Siapa yg deg2an baca judulnya hayoooo?
Udah siap dg Malam Pertama mereka? Uhuk!
* * *
Haris terpana ketika melihat Haiva masuk ke kamarnya dengan rambut agak basah. Ini bukan pertama kali baginya melihat Haiva seperti itu, tapi entah kenapa justru sekarang ia bisa terpesona dengan pemandangan sederhana seperti itu.
"Lho, katanya kacamata Bapak ketinggalan di rumah? Kok sekarang sudah pakai kacamata?" tanya Haiva sambil menutup pintu ruang rawat Haris. "Tadi Bapak bohong ya, buat nyuri kesempatan?"
Haris tertawa pelan, tidak selebar biasanya. Tapi binar matanya sudah kembali. Membuat lelaki itu tampak lebih sehat dibanding beberapa jam yang lalu.
"Pak Amir dan Pak Rudi baru saja kesini. Membawakan baju, perlengkapan mandi, kacamata dan handphone saya," jawab Haris.
"Trus sekarang dimana Pak Amir dan Pak Rudi?" tanya Haiva karena tidak menemukan sosok mereka di ruangan tersebut. Ia kemudian duduk di kursi di samping ranjang Haris.
Haiva tadi hanya pamit ke mushola dan mampir ke kantin sebentar. Kalau Pak Amir dan Pak Rudi datang, harusnya mereka masih disini. Kenapa sekarang sudah tidak kelihatan?
"Saya suruh pulang," kata Haris. Dia meletakkan ponsel yang tadi digenggamnya di sisi ranjangnya, lalu ia mengulurkan tangannya pada Haiva, dan menggenggam jemarinya. "Saya tidak mau diganggu."
Benar sih, tadi dokter juga bilang supaya Haris istirahat yang cukup dan tidak boleh dikunjungi banyak orang. Cukup keluarga saja yang menjaga. Tapi kalau melihat tatapan Haris saat mengatakan hal itu pada gadis itu, Haiva kok jadi tersipu? Barusan, Haris bilang tidak mau diganggu itu, apa ada maksud lain?
Untuk mengalihkan wajahnya yang sudah memanas, akhirnya Haiva mencari kesibukan lain. Ia mengambil ponsel Haris yang tadi diletakkan di sisi ranjangnya, lalu memasukkan ponsel itu ke laci nakas dengan tangan kirinya.
"Jangan main ponsel dulu, Pak. Nanti sakit kepala lagi," kata Haiva mengingatkan.
"Saya tidak main ponsel. Saya hanya mengirim pesan ke Vani, mengabari kondisi saya," jawab Haris, membela diri, "Dan berpesan supaya kru Medika tidak perlu menjenguk dulu."
"Iya, Pak. Tadi juga kata dokter, Bapak jangan dijenguk dulu. Besok setelah membaik, mungkin baru bisa dijenguk."
"Saya hanya mau berdua saja sama Iva."
Blush! Sontak wajah Haiva memerah, tak tanggung-tanggung. Kata-kata Haris barusan tiba-tiba saja membuat Haiva teringat pada ciuman Haris. Refleks, Haiva menarik tangannya dari genggaman Haris. Tapi Haris menahannya.
Haiva mencoba membuka genggaman Haris dengan tangan kirinya. Tapi Haris sama berkerasnya.
"Kalau Bapak sudah bisa menggombal, berarti sudah sehat. Harusnya Bapak sudah bisa makan!" kata Haiva kesal, setelah berkali-kali mencoba dan gagal. "Lepasin dulu tangan saya, Pak," pinta Haiva akhirnya.
"Kalau saya lepas, saya takut kehilangan Iva."
"Saya cuma mau ambil piring di nakas, astagfirullah!"
Haris tersenyum geli melihat Haiva yang kesal. Iapun melepaskan genggamannya dari tangan Haiva. Setelahnya Haiva mencampur nasi tim dengan kuah dan lauk yang disiapkan perawat di nakas, sambil misuh-misuh.
KAMU SEDANG MEMBACA
CERITA YANG TIDAK DIMULAI
RomanceWORK SERIES #1 Aku selalu berandai-andai. Andai aku terlahir lebih lambat, atau kau terlahir lebih cepat. Apa kita bisa bahagia? First published on May 2018 Final chapter published on August 2020 Reposted on December 2021
