Alhamdulillah....
Setelah acara lamaran satu minggu yang lalu, mas Yoga memutuskan untuk tinggal di rumah lagi sementara. Sampai aku menikah katanya.
Persiapan pun sudah mulai di lakukan.
Dari cari gedung dan catering yang di bantu Mami.
Sedangkan Mama spesialis urusan seragam dan souvenir juga undangan.
Mas Attar lebih fokus pada urusan kantor karena pastinya aku tak bisa full urus kantor.
Dan memang aku berniat akan menyerahkan urusan kantor semua pada mas Attar, suamiku nanti. Aku akan lebih memilih di rumah atau sekedar melanjutkan hobi menggambarku saja.
Itu baru sekedar rencanaku saja.
"Na, kamu kantor gak nanti?"
"Kenapa emangnya Mas, kayanya iya. Siangan tapi."
"Ada tender mau aku masukin, tapi emang ambil materialnya dari aku semua ya. Hahahaha.... Aku udah bilang Attar juga, kata dia terserah bu boss gitu."
"Ya udah nanti kalo aku udah sampe kantor aku kabarin kamu Mas. Aku mau cek undangan dulu sama Mama soalnya."
Setelah sarapan mas Yoga pun langsung berangkat ke kantornya.
Sedangkan aku kembali ke kamar untuk bersiap melihat undangan bersama Mama.
Setelah lamaran lalu, mas Attar mengajarkan aku agar aku memanggil Didi dengan sebutan om lagi seperti dulu. Biar lebih sopan katanya.
Aku juga sudah mulai menyebut Mami Papi pada kedua calon mertuaku.
Juga dengan mas Attar ikut memanggil Mama pada Mamaku.
"Pagi mba Hasna. Semangat banget yang mau merried..." Sapa Lusi di depan butik.
"Pagi mba Lusi. Mama ada?"
"Ada lah Mba."
"Oke aku ke dalem dulu ya."
Aku pun lalu bergegas masuk ruangan Mama yang ada di lantai bawah.
Rumah sekaligus butik Mama ini memang tidak banyak ronovasi dari bentuk rumah asli. Hanya tembok depan saja yang dirubah menjadi kaca. Selebihnya tetap seperti rumah pada umumnya. Dengan 2 kamar di lantai bawah yang di jadikan ruangan kerja Mama yang ada kamar mandi dalam dan yang satu lagi untuk istirahat karyawan. Dengan kamar mandi di dekat dapur pantry.
Sedangkan lantai atas sama memiliki 3 kamar tidur lengkap dengan kamar mandi dalam. Dan ruang yang di fungsikan sebagai ruang makan oleh Mama.
Karena di rumah Mama ini fasilitas televisi ada di setiap kamar. Mama memang tipe orang yang lebih suka privasi tidak terganggu.
"Hai Ma...hai Om." Aku masuk ruang kerja Mama setelah mendapat ijin masuk saat mengetuk pintu.
"Halo Na." Aku bersalim lalu mencium pipi Mama.
"Sendiri aja Na?"
"Iya Om."
"Mau jalan sekarang apa nunggu siapa?"
"Aku sih gak nunggu siapa siapa Ma. Kalo Mama udah siap ya udah kita jalan sekarang aja. Om Didi ikut?"
"Enggak. Saya tunggu rumah aja. Kalian hati hati ya."
Aku pun meninggalkan ruangan itu sedang Mama pastinya masih ritual cipika cipiki lah ya.
Aku menyetir mobil sendiri bersama Mama di sebelah. Menuju tempat pemesanan undangan, kolega Mama juga.
Undangan yang sudah aku dan mas Attar deal via email beberapa hari lalu, sudah siap naik cetak. Dan aku hanya tinggal cek apakah ada kekurangan atau tidak. Dan semua sudah bagus. Siap naik cetak.
Aku dan Mama langsung ke toko souvenir juga. Memilih yang cocok keinginan ku. Karena kalau urusan seperti ini rasanya mas Attar pasti tidak ikut campur. Menyerahkan semua padaku.
KAMU SEDANG MEMBACA
terima kasih nafas ku (selesai) ✅
Short Storykisah seorang gadis selalu bahagia, meski apapun yang ada di hadapannya. kedua orang tuanya yang berpisah tak membuatnya menjadi hancur dalam membayangkan masa depannya. berkali luka yang tergores karena kata cinta tak menjadikan bekas yang dapat te...
