❝𝐟𝐭. 𝐊𝐢𝐦 𝐃𝐨𝐲𝐨𝐮𝐧𝐠❞
Dara nyaris serangan jantung mendadak ketika kembali dipertemukan dengan Dirga, kakak angkatan Pramukanya semasa SMA di acara Reuni gudep. Gadis itu nyaris serangan jantung bukan karena takut bertemu lagi dengan sosok D...
“The way you smile, I like it” - Red Velvet, Future
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
“HALOOOO! SELAMAT SIAANGG”
Senyum lantas mengembang dibibir Dirga disela hari sabtunya yang sedikit membosankan. Hanya tiga kata yang diucapkan via panggilan video, namun cukup membuat dirinya tersenyum bahkan sampai sulit menetralkan kembali wajahnya.
“Siang Princess, apa kabar ?” tanyanya masih dengan senyum yang merekah. Harap maklum, biasanya efek rindu memang begitu.
Diseberang sana seorang gadis tampak sedang memperbaiki duduknya,
“Baik, kamu apa kabar ?”
“Enggak baik, soalnya aku kangen kamu”
“Miss you” sahut diseberang sana sedikit melemah dan wajah yang mendadak sendu, membuat Dirga menghela nafasnya pelan karena tidak bisa mengusahakan sebuah pertemuan diantara keduanya.
“Aku dua minggu lagi pulang” raut wajah Dirga berubah seketika, senyumnya kembali merekah seperti awal menerima panggilan Video, “serius ?”
“Kapan aku bohong ?” tanya Dinda diseberang sana dengan wajah sedikit menyolot pada sang kekasih. “Pernah tapi”
“Tapi seringan kamu” balas Dinda.
“enggak usah ngajak aku kelai oke sayang ?” kesal Dirga cepat sebelum Dinda mulai menyerangnya terlebih dulu dengan mengungkit semua masalah-masalah yang ada selama keduanya berpacaran.
“oke aku diam” final Dinda yang membuat keduanya sama-sama diam, namun tetap saling menatap satu sama lain lewat layar virtual yang ada.
“BAAANGG! ADA ORANG” Dirga berdecak kecil ketika teriakan khas itu memenuhi gendang telinganya, Dinda diseberang sana pun terkekeh kecil karena melihat Dirga yang dibuat kelas oleh adik bungsunya.
“Aku matiin ya sayang, nanti aku video call lagi” ucapnya yang terdengar terpaksa, Dinda lantas tersenyum tipis lalu mengangguk, “iya, miss you”
“Miss you too”
Tutt
“BANG ADA ORANG!”
“IYA SABAR” Dirga mengusak rambut hitamnya sedikit emosi karena Chika yang terus memanggil dirinya. Inilah yang kadang membuat dia tidak suka ditinggalkan hanya berdua dengan si bungsu itu.
Kadang Dirga merasa itu hal yang wajar, namun jika sudah merasa wajar maka adik bungsunya itu pasti akan sedikit melunjak. Sedikit lebih manja lebih terpatnya. Chika satunya-satunya anak perempuan, ditambah lagi dia anak bungsu dan berjarak sangat jauh dari mereka bertiga. Sudahlah, dia merdeka dengan menjajah abang-abangnya.
“Kenapa ?” tanyanya ketika baru saja ingin keluar kamar namun gadis kecil itu sudah lebih dulu masuk ke kamarnya, “ada orang panggil-panggil”
Dirga mendengus kecil, pantas adiknya ini teriak-teriak.
Keduanya lantas turun ke lantai dasar rumah. Saat hendak membuka pintu Dirga dapat mendengar suara-suara orang berbicara dari luar, dan ada suara anak kecil juga.
Ceklek
“Eh”
“AAA VARAAAA” Chika kegirangan sendiri ketika melihat Vara yang ada dibalik pintu yang terturup, sementara sang abang malah terdiam melihat siapa yang ikut denga Vara.
“eh, masuk Dar”
Dara tersenyum tipis lalu melepaskan sandal yang dia gunakan, perlahan kakinya melangkah masuk kedalam rumah itu. sementara Vara dan Chika sudah duluan melantai untuk bersiap mengerjakan tugas mereka.
Ya, itulah alasan Dara ada dirumah Dirga sekarang. Vara merengek minta ditemani untuk mengerjakan tugas dirumah itu karena Vian yang dinas pagi dan Cakra juga memiliki pertemuan di Polda.
Kebetulan Dara tidak ada kegiatan dan Vian juga meminta tolong padanya. Tidak mungkin kan menolak untuk memberi pertolongan kepada anggota keluarga ?
Begitulah pemikiran Dara meski sedikit merasa kesal, mengapa harus Chika yang menjadi teman sekelompok Vara ? mengapa tidak temannya yang lain ?
“Duduk dar” tawar Dirga pada Dara ketika keduanya sampai diruang tamu. Gadis itu lantas mengangguk dan menuruti tawaran Dirga, duduk di sofa ruang tamu sementara Chika dan Vara melantai dengan meja mini milik si adik bungsu Dirga.
“Dar, mau minum apa ?” tanya Dirga. Sementara Dara sibuk melamun, sampai lama tak digubris Dirga kembali bertanya. “Dar, Daraaa”
“Eh, kenapa kak ?”
“Lo ngelamunin apa ?”
“Engga kok” jawabnya sambil tersenyum dengan sedikit terpaksa, membuat Dirga menghela nafasnya pelan, “mau minum apa ?”
“apa aja, asal jangan lo kasi racun” sahut gadis itu sambil terkekeh. “ya udah ikut gue aja ke dapur”
Dara mengerutkan dahinya, “ngapain ?”
“lo lihat gue kasi racun apa engga” balas Dirga sambil menaikkan sebelah alisnya, “ya engga perlu juga kali sampe ikut kedapur”
“sekalian ada yang mau gue omongin” Dara terdiam mendengarnya. Sebenarnya dia sedikit takut jika harus berduaan lagi dengan Dirga, takut khilaf seperti yang sudah-sudah.
Maklum, gaya gravitasi yang dihasilkan Dirga terlalu kuat.
“Ah lama” belum Dara mengiyakan lelaki itu sudah lebih dulu menariknya, “eh enggak usah tarik-tarik! Gue bisa sendiri” protes Dara cepat sambil berusaha melepaskan genggaman Dirga di pergelangan tangan kanannya. Namun apa daya, tenaga pak polisi itu pasti jauh lebih kuat.
Sampai di dapur baru Dirga melepaskan genggamannya itu, membuat Dara memajukan bibirnya kesal karena hal itu menyakiti lengannya.
“biasa aja itu mulut, gue cium ntar”
“APAAN!?” geram Dara, membuat Dirga terkekeh kecil melihat wajah gadis itu yang sedikit memerah. Rasanya Dirga semakin ingin menggodanya.
“Bibir lo manis juga” ungkap Dirga sambil mengeluarkan dua buah gelas dari lemari. Perlahan tangannya tergerak mengambil toples berisikan gula dan teh, lalu perlahan meraih air panas yang ada didalam termos.
“Kurang ajar!” umpat Dara dengan suara kecil, namun dapat dengan jelas didengar oleh Dirga. Sambil mengaduk segelas teh, ia pun membalikkan badannya lalu bersandar di konter dapur dan mendapati Dara tengah duduk duduk dimeja makan sambil menatapnya intens,
Sementara Dirga membalas tatapan itu dengan tersenyum tipis.
“Gue minta maaf” ucap Dirga tiba-tiba. Dara yang baru saja mengalihkan pandangan terpaksa kembali menatap Dirga karena penasaran dengan perkataan yang tiba-tiba keluar dari mulut lelaki itu. “Maaf udah cium lo secara lancang”
Dara masih menatap Dirga, perlahan ia menghela nafasnya lalu mengulum bibirnya, “gue juga minta maaf…” ucapnya gantung.
“seharusnya gue enggak kebawa suasana” aku Dara yang membuat Dirga mengulas senyum manisnya. Begitupun Dara, perlahan senyuman ikut terbit dari bibirnya.
Dihadapan Dirga Dara bisa dibilang jarang tersenyum, keduanya lebih sering adu mulut. Jika tersenyum pun tidak ada senyuman manis seperti yang Dara presentasikan sekarang.
Demi apapun Dirga bersumpah senyuman gadis itu sangat manis sampai membuat hatinya mendadak berantakan. Bahkan tangannya yang mengaduk teh menjadi bergetar.
Selesai dengan aktivitas mengaduk teh yang dibuatnya, Dirga lantas meletakkan gelas tersebut lalu melangkah mendekati Dara.
Satu tangannya ia tumpu pada meja dan satunya lagi pada sandaran kursi, membuat Dara sedikit mundur karena lelaki itu tiba-tiba mendekatkan wajahnya yang membuat dirinya merasa dikit Déjà vu.
“Gue pikir cuma bibir lo yang manis, tapi ternyata senyum lo juga manis”
“Ha ?”
“Dirga-ASTAGA TUHAN LO BERDUA NGAPAIN HA!?”
Masih dengan posisi yang sama, keduanya lantas menoleh dan mendapati Gerry dengan wajah yang kaget setengah mati.
“Lo berdua ngapain ?” tanya lelaki itu lagi yang membuat Dara dan Dirga tersadar dengan posisi mereka. Sambil menggaruk tengkuk perlahan Dirga menjauh lalu kembali pada teh yang terbengkalai.
Semetara Gerry hanya bisa menggeleng keheranan melihat apa yang baru saja dia saksikan barusan. “dek, kamu balik aja ke ruang tamu, Dirga kalau udah deket cewek cantik emang suka gila”
“Palak Lo” ketus Dirga.
“Ah, ya udah kak, gue permisi” baru saja hendak pergi dari dapur, namun Dirga sudah memanggilnya. “Sekalian ni dar teh nya dibawa” katanya sambil menyodorkan nampan berisikan dua gelas teh yang sudah jadi.
“Anjir lo! Enggak ikhlas banget nerima tamu” sungut Gerry, lelaki itu lantas mengambil nampan yang ada ditangan Dirga. “ayo Dar, kita keruang tamu”
Sambil mengemasi peralatan dapur Dirga terus berdecak, hingga tak lama Gerry kembali dan menepuk bahunya. Membuat ia pun membalikkan badannya.
“Lo sama Dara habis ngapain ?”
“Enggak ngapain-ngapain bang suer dah” kata Dirga menggerakkan jemarinya dengan gesture ‘peace’ seolah memaksa sang abang untuk percaya padanya.
Sementara Gerry diam, diam-diam memperhatikan bibir dan gerak-gerik Dirga maksudnya. Bukannya ingin berburuk sangka dengan adiknya, hanya saja adiknya itu memang sudah beberapa kali tertangkap oleh dirinya sedang bersama gadis lain selain pacarnya.
Astaga, ini anak playboy begini keturunan siapa sebenarnya ?. Begitulah batin Gerry setiap mengangkap Dirga sedang mendua hati.
Memang tidak pacaran, tapi tetap saja itu salah.
“Awas lo ya!” ancam Gerry. Dengan cepat Dirga tersenyum manis pada abangnya agar bapak Dokter itu percaya.
“Ya udah gue ke kamar dulu, capek” putus Gerry lalu pergi dari dapur. Dirga pun menghela nafasnya pelan setelah kepergian abangnya itu.
Sampai saat ini masih terus terbayang bagaimana senyum manis yang melengkung indah di bibir Dara, senyum itu terus menghantui dirinya bahkan sampai membuat ia mengusak rambutnya frustasi.
“Lo udah buat gila Adara!”
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.