Tell me something, I need to know
Then take my breath and never let it go
If you just let me invade your space
I'll take the pleasure, take it with the pain
And if in the moment I bite my lip
Baby, in that moment, you'll know this
Is something bigger than us and beyond bliss
Give me a reason to believe it
Aku bersenandung lagu Love Me Harder-nya Ariana Grande ft The Weekend dalam perjalanan pulang kerja sore ini. Entah aku harus mengungkapkan dengan apa rasa bahagia ini, bahagia sejak kenal Reno. Bahkan kecupan di keningku semalam, itu tak bisa dilupakan, membuatku jadi senyam-senyum sendiri sepanjang melakukan pekerjaan seharian ini.
Setelah melewati gapura menuju kampung Kupan Rejo tempatku tinggal, kebahagiaan di hati ini terus bergejolak. Sepertinya kapan-kapan aku akan mengajaknya dinner dan ntraktir dia, rejekiku lagi bagus soalnya, apalagi mood bagus ini disebabkan oleh dia
Mendekati rumah kontrakanku, aku dibuat mesem sekaligus tak menyangka. Aku mematikan radio di mobilku karena mendapati Reno berdiri di samping gerbang rumahku, ia berdiri dengan gagahnya menyambutku, senyum tipis khas Reno tersungging indah.
Tuhannn, saya semakin bahagia!
⚜️⚜️⚜️
"Kamu nungguin aku sejak kapan, Ren?"
"Bengkel sudah sepi, Li, makanya saya tutup, dan saya ingin ketemu kamu."
Aku dan Reno akhirnya ngobrol di beranda rumah kontrakanku usai aku memasukkan mobil dan dia memarkirkan motornya. Pada meja di hadapan kami, aku menyuguhkan dua gelas minuman pulpy, juga setoples cemilan rumput laut kering.
"Ketemu aku?" tanyaku seraya memandangi penampilan Reno sore ini, ia mengenakan singlet biru dongker polos yang menampilkan lengan kekarnya yang penuh ukiran tato. Rambut Reno tampak basah dan tubuhnya menguarkan aroma sabun mandi yang segar. Habis mandi dia, batinku sambil tersenyum.
Kulihat Reno membalas tatapanku dan mengangguk. "Ya, soalnya untuk saat ini, hanya ketemu kamulah saya bisa bahagia."
Mendengar pituturnya aku tersipu. Sebenarnya sama, Ren, tapi tidak perlu seterus terang itu kan? Aku jadi malu-malu seneng tau, batinku seraya membuang pandangan ke arah taman kecil di depan rumah, taman berisi beberapa pot tanaman gelombang cinta dan antorium.
"Kalau sudah bahagia, terus apa Ren?"
Reno menyandarkan bahunya di sandaran bangku, ia seperti menarik napas dalam, menikmati udara segar sore ini. "Ingin terus seperti ini saya, Li."
Hening. Stop, Li, jangan mesam-mesem mulu, kesambet lo ntar, batinku seraya menyembunyikan wajah dari pandangan Reno.
"Gimana pekerjaan hari ini, Li?"
"Alhamdulillah lancar kok."
"Kok boleh pulang sore?"
"Udah gak ada yang dikerjakan, resto masih buka sih sampai jam 8 malam nanti, tapi semuanya bakal di-handle dengan baik oleh para pekerja."
Reno mengangguk-angguk.
"Ren."
"Hmmm."
"Makan bareng ya, aku pesenin ramen via Hi-Food. Mau?"
"Kamu laper ya?"
Aku mengangguk. "Hu'um, tapi maunya ditemenin makan."
"Baiklah, boleh."
"Suka ramen kan?"
"Kalau makannya sama kamu, suka kok, Li."
Aku menatap langit-langit beranda sambil tersenyum lagi, selanjutnya aku mengambil ponselku di tas dan membuka aplikasi Hi-Food.
KAMU SEDANG MEMBACA
A Bad Boy Called Reno ✓ (Selesai - Lengkap - Terbit)
RomanceLiora Anastasya adalah seorang wanita karir yang hidupnya serba tertata rapi dan perfeksionis. Itu juga termasuk pandangannya soal jodoh, bahkan Dimas yang seorang wakil direktur di perusahaan penerbangan saja ia tolak dengan berbagai alasan. Tapi b...
