Orang bilang, salah satu kesedihan terbesar di dunia ini adalah melihat yang muda pergi mendahului yang tua.
* * *
"Jangan ninggalin saya duluan ya Pak. Bapak harus sehat."
Haris menjambak rambutnya dengan frustasi. Kata-kata Haiva beberapa minggu lalu, yang dikatakan gadis itu sambil memeluknya, terngiang-ngiang di kepalanya.
Kenapa justru sekarang Iva yang ingin meninggalkan saya lebih dulu?!
Sudah hampir 48 jam sejak Haiva keluar dari ruang ICU dan ditempatkan di kamar rawat, tapi gadis itu belum sadarkan diri juga. Dan hal itu membuat perasaan Haris tidak tenang.
Dari berita di televisi dan polisi, Haris mengetahui bahwa taksi yang ditumpangi Haiva menjadi salah satu mobil dari 1 truk, 1 bis, dan 5 mobil yang menjadi korban kecelakaan beruntun di jalur tol bandara. Supir taksi yang ditumpangi Haiva sudah sadar dua jam setelah keluar dari ruang ICU. Tapi Haiva sampai saat ini belum juga sadar. Barangkali karena Haiva duduk di kursi belakang dan tidak menggunakan sabuk pengaman sehingga ketika kecelakaan tersebut terjadi, posisi Haiva justru lebih berisiko dibanding supir taksi yang menggunakan sabuk pengaman.
Haris menelusuri luka panjang di bagian kanan wajah Haiva dan beberapa bekas pecahan kaca di wajah itu. Beruntung tidak ada pecahan kaca yang masuk dan merusak korneanya. Terdapat beberapa luka lain juga di sekujur tubuh Haiva, tapi memang yang paling kentara adalah luka di wajahnya.
Dokter bilang Haiva sudah melewati masa kritisnya. Semua tanda vitalnya sudah stabil. Tapi entah kenapa dia belum sadar juga.
"Jangan tinggalkan saya, Iva," Haris berbisik sambil menggenggam tangan gadis yang masih membisu itu. Ia lalu mendekatkan tangan itu ke wajahnya dan menciumnya dengan penuh kerinduan.
Saat Haris mendengar suara pintu dibuka, ia meletakkan kembali tangan Haiva di kasur lalu menoleh ke arah pintu. Ayah dan ibu Haiva tampak masuk ke ruang rawat itu dengan mengucap salam.
"Bapak, Ibu," Haris membalas salam tersebut dan menyambut dengan sopan sambil bangkit dari duduknya di kursi di sebelah ranjang Haiva. Ia bergeser, mempersilakan kedua orangtua Haiva untuk duduk di sisi ranjang.
"Pak Haris," ayah Haiva membalas sapaan Haris dengan anggukan sopan.
"Apa semalam Haiva ada kemajuan, Pak?" tanya ibu Haiva sambil meletakkan kantong plastik di nakas di sebelah ranjang Haiva.
"Belum, Bu," Haris menjawab dengan lemah.
Ibu Haiva mengangguk dengan wajah kecewa. Meski begitu tangannya tidak berhenti membuka kantong plastik yang dibawanya. Dari dalamnya, ia mengeluarkan sebuah kotak makan.
"Sarapan dulu, Pak. Saya masak ini buat Bapak," kata ibu Haiva sambil menyodorkan kotak makan berisi nasi, tumis buncis dan ayam goreng. Ibu Haiva juga membawa termos kecil berisi teh hangat.
"Ibu tidak perlu repot-repot begini," kata Haris, menerima kotak makan itu dengan sungkan. "Apa saat Bapak dan Ibu akan kesini tadi, Pak Amir belum masak?"
"Ndak apa-apa. Ndak repot sama sekali. Saya sendiri yang ingin masak," jawab Ibu Haiva.
"Kalau begitu, saya makan dulu ya, Bu, Pak," kata Haris. Kemudian ia melipir ke pojok ruangan, tempat sebuah sofa bed berada, sambil membawa kotak makan itu. "Terimakasih ya Bu."
KAMU SEDANG MEMBACA
CERITA YANG TIDAK DIMULAI
RomansaWORK SERIES #1 Aku selalu berandai-andai. Andai aku terlahir lebih lambat, atau kau terlahir lebih cepat. Apa kita bisa bahagia? First published on May 2018 Final chapter published on August 2020 Reposted on December 2021
