29. Tegas (epilog)

415 40 2
                                        

"Enggak papa, lo enggak harus jawab sekarang. Gue kasih waktu sampai besok untuk berpikir," Yaya tersenyum penuh arti. "Yang penting gue udah berhasil menyampaikan hal yang seharusnya gue sampaikan, gue juga udah lega."

Setelah itu tidak ada kata-kata lagi yang keluar dari bibir kami. Entah sudah tak mau bicara lagi, atau tidak ada yang perlu dibicarakan lagi. Keadaan yang semula sudah canggung, makin bertambah canggung kini. Apalagi kali ini diperburuk dengan pernyataan Yaya barusan.

"Eum, gue keluar dulu ya?" Gue menoleh kearah dia yang sepertinya ingin lari dari rasa canggung ini. Namun dengan cepat gue menahan tangannya.

"Gue suka sama lo Ya," akhirnya gue mulai jujur dengan perasaan gue sendiri. "Tapi itu dulu, bagi gue sekarang cuma ada Seok."

"Kalau gitu makasih, karena udah pernah balas perasaan gue." Dia menunduk lalu pergi begitu saja.

Selesai sampai disini, perjalanan panjang antara gue, dia, dan cinta. Satu tahun adalah waktu yang berharga. Meski menyakitkan, tapi gue senang karena pernah mengenal dia. Tunggu, kenapa suasananya jadi aneh begini? Memang kali enggak suka, harus jadi musuh juga? Gue berlari, mencari keberadaan Yaya yang ternyata belum jauh.

"Ya! Enggak suka, bukan berarti bermusuhan kan?" Dia menoleh dan tersenyum lebar. Kemudian dia menghampiri gue dan mengulurkan tangannya.

"Teman?" Gue menyambut hangat ukuran tangannya.

"Teman,"

"Woy! Itu cewek gue!" Gue menoleh dan mendapati sosok Seok dengan bucket bunganya, mendekat kearah kami. Lalu memutuskan pegangan tangan kami. Astaga posesif banget, si koh Seok ini. "Lo minta gue tonjok?"

"Eh, Seok!" Tahan gue saat kepalan tangannya sudah hampir mengenai wajah Yaya.

"Kamu belain dia? Jahat!" Mulai deh drama nya. Gue melenggang pergi, meninggalkan dua orang itu yang masih terjebak drama. "Kay! Tungguin!"

Selesai

**

Alhamdulillah, akhirnya karya pertama saya bisa sampai selesai. Padahal sebelumnya tidak pernah menyentuh chapter 10. Terimakasih yang sudah setia menunggu selama ini, selalu memberikan vote dan selalu mendukung saya. Sedih rasanya karena harus berpisah sampai disini.

Saya minta maaf atas sedikitnya jumlah word dalam chapter terakhir ini, karena banyak alasan yang sudah saya pertimbangkan. Pertama, saya lumayan sibuk untuk persiapan cerita terbaru saya. Kedua, cerita ini tidak pernah saya pikirkan endingnya, dalam artian, persiapan cerita ini memang tidak matang. Ketiga, saya sudah membuat chapter ini sampai tiga hari, namun pikiran saya buntu dan tidak tahu harus melanjutkan bagaimana lagi. Jadi saya kira, cukup berakhir seperti ini saja.

Saya juga minta maaf atas beberapa chapter awal yang mengandung kata-kata kotor, insyaallah di cerita baru saya, hal ini tidak akan terulang lagi. Sekali lagi saya mohon maaf dan sangat berterimakasih pada kalian. Sampai jumpa di cerita lainnya.

Prolog cerita selanjutnya, di update minggu depan ya.

With love
Greentearka ❤️

IPS 1 ✓Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang