Siapa yg benci sama Pakde, tapi kangen nyariin, hayo?
Setelah "mbulet aja kayak sinetron indosari" (kata pembaca), akhirnya cerita ini sudah hampir berakhir nih Kakak2. Tinggal tersisa beberapa bab lagi. Nah, Kakak2 lebih suka ending cerita ini...
1. Sesuai kisah nyata?
atau
2. Sesuai imajinasi penulis?
(kagak taunya, imajinasi penulis sama aja ky kisah nyatanya. Wkwkwk. Lalu penulis ditimpuk emak2 se-wattpad)
.
.
.
* * *
Pipi Bakpao,
Apa kabar? Sudah berapa hari kamu pergi? Waktu rasanya berhenti sejak kamu meninggalkan saya. Apa perasaanmu lebih baik setelah meninggalkan saya?
Karena perasaan saya sama sekali tidak baik-baik saja.
Andai saya bisa mengirimkan surat ini kepadamu, saya ingin mengutarakan banyak hal, meski saya tidak tahu harus mulai darimana. Mungkin lebih baik saya mulai dengan permintaan maaf.
Maaf karena selama ini saya selalu menyakitimu.
Pipi bakpao,
Awalnya saya tidak pernah benar-benar percaya padamu. Bukan karena saya tidak mau percaya. Saya hanya terlalu takut untuk percaya. Saya tidak pernah siap menerima ketulusanmu, karena menurut saya semuanya tidak masuk akal. Bagaimana mungkin gadis seusiamu, dengan masa depan yang masih panjang, tulus menyayangi saya, padahal kamu bisa mendapatkan yang lebih baik daripada saya. Saya pikir kamu hanya mengagumi saya, seperti perempuan lain yang tertarik pada saya. Saya terlalu takut salah mengartikan ketulusanmu, akibat pengalaman buruk saya di masa lalu.
Tapi akhirnya saya tidak bisa lagi menolak mempercayai ketulusanmu saat saya membuka mata di rumah sakit dan orang yang pertama kali saya lihat adalah kamu. Saat itu saya memutuskan untuk menyambut ketulusan dan perasaanmu.
Pipi Bakpao,
Kamu bilang bahwa laki-laki mencintai dimulai dengan 100% sehingga seiring waktu cinta itu hanya akan menetap atau berkurang. Teori dari mana itu? Sebab yang saya rasakan adalah saya makin sayang kamu dari hari ke hari.
Kamu barangkali berpikir rasa cintamu pada saya lebih besar daripada rasa cinta saya padamu. Barangkali itu mengapa kamu selalu merasa saya masih mencintai Hana. Padahal, jika memang besarnya cinta diukur dari besarnya rasa cemburu, barangkali rasa cemburu saya terhadap kamu dan laki-laki di sekitar kamu lebih besar dibanding rasa cemburumu terhadap Hana. Hanya saja saya sudah terlatih selama bertahun-tahun untuk menutupi perasaan saya yang sebenarnya.
Barangkali kamu tidak sadar, tapi saat kamu bertemu laki-laki yang dijodohkan ibumu padamu, saya ada di sana. Saat melihat kamu ngobrol santai dan tertawa bersamanya, saat itulah saya sadar bahwa saya terlalu mencintai kamu dan takut kehilangan kamu.
Saya cemburu setengah mati. Tapi saya tidak bisa melakukan apa-apa, karena kalau saya gegabah dan bermasalah dengan lelaki itu, bukankah hanya akan memperburuk citra saya di mata ibumu? Jadi yang bisa saya lakukan hanya percaya padamu. Percaya bahwa kamu tidak akan meninggalkan saya karena lelaki itu.
Andai kamu tahu seberapa besar saya mencintai kamu, dan seberapa besar ketakutan saya akan kehilangan kamu. Maaf, karena saya tidak pandai menunjukkannya dengan jelas. Saya pikir, kalau kamu melihat kesungguhan saya mengakrabkanmu dengan keluarga saya, dan merencanakan bertemu dengan orangtuamu, kamu akan tahu seberapa serius saya terhadap hubungan kita. Tapi ternyata, bagimu, itu saja tidak cukup.
KAMU SEDANG MEMBACA
CERITA YANG TIDAK DIMULAI
RomansaWORK SERIES #1 Aku selalu berandai-andai. Andai aku terlahir lebih lambat, atau kau terlahir lebih cepat. Apa kita bisa bahagia? First published on May 2018 Final chapter published on August 2020 Reposted on December 2021
