Bahagiaku, melihatnya bahagia
Pagi ini kami semua bersiap menuju rumah keluarga Sarah, dimana akad nikah mas Yoga dan Sarah di gelar pukul 8 pagi.
Dan resepsi akan di adakan di rumah ini sore harinya.
Acara mual dan muntah tak bisa terelakkan saat tiba tiba muncul lagi tadi hampir subuh. Namun bedanya aku tak terlalu merasa lemas. Seperti awal waktu lalu saat aku belum menyadari kehamilanku.
Setelah solat subuh tim MUA yang di datangkan Mama sudah bersiap mendandani kami sekeluarga.
Aku memilih untuk paling terakhir saja, mengingat aku masih sedikit bolak balik ke wastafel.
Mama dan Mami mertuaku juga Papi dan om Didi sudah rapi dan siap. Sembari menikmati sarapan seadanya sambil menunggu yang lain bersiap dan make up. Acara akad memang mengusung pakaian adat Jawa sedang acara resepsinya lebih ke kebaya modern dan tuxedo seragam warna silver.
"Sarapan dulu sayang." Suami ku terlihat sangat tampan dengan pakaian adat yang sudah rapih di badannya plus polesan make up tipis.
"Makasih suamiku Jawa banget kalo gini.... Takut ketuker nih malah sama yang nikah." Godaku sembari menerima segelas susu hamil dan roti yang sudah di olesi coklat.
"Masih laku emang?"
"Gayamu Mas. Inget, udah mau punya ekor juga gak usah tepe tepe keganjenan." Kesalku, niatnya menggoda aku sendiri yang emosi. Dan inilah aku.
"Hahaha, lhoh kan kamu sendiri yang bilang. Makanya jangan suka bilangin suami gitu, kalo jadi doa kan repot Na. Udah cepet dihabisin sarapanmu terus dandan. Itu udah semua, tinggal kamu aja sayang. Udah jam setengah tujuh nih."
"Emmhhh iya." Aku segera menghabiskan susu dan rotiku dan menuju kamar bawah tempat dandan.
"Weisss....siapa nih....kaya kenal." Ucapku saat melewati sang calon pengantin pria yang sudah siap itu dengan gagah mengenakan pakaian adat Jawa.
"Udah sana buruan dandan mba Ani udah beres tuh."
"Sante dong, udah gak sabar ya.... Sarapan belum, awas pingsan kan gak lucu."
"Yoga kan puasa Na." Ingat Mama.
"Ohhh iya ya...ya udah hafalin aja deh baek baek takut salah sebut. Hahaha...." Ejekku sembari berlalu masuk ke kamar yang digunakan untuk rias.
Pukul 7.20 kami siap menuju kediaman Sarah yang hanya butuh waktu sekitar sepuluh menitan saja.
Semua mengenakan pakaian adat Jawa.
Ada yang terlihat lucu, siapa lagi kalo bukan mba Ani si bumil.
Mas Attar dan Atala tak kalah gagah dari mas Yoga.
Dengan lantang mas Yoga mengucapkan ikrar ijab qabul yang menjadikan seorang Amanda Sarah resmi menjadi nyonya Dian Yoga. Sahabatku jadi kakak iparku. Aku sangat bahagia.
Senyum merekah terus terukir di wajah kedua mempelai, begitupun denganku.
Mama berdampingan dengan om Didi menjadi orang tua pengantin bersama kedua orang tua Sarah duduk di kursi pelaminan mendampingi mempelai menerima tamu setelah acara akad.
Di rumah Sarah juga mengadakan acara resepsi, untuk membagi tamu undangan agar sore nanti di rumah tidak terlalu kelebihan.
Banyak teman sekolah satu angkatan Sarah yang datang di resepsi di rumah Sarah ini. Dan mereka juga temanku. Kami seolah reuni. Karena memang saat pernikahanku dengan mas Attar, kami tak mengundang banyak teman sekolah. Jadi wajar ketika mereka kaget aku sudah menikah dengan mas Attar, bahkan aku sedang hamil muda.
Acara resepsi di rumah Sarah berakhir jam 12 siang. Sudah tak ada tamu lagi yang terlihat datang yang kebanyakan dari kolega papinya Sarah.
Mereka akan istirahat dulu di rumah kedua orang tua Sarah. Dan nanti sore akan langsung boyongan kerumahku pukul setengah empat sore sekaligus resepsi kedua.
Sementara kami keluarga pulang untuk bergantian menyiapkan dirumah. Meski tenda dan pelaminan sudah siap rapih sejak tadi subuh. Dan untuk hidangan sudah pasti catering.
KAMU SEDANG MEMBACA
terima kasih nafas ku (selesai) ✅
Short Storykisah seorang gadis selalu bahagia, meski apapun yang ada di hadapannya. kedua orang tuanya yang berpisah tak membuatnya menjadi hancur dalam membayangkan masa depannya. berkali luka yang tergores karena kata cinta tak menjadikan bekas yang dapat te...
