❝𝐟𝐭. 𝐊𝐢𝐦 𝐃𝐨𝐲𝐨𝐮𝐧𝐠❞
Dara nyaris serangan jantung mendadak ketika kembali dipertemukan dengan Dirga, kakak angkatan Pramukanya semasa SMA di acara Reuni gudep. Gadis itu nyaris serangan jantung bukan karena takut bertemu lagi dengan sosok D...
“I can’t express my feeling because I don’t care” - Seventeen, Thanks
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
“Om makasih ya, kita pulang dulu”
Samuel, pria paruh baya itu lantas mengangguk ketika Dirga dan Cakra pamit pada dirinya. Setelah hampir dua jam lamanya mampir, kedua polisi itu pun memutuskan untuk pulang.
Tepat setelah Dirga masuk mobil, Cakra yang menjalankan mobil pun mengklakson dua kali tanda bahwa mereka akan segera meninggalkan pekarangan rumah.
Dari jendela Dirga dapat melihat Samuel tersenyum dengan kedua tangannya yang disimpan dibelakang. Hingga sosok pria paruh baya itu pun tak terlihat lagi oleh matanya seiring berjalannya mobil.
Membuatnya mengulas senyum tipis di samping kursi kemudi. Bertemu dengan Samuel ternyata membuat dirinya lebih banyak mengetahui hal baru, salah satuny ialah Ayahnya yang ternyata teman Samuel semasa kuliah dulu.
Keduanya sama-sama mahasiswa jurusan Filsafat di salah satu Universitas swasta di Yogyakarta dulu, bahkan mereka seumuran. Bedanya ayah Dirga lebih dulu menikah dan Samuel sedikit lebih lama menjadi bujang untuk menunggu jodohnya.
Ya itu jelas, buktinya anak sulung Samuel masih kuliah sementara Imron sebentar lagi akan menjadi kakek.
Samuel bahkan sempat menelpon Imron, memberitahukan bahwa Dirga ada dirumahnya sekarang. Dan hal itu membuat kedua pria paruh baya yang sudah lama tak bersua antusias untuk bertemu lagi nanti.
“Ga” panggil Cakra disebelah, Dirga yang tengah asik mendengar lagu lawas di radio mobil lantas menoleh pada abang tingkatnya itu. “Kenapa bang ?”
“Gimana kasus pembunuhan kemarin ? yang deket rumah lama gua ? gua denger itu bukan pembunuhan berencana” tanya Cakra.
Dirga menggaruk matanya sebentar, yang dia dengar dari Jonas juga seperti itu. namun Ia tidak terlalu tahu karena bukan dia yang mengurus kasus pembunuhan itu.
“Katanya sih gitu, si korban salah minum, tapi soal selingkuh sih iya. Cuma tersangka enggak pernah punya niat buat bunuh, Cuma pengen ngelabrak doang, sama pindah kost” jelas Dirga seadanya.
Jujur saja Dirga pun tidak habis pikir, salah minum ? setahunya racun rumput itu memilik bau yang menyengat. Tidak mungkin korban tidak bisa membedakan mana minuman biasa mana racun. Kecuali kalau si korban memang mungkin sedang pilek, namun tetap saja dari warna seharusnya dia tahu.
“Gua juga yakin sih gak bakal tega tuh cewek bunuh temen sendiri, btw si korban selamat ?”
“Selamat, soalnya engga sampai keminum bener-bener”
Keduanya lantas saling bertatap sejenak, setelah sama-sama mengalihkan pandangannya Dirga dan Cakra pun lantas bergidik ngeri. Tidak habis pikir dengan hal-hal kriminal yang terjadi belakangan ini.
Apalagi soal kasus yang baru saja mereka bicarakan.
Tengah asik menikmati jalanan mulis ke arah Pontianak, ponsel miliknya yang berbunyi membuat Dirga berdecak kecil. Dengan gerakan malas Ia pun meraih ponsel dari dalam saku celana PDL miliknya. Dan seketika Ia mengulas senyum tipis ketika tahu siapa yang menelponnya.
“Halo sayang ?” sapanya lebih dulu. Diseberang sana sang kekasih yang menelpon lantas terkekeh kecil ketika mendengar sapaan manis itu.
“Tebak aku dimana ?” tanya Dinda diseberang sana tiba-tiba. “Masih di Bandung lah, kan besok kamu pulang”
“Aku udah di Pontianak Dirga”
.
.
.
▪ What About Us ?▪ .
.
.
Sebelumnya Jonas tidak pernah sebimbang ini ketika ingin menelpon gebetan. Namun entah mengapa gebetannya kali ini sukses membuat Ia bingung setiap kali dirinya ingin mengajak sang gebetan bertemu.
Jhonny yang tengah istirahat siang bersama Jonas kali ini pun sampai menggelengkan kepala heran melihat tingkah absurd Jonas yang dari tadi hanya melihat ponsel tanpa ada niat bulat untuk menelpon gebetan yang Jonas maksud.
Jhonny tau, Jonas memang sedang menyukai dua orang perempuan sekaligus sekarang. Itulah yang membuat lelaki itu bingung ingin mendekati yang mana duluan.
“Jhon” panggil Jonas. “Kenapa ? udah selesai bimbangnya ?” tanya Jhonny balik yang dijawab gelengan dari Jonas.
“Ngejar pencuri aja laju, giliran ngejar gebetan kayak keong lu” omel Jhonny yang dibalas tatapan tidak terima dari Jonas.
“Ini masalah hati Jhon”
“Halah, lu sama Dirga sama aja” sindir Jhonny, “Beda, Dirga ada pacar. Gue jomblo, bebas nentuin mau yang mana”
Jonas jelas tidak terima disamakan dengan Dirga. Ya, Dirga playboynya sudah pro, kalau Jonas masih noob.
“Sama aja nas, parahnya lu berdua tu sama-sama ngincar Dara. Okelah yang lain beda. Tapi Dara bakal sakit banget kalau lu berdua tinggalin dalam waktu bersamaan” jelas Jhonny.
Ia tahu, karena Dirga dan Jonas sama-sama bercerita pada dirinya. Jonas memang sengaja meminta saran dari Jhonny, kalau Dirga tidak sengaja bertemu dengan lelaki ketika sedang bersama dengan Dara.
“Tapi lu berdua tetap bakal kalah si sama mantannya itu”
“Vino ?”
Jhonny mengangguk, membuat Jonas tiba-tiba kembali haus dan menyuruput kembali kopi miliknya. Matanya perlahan tergerak menatap hujan yang tak kunjung reda dari tadi. Hingga akhirnya Ia memutuskan untuk membuka ponselnya.
“Mau ngapain ?”
“Telpon Dara, ngajak Dara jalan” sahutnya. “Semoga engga didahului sama Vino” kata Jhonny sambil terkekeh. Dia juga kenal dengan Vino, mahasiswa hukum itu pernah menjadi muridnya semasa maba dulu
Kembali ke Jonas, hampir semenit Ia mencoba menghubungi Dara dan sudah hampir empat kali Ia terus menelpon. Namun sepertinya gadis itu sedang memiliki jam kuliah pagi sehingga panggilan darinya tak kunjung di angkat.
“Gimana ?”
“Enggak diangkat” sahutnya pelan. Membuat Jhonny menepuk pundaknya pelan lalu berkata.
“Masih ada yang lain” kata Jhonny lalu mengangkat sebelah aslinya, membuat Jonas tersenyum tipis.
Ah, dia lupa kalau dirinya sedang menyukai dua orang perempuan.
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.