huekkks.....huekkks...
Pagi sekali setelah solat subuh tadi entah sudah berapa kali aku keluar masuk toilet di kamarku.
Rasa mual yang luar biasa setelah lemas yang sudah dua hari lebih aku rasakan di tambah demam yang tiba tiba dini hari tadi membuatku menggigil.
Belum ada yang menyadari keadaanku, kecuali hanya suamiku yang sudah aku tenangkan dengan jawabanku bahwa aku hanya masuk angin dan pasti asam lambung naik.
"Na, nanti ke rumah sakit aja ya, jangan bantah. Udah mas mandi dulu. Kamu istirahat aja dulu, kalo gak kuat cuci muka gosok gigi aja." Kata panjang mas Attar kembali menuntunku kembali ke ranjang.
"Enggak Mas jorok kan, nanti aku mandi setelah Mas. Aku siapin baju Mas dulu." Meski memang terasa sangat lemas aku tetap ingat kewajibanku selalu menyiapkan baju suamiku.
"Gak usah udah nanti mas ambil sendiri aja. Kamu istirahata aja dulu."
Dengan patuh aku kembali merebahkan tubuhku dan mas Attar segera masuk toilet untuk mandi.
"Ini minum teh angetnya sayang, sebentar lagi kita langsung ke rumah sakit ya." Mas Attar menyiapkan secangkir teh hangat di meja saat aku baru keluar dari kamar mandi dan sudah berpakaian rapi.
"Gak usah ke dokter Mas, aku gak apa apa kok. Kan aku udah janji mau bantu siapin buat nikahan mas Yoga sama Sarah." Kilahku sambil menyesap teh hangat dengan potongan lemon buatan mas Attar.
"Nurut Na. Kalo kamu mau periksa terus sehat kamu bisa siapin semua dengan baik kan sayang?" Tegas namun lembut putus mas Attar.
Kami pun segera turun dan mendapati rumah masih sepi, mungkin mereka masih terlelap karena lelah. Waktu masih menunjukkan pukul 7.15
"Simbok, masak apa?"
"Manasin lauh aja Na. Mau sarapan sekarang?" Jawab wanita yang sudah merawatku sejak dulu.
"Gak usah mbok, kami mau keluar nanti kami sarapan di jalan saja. Kalo ada yang cari bilang saja kami pergi sebentar ya mbok." Sahut suamiku.
"Ya mas Attar. Tapi jangan lupa sarapan ya, nanti Nana kumat asam lambungnya."
"Tenang aja mbok. Ya udah kami pamit dulu, titip rumah." Pamit mas Attar dan kami lalu menuju mobil yang bahkan sepertinya belum sempat mas Attar panaskan itu.
Mas Attar membawa kemudinya menuju RS Internasional tempat Sarah kerja.
"Nanti kita sarapan di rumah sakit aja ya sayang, yang penting dapet nomer antrian daftar dokter dulu."
"Iya, aku ikut aja apa kata Mas." Jawabku lemah. Toh memang mau nolak juga gak mungkin bisa kan.
Aku berjalan dengan dekapan tangan mas Attar di bahuku menyusuri lorong rumah sakit menuju kantin rumah sakit setelah mendapatkan nomer antrian periksa dokter.
"Duduk sini aja ya, mau mas pesenin apa Na?"
"Soto aja Mas tapi nasinya pisah aja." Jawabku malas karena memang badanku terasa sangat lemas sekali.
"Oke siap. Air mineral aja minumnya ya?" Aku hanya mengangguk sebagai jawaban atas tawaran suamiku. Dan aku segara meletakkan kepalaku di meja kantin, seperti anak sekolah yang teramat malas mengikuti pelajarannya.
"Na, kalo kamu gak fit, mending cari orang buat bantu siapin nikahan Yoga deh." Suara mas Attar membuatku mengangkat kepala.
"Gak usah Mas. Sebenarnya semua udah beres kok, tinggal bayar catering aja. Yang lain udah beres kok. Cuma paling cek gedung aja terakhir pas setting dekorasi." Terangku.
KAMU SEDANG MEMBACA
terima kasih nafas ku (selesai) ✅
Cerita Pendekkisah seorang gadis selalu bahagia, meski apapun yang ada di hadapannya. kedua orang tuanya yang berpisah tak membuatnya menjadi hancur dalam membayangkan masa depannya. berkali luka yang tergores karena kata cinta tak menjadikan bekas yang dapat te...
