38. Coffee talk (2)

10.2K 1.2K 398
                                        

"Saya... minta maaf, Pak."

Haiva membungkuk pada Haris. Lalu bangkit dari duduknya sambil membawa gelas caramel machiatonya yang masih berisi setengah gelas. Tapi sebelum Haiva melangkah, Haris berhasil menahan tangannya.

"Jangan pergi sekarang," kata Haris, menengadah menatap Haiva yang berdiri di sisinya. "Saya akan menerima keputusan Ivakalau itu yang Iva mau. Tapi setidaknya jangan meninggalkan saya sendiri di sini. Hot chocolate dan cake saya belum habis."

Haiva sempat melongo sesaat dan mendengus mendengar alasan mengada-ada tersebut. Tapi mata Haris yang menatapnya dengan sedih membuatnya merasa iba, sehingga ia akhirnya setuju untuk kembali duduk di kursinya lagi.

Haris mengambil gelas hot chocolatenya yang sudah tidak terlalu hot lagi. Lalu menyesapnya sambil mengamati gadis yang duduk di hadapannya, yang sedang sembunyi-sembunyi mengeringkan air di sudut matanya.

"Apa kira-kira ada sesuatu yang bisa saya katakan yang bisa membuat Iva berubah pikiran?" tanya Haris hati-hati.

"Nggak ada, Pak," jawab Haiva singkat.

"Kalau gitu, bisakah setidaknya menjawab pertanyaan saya? Toh kita sudah....putus, kan?"

Haiva menghela nafas, lelah dan sedih. Mendengar kata putus dari orang yang kita sayangi, ternyata semenyakitkan itu. Ngobrol sama mantan itu juga berat, Bung, apalagi kalau sebenarnya kita masih sayang tapi terpaksa putus.  "Tanya apa, Pak?"

"Apa kakak saya bicara sesuatu pada Iva?"

"___Nggak, Pak."

Entah karena belum banyak pengalaman berbohong, atau ekspresi Haiva yang bagai lembaran buku yang terbuka, atau karena Haris memang sudah berpengalaman membaca perubahan ekspresi mikro, Haris segera sadar bahwa Haiva terganggu dengan pertanyaannya. Hal itu mengindikasikan bahwa sikap aneh Haiva barangkali memang ada hubungannya dengan penolakan Halida.

Sejak mendengar cerita Hilbram bahwa Halida menginterogasi Hilbram dan menyatakan ketidaksukaannya pada Haiva di koridor RS sesaat setelah Haiva pulang, Haris sudah khawatir. Jangan-jangan Haiva mendengar percakapan mereka. Atau bisa jadi, Halida langsung menemui Haiva dan dengan tegas melarangnya mendekati Haris. Dan melihat sikap Haiva hari ini, Haris yakin satu dari kedua kemungkinan itu sudah terjadi.

"Apa kakak saya minta Iva menjauhi saya?"

"Nggak, Pak."

"Apa kakak saya mengatakan sesuatu yang menyakiti Iva?"

"Jadi memang benar Bu Halida nggak suka sama saya kan?"

"Jadi memang benar ini karena kakak saya kan?"

Haiva tidak menjawab. Dia hanya meminum caramel machiatonya lagi.

"Haiva berpura-pura tidak tulus pada saya, itu karena kakak saya?" tanya Haris lagi.

"Saya tuluspun, nggak ada yang percaya sama saya, Pak. Mending saya ngaku aja bahwa saya matre kan. Itu malah lebih bisa dipercaya kan?"

Jawaban itu mengonfirmasi kecurigaan Haris. Entah bagaimana caranya, apakah Halida menemui Haiva langsung, atau Haiva tidak sengaja mendengar Halida mengatakan hal buruk itu, nyatanya Haiva bersikap seperti itu karena kakaknya.

CERITA YANG TIDAK DIMULAICerita yang bikin terobses. Temukan sekarang