Tick!
Pengait helm di bawah daguku dipasangkan Reno dengan seksama. Sejak tau kalau hangout bersamanya sore ini akan menggunakan motor RX King-nya, alih-alih menanyakan lagi sebenarnya aku mau diajak kemana, aku justru hanya bisa pasrah mengikutinya.
Ketika akhirnya dia men-starter motornya dan aku memboncengnya, Reno yang mengenakan helm bogo warna hitam menoleh ke arahku sesaat. "Terima kasih, Li."
"Loh, untuk apa, Ren? Kan nemenin hangout-nya belum."
Reno tersenyum. "Makasih sudah mau saya ajak."
Aku mengangguk-angguk sambil tersenyum tipis. Reno pun lalu melajukan motornya meninggalkan kontrakanku, juga meninggalkan tatapan orang-orang di warung seberang rumah.
"Ren, aku juga mau ngucapin sesuatu."
"Apa, Li?"
"Nanti saja di tempat kita hangout."
Keheningan menyeruak saat motor yang kami tumpangi dilajukan Reno keluar dari gapura kampung Kupang Rejo. Dan saat kami sampai di jalan raya, aku baru sadar bahwa Reno mengarahkan spion kiri motornya ke arah wajahku dan sesekali ia melihatku.
"Ren, jangan lihat aku seperti itu," ucapku sedikit kencang karena khawatir Reno tak mendengarku.
"Seperti apa memang, Li?"
"Melihatku sambil tersenyum, nular tau."
"Kan namanya berbagi senyum, Li." Reno juga mengeraskan suaranya.
"Dan karena aku gak mau ketularan, aku mau liat ke arah jalanan aja."
Reno mesem, sementara aku mengalihkan pandangan, kali ini malah ke arah punggung tegapnya yang terbalut jaket kulit hitam. Tubuhnya menguarkan wewangian sederhana namun cukup aku sukai.
"Andai tadi kita bawa mobilku, Ren, aku mau ngasih kamu liat bahwa di arah kanan kita, nun jauh di sana, burung-burung sedang berterbangan kembali ke sarang. Dan itu indah banget. Tapi sekarang kamu jangan liat, aku takut kita jatuh."
"Saya tetap bisa melihatnya tanpa harus menoleh kok Li."
"Loh? Liat darimana coba?"
"Dari wajah kamu, nih saya liatin dari kaca spion."
Aku diam seketika, lalu menunduk karena tersipu.
"Keindahan pemandangan di langit senja itu jadi bertambah dua kali lipat kalau dilihat dari wajah kamu, Li."
Tuhannn, saya takut diabetesss!
"Ren."
"Iya."
"Jangan kenceng-kenceng nyetirnya ya."
"Sengaja, Li, supaya kamu memegang saya."
"Tanpa kecepatan pun sebenernya aku pengen pegangan Ren, bahkan melingkarkan tanganku."
"Memeluk saya? Kenapa tidak?"
[Author says: Takut readers pada guling-guling dan jumpalitan, Ren]
"Tapi ku sedang ingin memegang yang lain, Ren."
"Apa itu, Li?"
"A momment with you."
***
Obrolanku dengan Reno berhenti ketika kami sampai di depan sebuah mall bernama Plaza Ambarawa, dahiku seketika dibuat mengernyit. HangOut di tempat mewah seperti ini?
KAMU SEDANG MEMBACA
A Bad Boy Called Reno ✓ (Selesai - Lengkap - Terbit)
RomanceLiora Anastasya adalah seorang wanita karir yang hidupnya serba tertata rapi dan perfeksionis. Itu juga termasuk pandangannya soal jodoh, bahkan Dimas yang seorang wakil direktur di perusahaan penerbangan saja ia tolak dengan berbagai alasan. Tapi b...
