"Kakak ipar!"
Kim Jimin, adik ipar Jongin, berseru menyambut kedatangannya bersama sang Omega terikat. Adik iparnya itu bahkan berhamburan memeluk Omeganya.
"Kau baik-baik saja?"
Senyum simpul dan anggukan kepala menjadi jawaban Omeganya pada sang adik ipar. Kim Jimin bahkan menariknya masuk sembari bercerita tentang anak mereka yang dititipkan hari ini.
"Jisoo tidak menangis. Dia senang bermain bersama Tan dan Ran juga Bom. Dia sudah ganti popok tiga kali hari ini."
"Maaf merepotkanmu, Jim."
Adik ipar menggeleng, "Sering-sering titipkan di sini, apalagi jika kau dan Kim Jongin butuh waktu privasi untuk berdua saja." Jimin berbisik, tetapi dengan nada rendah yang bisa jelas didengan Jongin, sang adik ipar bahkan terkekeh mengakhiri kalimat godaan itu.
Jongin berdecak, ingin mengikuti langkah Omeganya, tetapi adik lelakinya menahan tangannya.
"Kak, ayo bicara," ucap sang adik sembari mengajak Jongin memisahkan diri dari Omega dan ipar yang kini tengah mendekati anak-anak mereka.
Kim Taehyung membawa Jongin menuju beranda rumah di mana masih bisa terlihat Omeganya dari balik jendela kayu sedang menunjukkan hadiah makanan yang ia bawa untuk dua kemenakannya.
Jongin menyulut api, membakar rokoknya sembari merebah diri di kursi kayu yang ada di beranda rumah Kim Taehyung.
"Apa yang terjadi? Benar jika Shim Cosmetics sekarang menjadi milikmu?" Sang adik mulai bertanya.
Jongin menghela napas membuat asap rokok ikut menguar dari rongga hidung dan mulutnya. Dia mengangguk menjawab ucapan sang adik. "Menjadi milikku dan milikkmu. Lelaki tua itu memberikan hartanya pada kita." Lelaki tua yang dimaksud adalah Presdir Shim; sejak dulu sampai sekarang, Jongin menyebutnya begitu.
"Aku tak butuh itu, Kak. Jangan libatkan aku dengan keluarga Shim."
Jongin tersenyum. Sejak awal adiknya memang tak tertarik. Dia bahkan sudah berkali-kali meminta Jongin menghentikan segalanya, tetapi sayangnya, Jongin enggan berhenti sebelum mendapatkan segalanya.
"Selama ini kita salah menduga, Tae. Lelaki tua itu sama sekali tak merebut harta Ayah. Dia hanya dititipkan sementara sembari menjaga kita. Namun nyatanya, dia tak dapat menemukan kita bahkan setelah kita sebesar ini." Jongin menengadah kepala menatap langit malam. Dia meniup asap rokok yang keluar dari mulutnya.
"Aku sudah lega. Sekarang semuanya selesai," ucap Jongin lagi.
"Lantas? Apa yang akan kau lakukan setelah ini?" Kim Taehyung bertanya.
"Tidak tahu. Kukira setelah kudapatkan segalanya, aku akan bahagia. Nyatanya, ini biasa aja."
Kim Taehyung berdecak. "Karena kebahagiaanmu bukan terletak pada harta-harta itu. Kebahagiaanmu ada pada dia."
Ucapan adiknya membuat Jongin melirik. Ia juga ikut melirik pada bibir sang adik yang tersenyum menunjuk di balik dinding kaca.
Sang Omeganya tersenyum cantik di sana, meladeni para keponakan dan adik ipar yang berceloteh. Dia bahkan yang terlihat begitu paling indah dan bersinar di mata Jongin.
Rasanya, Jongin terlalu merindu. Hari ini begitu sibuk, padahal mereka terus terlihat bersama di Perusahaan. Namun, Jongin bahkan tak sanggup merengkuh dan mengecup dahinya sebagai perasaan sayang.
"Bukankah sebaiknya kau bicarakan sesuatu dengannya? Kendati senyumnya terus merekah, roman murung itu terlihat jelas di sana." Adiknya memberi saran.
KAMU SEDANG MEMBACA
Luscious Finnimbrun
Fanfiction[COMPLETED] (21+) Boys Love. This story contains some sex scenes in detail, unappropriate words, and uneducated manners. Do not read if you're underage! Tujuan hidup Kim Jongin hanya satu; menghancurkan keluarga Beta yang telah menghancurkan k...
