"Kita bertemu jodoh kita di usia enam belas tahun, tapi kita tidak sadar bahwa kita telah bertemu dengannya."
Sepenggal kalimat itu sangat mempengaruhi hidup seorang gadis. Untuk membuktikannya, ia mencatat semua nama laki-laki yang ditemuinya saat...
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
💫💫💫
Setelah berkunjung ke rumah sakit, seperti yang dirancanakan sebelumnya mereka pergi ke rumah Lauren. Saat ini mereka sedang duduk di depan rumah Lauren untuk menunggu para anggota perkumpulan datang.
Perkumpulan ini diketuai oleh Lauren. Kalila juga bingung darimana asal bakat maling milik Lauren itu. Padahal kedua orang tua Lauren sangat baik.
"Lama banget kalian." gerutu Lauren saat ada lima anak datang. Mereka sepertinya lebih muda dari Kalila.
"Cuma kalian?" mereka mengangguk.
"Payah, pada sibuk." ucap salah satu.
"Kenalin, ini temen gue. Itu Kalila, itu Juli, itu Julian." Lauren menunjuk satu-persatu dari mereka.
"Sasaran kita gimana?"
"Lo tau kan di deket pertigaan jagung bakar, di deket sana ada pohon mangga yang lagi berbuah banyak di depan rumah warna merah." Lauren mencoba mengingat gambaran tentang pertigaan dengan penjual jagung bakar di dekatnya lalu bayangan tentang pohon mangga itu muncul.
"Oke, kita kesana sekarang."
"Terus kita ngapain?" tanya Juli.
"Kalian berlima ditambah Julian bagian ambil dan ngumpulin. Kita yang cewek bagian jaga." mereka mengangguk dan berjalan bersama seperti sekelompok anak yang hendak tawuran.
"Andai Vero ikutan." Juli menghela napas.
"Kalau Vero ikutan, kalian gak akan kebagian mangga. Dia kan maruk." ujar Lauren.
"Dikira lo enggak?" jitakan mulus mendarat di jidat Kalila.
Akhirnya mereka sampai di pertigaan yang dimaksud. Ada penjual jagung bakar yang hampir membuat Kalila oleng dan membeli jagung bakar.
Saatnya menjalankan misi. Di tempat itu ada tiga pohon mangga. Satu orang memanjat di setiap pohon dan yang satunya bertugas mengumpulkan mangga.
"La, lo jaga di deket penjual jagung."
"Kok gue?"
"Udah jangan banyak bacot, sana cepetan." Lauren mendorong punggung Kalila.
Kalila berjalan dengan malas-malasan dan duduk di samping penjual jagung. Ia menatap ke pohon mangga dan melihat betapa lihainya mereka mengambil mangga. Meskipun Julian sempat jatuh dari atas pohon. Tak apa, itu hanya pohon. Bukan tower listrik.