melalui ponsel dengannya. Mami juga mengerti kesibukanku mengurus perusahaanku.

terima kasih nafas ku     (selesai)  ✅Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang