Ada kalanya Tuhan memberikan ujian kepada manusia supaya kita sadar kita ini orang seperti apa? Apakah kita adalah orang yang hanya berdoa di saat hidupnya sulit, atau orang yang selalu ingat pada Tuhan di saat baik dan buruk. Ujian juga membedakan manusia, siapa yang mengambil hikmah, tetap berprasangka baik pada Tuhan dan tetap semangat menjalani hidup, atau siapa yang menyerah lalu justru sibuk memprotes Tuhan.
Seperti halnya seorang penulis. Kadang menuliskan ending yang tidak sesuai dengan harapan pembaca untuk tahu, siapa saja pembaca yang tetap setia pada cerita tersebut dan bisa mengambil hikmahnya, bagaimanapun akhir ceritanya.
Seringkali, ujian dari Tuhan juga membantu kita untuk mengetahui siapa saja orang yang tetap bersama kita, meski dalam kondisi terburuk kita. Bagi Haiva, itulah hikmah dari kemalangan yang dialaminya setahun lalu.
Akibat kecelakaan yang menyebabkan bekas luka di wajahnya dan cedera di kakinya, ibu Raka jadi lebih mudah 'melepaskan' dirinya. Ketika Raka mengatakan bahwa dia tertarik pada perempuan lain, ibu Raka tidak terlalu keras menolaknya. Beliau hanya khawatir dengan hubungan yang sudah dibangun dengan keluarga Haiva. Tapi saat Raka meminta maaf pada keluarga Haiva karena dia tidak bisa menyayangi lebih dari seorang adik, orangtua Haiva menerimanya dengan lapang dada. Barangkali karena orangtua Haiva juga 'tahu diri' dengan kondisi puterinya yang belum tentu bisa diterima semua lelaki.
Haiva sendiri tidak merasa sedih atau tersinggung dengan sikap Raka yang membatalkan rencana perjodohan mereka. Perasaan Haiva pada Raka juga tidak bisa tumbuh lebih dalam dibanding perasaan sebagai sahabat. Secara pribadi, Haiva mensyukuri kondisi cacatnya saat itu. Andai ia tidak cacat, barangkali ibu Raka dan ibunya sendiri akan berkeras memaksakan perjodohan meski Haiva dan Raka sendiri tidak saling mencintai.
"Kita sudah sampai," kata lelaki yang duduk di kursi pengemudi, sambil menoleh pada Haiva, membuat Haiva tersadar dari lamunannya.
Mobil yang ditumpanginya memang telah berhenti di halaman parkir sebuah gedung pernikahan.
Haiva mengangguk pada si pengemudi, lalu membuka seat beltnya.
"Langsung masuk? Atau mau dandan lagi?" tanya si pengemudi. Lelaki itu mengamati ekspresi wajah Haiva dan lega karena gadis itu sudah tidak panik lagi.
Dulu, saat baru mengalami kecelakaan, Haiva selalu tegang tiap naik mobil, karena trauma dengan kecelakaan yang menimpanya. Tapi kini kelihatannya gadis itu sudah bisa naik mobil dengan nyaman.
"Nggak usah dandan lagi. Saya mah udah cantik," jawab Haiva percaya diri.
Selama satu tahun sejak kecelakaan, Haiva bukan hanya menjalani fisioterapi untuk memulihkan kaki kanannya. Ia juga menjalani konsultasi dengan seorang psikolog. Ia tidak gila, tapi dia tahu bahwa dia butuh bantuan psikolog untuk mengatasi traumanya setiap naik mobil, juga mengatasi insekuritas dan inferioritasnya. Dia pribadi sudah tidak tahan dengan perasaannya sendiri, tapi dia tidak bisa serta merta mengubahnya.
Sekarang pun, saat bertemu orang yang lebih hebat daripada dirinya, terkadang ia masih merasa rendah diri. Tapi setiap kali perasaan itu muncul, ia sudah mulai bisa mensugesti dirinya bahwa ada hal-hal lain dari dirinya yang unggul dan menarik. Ia fokus pada kelebihan dari orang yang membuatnya rendah diri, lalu ia akan mengeksplorasi kelebihan dirinya sendiri yang bisa melampaui keunggulan orang hebat tersebut.
Itu mengapa kini ia tidak terlalu mengkhawatirkan bekas luka di kanan wajahnya lagi. Ia sudah belajar memakai concealer dan make-up yang menyamarkan, juga menata rambutnya sedemikian sehingga orang tidak fokus pada bagian kanan wajahnya. Dan ia cukup percaya diri dengan penampilannya kini.
KAMU SEDANG MEMBACA
CERITA YANG TIDAK DIMULAI
Любовные романыWORK SERIES #1 Aku selalu berandai-andai. Andai aku terlahir lebih lambat, atau kau terlahir lebih cepat. Apa kita bisa bahagia? First published on May 2018 Final chapter published on August 2020 Reposted on December 2021
