Haiva memandang bayangannya di cermin dengan gugup. Gadis di cermin, dengan dress hijau mint selutut itu, balik memandangnya dengan tatapan khawatir. Apakah penampilannya sudah cukup baik? Apakah penampilannya tidak berlebihan?
Siang itu dia akan makan siang dengan Haris, jadi dia ingin tampil mengesankan di depan pria itu. Tapi karena itu bukan Malam Minggu, jadi dia tidak boleh kelihatan berlebihan. Antara ingin terlihat mengesankan, tapi tidak ingin berlebihan, Haiva sudah mematut diri, mengganti-ganti pakaian, dan apply-hapus make up beberapa kali selama satu jam itu. Hingga akhirnya Haiva merasa cukup dengan dress hijau mint selutut dan make-up tipis di wajahnya.
Haiva tidak pernah seperti itu, memakai dress dan make-up, kecuali saat kondangan. Sehari-hari, Haiva biasanya menggunakan kemeja dan celana panjang ke kantor, atau kaos dan celana jeans saat jalan-jalan. Tapi karena ini hari istimewa, ia ingin tampil layak di depan Haris.
Malam sebelumnya, setelah Haiva tidak sengaja menolak telepon Haris, untungnya Haris menelepon kembali. Suaranya tetap setenang yang selalu diingat Haiva saat berkata, "Baru satu bulan pindah kerja, Iva sudah lupa ulang tahun saya?"
Lalu tanpa menunggu penjelasan Haiva yang masih shock dan bingung bagaimana harus bersikap, Haris melanjutkan, "Saya mau coba restoran baru. Besok saya jemput jam 10 pagi, bagaimana?"
Demi menutupi kegugupannya, Haiva menggoda, "Mau traktiran ulang tahun ya Pak? Hehehe."
"Saya baik kan? Meski Iva belum mengucapkan selamat ulang tahun, saya sudah mengundang untuk traktiran." Kesombongannya sungguh khas si bos besar.
Haiva tertawa. "Selamat ulang tahun ya Pak. Tapi saya belum beli apa-apa buat kado Bapak."
"Tidak perlu kado. Saya bukan ulang tahun ke-17."
Saat itu Haiva merasa diingatkan kembali dengan perbedaan usia mereka. Dan rasanya menyedihkan.
"Kosan Iva masih yang kemarin, atau Iva sudah pindah?" tanya Haris.
"Masih sama, Pak. Saya nggak pindah."
"Oke. Kalau gitu, sampai jumpa besok pagi ya," kata Haris sebelum menutup teleponnya.
Hanya begitu saja. Haris bersikap sangat normal. Hanya meneleponnya singkat, seperti biasa. Tanpa sedikitpun menyinggung tentang insiden malam itu. Tapi justru itulah yang membuat Haiva resah semalaman.
Dia bingung bagaimana nanti harus bersikap di hadapan Haris. Apakah dia harus bersikap biasa saja, seolah-olah dia tidak pernah mengungkapkan perasaannya pada lelaki itu? Atau justru menunjukkan bahwa dia serius dengan pernyataan cintanya?
Tapi jika dia menunjukkan keseriusannya, apakah nanti lelaki itu akan justru merasa terganggu dan menjauhinya?
Pikiran-pikiran semacam itu terus saja berputar di kepala Haiva sampai dia mendengar ponselnya berdering. Haris memberitahu bahwa mobilnya sudah berada di depan kos Haiva, dan meminta gadis itu segera keluar.
Dengan detak jantung tidak beraturan, Haiva memastikan penampilannya untuk terakhir kali di cermin. Lalu ia menyambar tas selempang dan memakai flat shoes-nya, dan segera berlari keluar.
Saat membuka pagar kos, Haiva melihat Haris sudah menurunkan jendela mobilnya di sisi kursi pengemudi.
"Pagi, Pak!" Haiva menyapa ketika telah sampai di samping mobil Haris.
KAMU SEDANG MEMBACA
CERITA YANG TIDAK DIMULAI
RomansWORK SERIES #1 Aku selalu berandai-andai. Andai aku terlahir lebih lambat, atau kau terlahir lebih cepat. Apa kita bisa bahagia? First published on May 2018 Final chapter published on August 2020 Reposted on December 2021
