Bab 25 [Dinner di Kucingan?]

1.6K 142 13
                                        

  Satu hal penting yang kusuka dari Reno, dia tipe orang yang suka menepati janji. Malam ini, setelah aku melakukan serangkaian aktivitas seperti mandi, luluran, maskeran hingga akhirnya kelar pukul 18:30 dan aku telah mengenakan pakaian santai, Reno datang.

  Pertemuan kami di depan pintu gerbang rumah membuatku tertegun dengan penampilan Reno, sebenarnya dia masih seperti biasanya kalau datang, bawa motor, membawa dua helm, dan mengenakan jaket kulit hitam ketat, tapi ada yang berbeda malam ini.

  "Kamu potong rambut ya, Ren?" tanyaku saat mendapati rambut Reno kini tampak cepak mirip tentara.

  Reno tersenyum. "Yeah, memang nggak ngeh ya pas sore tadi kita bicara di video call?" Reno balas bertanya. Kupersilahkan dia masuk dulu, aku lantas menutup pintu gerbang kembali dan kami berjalan beriringan menuju teras rumah.

  "Ngeh, sih, Ren. Cuma kaget saja, kamu makin…"

  "Tampan?"

  Kami terkekeh begitu sampai di teras.

  "Dih pede amat ya, aku nggak mau bilang tampan padahal."

  "Memang saya makin apa, Li?" tanya Reno sambil menyisakan tawa kecilnya,.

  "Makin kucintai."

  Hening.

  Kami berdua lantas jadi berdiri berhadapan, begitu dekat. Tiba-tiba kurasakan Reno melingkarkan tangan kekarnya di pinggangku, membuat jantungku berdetak meriuh. Kami saling tatap, tatapan dalam. Karena tinggi badan kami memang beda -lumayan jauh, menatap Reno bagiku seperti menatap langit, harus mendongakkan wajah. Sementara dia yang menunduk.

  Di antara napas kami yang berembus cepat, tiba-tiba Reno menundukkan kepalanya lebih lagi, membuat mataku terpejam. Kurasakan wajahnya mendekati wajahku, hembusan napasnya menerpa hangat di keningku. Sesaat setelahnya kurasakan hidungnya menempel di hidungku.

  "Saya kangen kamu, Li," lirihnya mantap.

  Jantungku berdebar kencang, aku siap membuka mata. Namun belum sempat mataku terbuka, tiba-tiba…

  Slurp!

  Reno mengulum bibirku dengan hangat, membuatku kembali terpejam. Hangat, begitu dalam dan aku menikmatinya sesuai perasaan yang hadir di hati ini, aku juga merindukannya. Seperti rindu bertahan bertahun-tahun, ciuman Reno begitu menggebu namun dalam tempo lembut.

  Kupegang pipi Reno yang tercukur bersih, sementara dia mengetatkan pelukan dengan menarik pinggangku.

  Di antara ciuman, hembusan napas, aroma tubuh, dan betapa peluk-able tubuh Reno, aku mengetatkan pelukan, bahagia bukan main, serta bersyukur dalam hati karena Tuhan sudah baik banget menghadirkan pria sebaik Reno dalam hidupku. Tidak peduli penampilannya sangar, penuh tato dan hampir-hampir berandalan, aku mencintainya. Dialah satu-satunya pria yang membuatku nyaman dengan apapun yang dilakukannya, bersamanya seperti melihat masa depan, bahwa dialah jodohku kelak.

  Mengakhiri ciuman yang terjadi cukup lama ini, Reno mengecup keningku khidmat lalu mengatakan sesuatu sesuai janjinya.

  "Makan malam, yuk," ajaknya lembut.

  Aku yang masih memeluknya dan menempelkan kepala di dada bidangnya lantas mengangguk-angguk, sementara Reno mengusap-usap rambut panjangku yang sore tadi kumaskeri menggunakan masker rambut varian madu. Reno mengecup ubun-ubunku mesra.

***

  Aku dan Reno terkekeh, pilihan tempat makan kami akhirnya tertuju ke sebuah kucingan di sudut kota Ambarawa. Lokasinya berada dekat perumahan-perumahan elite, tapi suasananya nyaman dan tak terlalu ramai, tempatnya juga terang benderang dan lesehan, selain itu ibu-ibu tua yang jualan bersama anak laki-laki remajanya, mereka kenal Reno dan sangat ramah.

A Bad Boy Called Reno ✓ (Selesai - Lengkap - Terbit)Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang