39. SDS-SS

9.5K 1.3K 298
                                        

Hari ini yang hepi-hepi dulu aja lah ya. Besok baru berjuang lagi.

* * *

"Iva anak ke berapa?" tanya Haris sambil mengambil piring dari tangan Haiva dan meletakkannya di rak piring.

"Saya bungsu dari tiga bersaudara. Kakak pertama perempuan, yang kedua laki-laki."

Haiva membilas piring terakhir dan menyerahkan pada Haris. Lalu ia mematikan keran wastafel dan mengeringkan tangannya.

"Kalo Bapak? Anak tengah dari 3 bersaudara?" Haiva balik bertanya.

Haris meletakkan piring terakhir di rak piring dan mengeringkan tangannya juga.

"Betul. Iva sudah bertemu kakak dan adik saya."

Haiva membuka kulkas dan mengeluarkan sebuah kotak.

"Yei! Salad buahnya udah dingin. Yuk, Pak!" katanya girang ketika memeriksa isi kotak itu. "Oiya piring dan sendok kecil dimana ya?"

"Di lemari atas."

Haiva membuka lemari dapur di atas kepalanya, tapi rak tempat penyimpanan mangkok dan sendok kecil tidak terjangkau oleh badannya yang pendek.

Tapi belum sempat Haiva minta tolong, Haris sudah berdiri di balik punggungnya. Tangan kiri pria itu memegang pundaknya, sementara tangan kanannya dengan mudah meraih dua mangkok kecil dan sendok yang diinginkan Haiva.

Haiva menoleh dan menengadah, tepat ketika Haris menunduk dan tersenyum padanya.

Akhirnya, badan pendek gue ada gunanya juga. Jadi bisa merasakan adegan drama Korea kayak gini setelah menjomblo seperempat abad, pikir Haiva dalam hati, dengan wajah memerah.

Haris sendiri merasa wajah Haiva yang tiba-tiba memerah itu terlihat sangat menggemaskan. Haris tahu saat itu Haiva sedang senang dan malu. Gadis itu memang tidak pernah bisa menyembunyikan ekspresinya.

"Ekspresinya bisa biasa saja, tidak?" tanya Haris sambil menutup lemari dapur, lalu membawa kotak berisi salad buah serta mangkok dan sendok bersamanya. "Kalau terlalu menggemaskan seperti itu, nanti saya tergoda."

"Bapak!" pekik Haiva, malu, sambil refleks memukul lengan Haris.

Tapi yang dipukul bukannya kesakitan malah tertawa sambil berlalu dari dapur.

Hal-hal tidak banyak berubah setelah sore hari di coffee shop itu. Mereka bertukar pesan hanya setiap beberapa hari sekali, menelepon kadang hanya seminggu sekali, dan bertemu tiap beberap minggu sekali. Dunia tidak berhenti ketika orang jatuh cinta. Deadline pekerjaan tetap ada, tidak mengijinkan orang yang sedang jatuh cinta untuk mengambil cuti jatuh cinta.

Bedanya, sekarang mereka tidak melulu bertemu lalu wisata kuliner di mall atau restoran. Sudah dua kali ini Haris menjemput Haiva di kos, lalu mengajaknya ke rumahnya. Mereka memasak bersama, makan siang bersama, lalu menghabiskan waktu hingga sore hari bersama.

Berbeda dengan sebelumnya, dimana Haris selalu mengajak Hilbram serta, kali itu Haris mengajak Haiva ke rumahnya justru saat Hilbram tidak bisa kembali ke rumahnya dan stay di kos karena banyak tugas. Biasanya Haris juga meminta Pak Amir untuk libur dulu jika Haiva akan ke rumahnya.

Seperti kali itu mereka baru saja selesai makan siang bersama di rumah Haris dan sekarang Haris sedang menyalakan televisinya.

"TVN atau KBS dong Pak," Haiva mengajukan permintaan ketika duduk di sofa, di samping Haris.

"Korea lagi?"

Haris mengerang. Tapi toh ia menunjukkan dimana kedua channel tersebut, lalu menyerahkan remote tv kepada Haiva untuk memilih sendiri. Ketika sebelumnya Haiva datang ke rumah itu, ia juga meminta Haris memutar channel yang sama.

CERITA YANG TIDAK DIMULAICerita yang bikin terobses. Temukan sekarang