36. Status: Waiting For Assessment

9.6K 1.4K 347
                                        

Suatu produk obat yang telah melalui serangkaian proses pengembangan, scale-up, validasi, produksi dan analisis QC tetap memerlukan penilaian dan persetujuan dari Kepala Penjaminan Mutu sebelum produk tersebut dapat didistribusikan dan dijual ke pasaran. Hal itu dilakukan untuk menjamin bahwa obat yang didistribusikan telah memenuhi persyaratan mutu yang ditetapkan, bukan hanya dinilai produk akhirnya, tapi juga dinilai berdasarkan proses yang dilalui. Itu mengapa mutu produk farmasi dibangun di dalam produk, menjadi bagian tidak terpisahkan dalam produk tersebut.

Pada tahap penilaian, produk akan disimpan di gudang dengan ditempel label Quarantine. Waiting for Analysis/Assessment. Setelah semua proses yang dialami produk tersebut dinilai, barulah produk obat tersebut mendapat status Released/ Diluluskan.

Suatu hubungan juga demikian. Idealnya, kita bukan hanya semata mengejar status sebuah hubungan, tapi proses menuju status tersebut juga sama pentingnya.

Bayangkan, berapa banyak orang yang terburu-buru menerima orang yang sebenarnya sejak awal tidak cocok di hati, hanya supaya bisa cepat mendapat status released/menikah. Supaya tidak dibilang perawan tua, atau supaya tidak ditanya melulu tiap lebaran tiba.

Karena yang dipentingkan adalah status produk akhir, maka seringkali orang mengabaikan kualitas proses penilaian yang dijalani. Tahapan Waiting for Assessment tidak dilalui dengan baik. Nggak pakai lagi istikharah, cek background calon pasangan, cek keluarga calon pasangan. Yang penting nikah aja dulu, lepas dari status perawan/perjaka tua. Kalau belakangan ternyata nggak cocok, yaudah cerai aja.

Orangtua Haiva tidak ingin seperti itu. Meski mereka tidak berlatar-belakang pendidikan farmasi, sehingga mungkin tidak tahu dengan istilah penjaminan mutu produk, namun mereka sudah menerapkan proses penjaminan mutu ini pada calon pasangan anak-anaknya.

Ini bukan pengalaman pertama orangtua Haiva melakukan assesment calon menantu. Tapi baru kali ini mereka merasa terintimidasi saat melakukan penilaian tersebut, alih-alih mengintimidasi.

Haiva meremas tali tas selempangnya dengan terlalu kuat. Situasi seperti ini tidak pernah ada di dalam bayangannya.

Setiap perempuan barangkali membayangkan laki-laki yang dicintai melamar kepada orangtuanya, bersama dengan serombongan keluarga, disambut pula oleh keluarga besarnya, di rumahnya.

Bukan di restoran makanan siap saji... di stasiun kereta api.

"Saya sebenarnya mencintai Haiva, putri Bapak dan Ibu...."

Meski dengan wajah bingung karena didatangi bos anaknya tiba-tiba, lalu diajak ke salah satu restoran di stasiun tersebut, Haris berhasil mengajak orangtua Haiva untuk bicara.

Tapi pernyataan Haris tersebut bukan hanya membuat jantung Haiva mencelos, tapi juga membuat kedua orangtua Haiva syok.

Sang ibu mendelik kepada Haiva yang hanya menunduk. Karena tidak bisa mengintimidasi anaknya, ibu Haiva menoleh pada suaminya dan mendesaknya bicara.

Sang ayah, meski kaget, tidak melepaskan pandangannya dari lelaki yang duduk di hadapannya. Lelaki itu juga menatapnya balik, dengan tegas namun tidak arogan.

"Pak Haris... maaf. Sepertinya kami salah mendengar," kata ayah Haiva bingung. "Bapak adalah atasan Iva kan?"

"Betul, Pak," jawab Haris. Bahkan meski berpengalaman negosiasi dengan banyak pihak, kali ini Haris tetap saja gugup. "Saya atasan Haiva di kantornya yang sebelumnya. Sekarang saya bukan atasannya lagi. Dan Bapak tidak salah mendengar. Saya memang mencintai Haiva."

"Iva ndak pernah cerita apapun tentang hubungan dengan___"

"Iva ragu pada saya. Itu mengapa saya mencoba meyakinkan Bapak dan Ibu, supaya Iva tidak ragu lagi pada saya."

CERITA YANG TIDAK DIMULAICerita yang bikin terobses. Temukan sekarang