Liora Anastasya adalah seorang wanita karir yang hidupnya serba tertata rapi dan perfeksionis. Itu juga termasuk pandangannya soal jodoh, bahkan Dimas yang seorang wakil direktur di perusahaan penerbangan saja ia tolak dengan berbagai alasan.
Tapi b...
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Aih, Babang Reno siap menemani waktu santaimu nih, selamat membaca ya, oh iya, buat yang mau ikut Pre Order novel Bang My Heart, yuk disegerakan, masih 4 hari lagi menuju close pre order!
⚜️⚜️⚜️
Ah nikmatnya, batinku sore ini ketika kulajukan mobilku menuju gapura yang memasuki kampung Kupang Rejo, kampung tempat kontrakanku berada.
Lega rasanya bisa menyelesaikan pekerjaan hari ini lebih awal dari biasanya, setelah memastikan daftar kebutuhan belanjaan sesuai dengan barang yang diantarkan ke D'Crunchy, juga mentransfer gaji para pekerja, aku yang merasa tidak punya kerjaan lagi setelahnya memutuskan pulang saja, terlebih Pak Bagio tadi nelvon dan lelaki itu merasa senang karena omzet bulan ini —selama kutangani— mengalami perkembangan yang bagus.
Ya udah deh, karena katanya beliau bakal kembali lagi dua minggu dari sekarang, finally aku jadi seneng bisa pulang lebih awal.
Mentari masih cukup menerik pada pukul 15:00 ini ketika aku melewati bengkel tempat Reno bekerja, namanya bengkel Anugerah. Loh kok tutup? batinku heran. Kulihat lelaki paruh baya bermotor Astrea yang tadi pagi kutemui, kini tengah menutup gerbang bengkel. Mungkin jam tutupnya memang jam-jam segini? batinku seraya menepikan mobilku.
Aku cuma penasaran dengan keberadaan Reno. "Misi Pak, sudah tutup ya? Atau tutup sementara?" tanyaku ketika mobilku berhenti dan aku membuka kaca samping depan.
Bapak-bapak itu menoleh. "Memang jam segini biasanya tutup, Bu, nanti buka lagi sehabis Ashar, saya mau sholat dulu ke masjid."
"Mas Renonya mana, Pak?"
"Uhuk!" Si Bapak batuk-batuk kecil. Loh, dia kok malah jadi mesem-mesem? "Mas Renonya juga udah ke masjid, Bu."
Aih, badboy berhati anak pesantren nih, batinku. Dih, kenapa meseman Bapak ini jadi nular ke gue ya? Aku jadi mesam-mesem sendiri mendengar Reno lagi ke masjid. Tapi ciuman pagi tadi? Itu ciuman badboy sungguhan!
"Oh," timpalku sambil mengangguk-angguk.
"Ada apa, Bu? Nanti saya sampaikan kalau ada pesen buat Mas Reno."
Aku menggeleng. "Nggak ada, Pak. Ya udah kalau gitu permisi, Pak."
"Monggo… Monggo, Bu," sahut si Bapak yang telah selesai mengunci gerbang dan mengantongi kunci itu ke saku jaketnya.
Aku pun lantas lanjut melajukan mobilku menuju gapura.
Mood gue hari ini kenapa sebagus ini ya? batinku ketika melewati ladang yang menuju kampung Kupang Rejo, wajah Reno menghiasi pikiran ini, lengkap dengan senyumnya yang manis.
Seratus meter setelah melewati gapura, aku mulai memasuki kampung yang kucintai ini, adzan Ashar berkumandang dengan lembut dari speaker masjid.