MR ZEROUN - 27

1.5K 128 10
                                        

Happy reading..
Typo bertebaran..
Emil in mulmed 😙

....

Sudah sebulan Paula tinggal bersama Emil, dan kehidupannya mulai berjalan normal, ia merasa seperti memiliki istri saja.

Dan setiap malam mereka selalu tidur bertiga, dengan alasan Emil harus menjaga Paula juga Stela.

"Daddy! Bangun daddy!", suara Stela memenuhi indra pendengarannya meminta dirinya untuk bangun.

"Ada apa babygirl?", tanya Emil dengan suara serak dan mata masih terpejam.

"Daddy ayo bangun, mo..mommy tidak ada disini", ucap Stela dengan nada bergetar.

Dengan cepat Emil bangun dalam kondisi setengah telanjang dada ia turun ke bawah dan semua orang telah berkumpul.

"Dimana Paula?", tanya Emil pada semuanya.

"Kami pun tidak tau Em, aku hanya melihat pintu kamarmu terbuka dan pintu utama sudah terbuka", ucap Max.

"Oh astaga!, kita lapor polisi!", ucap Emil.

"Polisi tidak akan membantumu dalam waktu sekarang nak, kau harus menunggu dua kali dua puluh empat jam dahulu", ucap Arsen sang ayah.

"Daddy ayo kita cari mommy", ujar Stela dengan mata yang mulai berkaca-kaca.

"Iya babygirl, kita akan cari mommy", ucap Emil, pikirannya terus memusat pada Paula yang dari pagi sudah menghilang.

"Kenapa kalian berkumpul? Apa ada sesuatu yang terjadi?", tanya Paula yang baru datang dengan membawa sekantung plastik kecil.

Semua orang bernafas lega saat melihat Paula kembali.
Dengan cepat Emil menghampiri Paula dan mendekapnya dengan erat.

"Syukurlah, kau tidak apa-apa aku mencemaskanmu", ucap Emil, orang-orang yang melihatnya tersenyum dengan penuh arti.

"Mengapa kau cemas?", tanya Paula dengan polos.

"Kau menghilang Paula", gemas Emil.

"Aku tidak menghilang, aku hanya keluar sebentar", ucap Paula.

"Kau dari mana sayang?", tanya Briana.

"Aku dari kedai roti dan membeli roti foccacia tiba-tiba aku menginginkannya", ucap Paula sambil menunjukkan kantung plastik yang dibawanya.

"Kenapa kau tidak membangunkan? Aku akan mengantarmu, kau tidak boleh pergi kemana pun sendirian!", ucap Emil dengan tegas.

"Kau tidur sangat lelap makanya aku tidak membangunkan kau", ucap Paula.

"Sudah-sudah daripada berdebat seperti ini lebih baik kita sarapan semuanya sudah siap dimeja makan", ucap Rea melerai Emil dan Paula.

Semuanya menuju ruang makan, dan duduk dikursi masing-masing dengan Stela berada digendongan Azzura.

Emil memperhatikan Paula yang sedari tadi hanya menatap makanannya tanpa menyentuhnya.

"Kenapa kau tidak memakannya?", tanya Emil.

"Aku tidak mau punyaku", ucap Paula.

"Kau ingin punyaku? Baiklah akan aku suapi dirimu", ucap Emil.

"Tidak mau juga, aku ingin makan bersama Max dan Ed", ucap Paula.

Yang disebut namanya hanya meneguk ludahnya, bukan karena akan terganggu melainkan mereka akan mendapat amukan dari Emil, karena sifat possesivenya Emil akan keluar begitu saja.

"Tidak boleh!", tegas Emil, nah kan.

"Why?", tanya Paula dengan kesal.

"Aku tidak mau kau dekat dengan pria lain.", ucap Emil.

"Selalu tidak boleh! Sudahlah Aku ingin pergi ke taman", ucap Paula dengan ketus lalu meninggalkan ruang makan.

"Em, dia sedang mengandung wajar jika ia mengalami masa-masa mengidam", peringat Briana pada anak sulungnya.

"Tapi mom, kenapa harus Max dan Ed bukankah aku ada untuknya", ucap Emil.

"Kak, ngidam itu tidak bisa diprediksi itu kemauan janinnya", ucap Azzura yang menimpali.

Emil menghela napasnya, ada benarnya juga perkataan Briana dan Azzura, nmun ia tidak rela jika Paula harus berdekatan dengan pria lain.

"Daddy ayo kita jalan-jalan", ajak Stela, mengingat ini adalah hari sabtu.

"Baiklah kita akan pergi sore nanti kita akan ke Piazza Navona", ucap Emil.

"Rea ikut ya kak", ucap Rea dengan mata berbinar-binar.

"Aku juga ikut ya", ucap Azzura.

"Aku dan Ed juga ikut", ucap Max.

Emil hanya menunjukkan muka masamnya.
"Terserah kalian sajalah", ucap Emil.

.....

Sudah hampir dua jam Paula berada di taman, ia bangkit dari duduknya dan menuju ke kamar Emil yang selama ini menjadi tempat tidur dirinya, Stela dan Emil.

Ia berdiri tepat didepan cermin, dan membuka baju atasan yang hanya menyisakan bra dan tanktopnya saja.

Ia mengusap perut yang masih datar, senyum manis terbit dibibir Paula, ia mengambil alat pengukur dan melingkarkan pada perutnya, ukurannya sangat kecil, Paula penasaran bagaimana jika perutnya akan membesar, ia mengambil bantal ukuran sedang dan memasukkannya kedalam tanktopnya, ia menggelengkan kepalanya sambil tersenyum.

Tanpa Paula sadari Emil memperhatikannya dibalik pintu kamar mandi, Emil tersenyum melihat tingkah Paula.

"Sehat terus didalam sana ya nak", ucap Paula dengan lembut.

Emil memeluk Paula dari belakang.

"Apa yang ada dibalik ini?", tanya Emil dengan gemas.

"I..ini bukan apa-apa", Paula terkejut dengan kehadiran Emil langsung menyimpan bantal pada tempatnya.

Wajah Paula menahan malu terlihat dipipinya bewarna merah.

Emil terkekeh, ia terus memeluk Paula dan mengusap perut Paula dengan sayang.

"Aku tidak sabar menunggu anak kita lahir", ucap Emil.

"Maksudmu?", tanya Paula dengan heran.

"Meskipun dia bukan darah dagingku, aku sudah menganggapnya sebagai anakku, aku telah jatuh cinta padamu Paula, maaf aku bukan pria romantis, aku ingin melamarmu menjadi istriku, apa kau bersedia?", tanya Emil langsung to the point.

"A..aku..... ", Paula bingung untuk menjawab apa, satu sisi Richard masih tersimpan dihatinya, di sisi lain ia mulai merasa nyaman dengan Emil.

"Kau tidak perlu menjawabnya sekarang, kau fikirkan saja dulu dengan matang-matang, jika memang kau bersedia kita akan menggelar pernikahan setelah kau melahirkan", ucap Emil.

"Akan aku fikirkan", jawab Paula.

"Aku akan menunggu jawabanmu", balas Emil dengan mengecup kening Paula.

"Sore nanti kita akan pergi ke Piazza Navona jangan lupa untuk bersiap-siap", ucap Emil.

"Baiklah", ucap Paula dengan senyum.



.....

Tbc
Next chapter - otw
Don't forget..
Vote and comment..
ThankU....

BOOK 2 : MR ZEROUN [Lengkap]Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang