❝𝐟𝐭. 𝐊𝐢𝐦 𝐃𝐨𝐲𝐨𝐮𝐧𝐠❞
Dara nyaris serangan jantung mendadak ketika kembali dipertemukan dengan Dirga, kakak angkatan Pramukanya semasa SMA di acara Reuni gudep. Gadis itu nyaris serangan jantung bukan karena takut bertemu lagi dengan sosok D...
“I feel like I’ve run too deep into your heart right now” - Seventen, Home
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Sefokus-fokusnya seseorang dengan penjelasan dosen, namun tetap saja ada kalanya jam tangan yang berdetak lebih mengalihkan perhatian.
Seperti sekarang. Karena sudah hafal dengan jadwal pulang di hari senin, maka dari itu Ia sesekali mengalihkan pandangannya pada jam tangan berwarna peach yang melingkar di lengan kirinya.
Namun dosen yang tengah mengajar mata kuliah Diplomasi Publik pada mahasiswa Hubungan Internasional semester lima ini sepertinya masih betah menjelaskan materi didepan. Membuat Dara sesekali menghela nafasnya karena sudah gatal ingin segera pulang.
Ia rindu dengan kasur, guling dan boneka doraemon miliknya.
“Oke, sekian dari saya kali ini” ucap Saka, dosen yang seharusnya masuk sore nanti namun meminta kelas pagi pada anak-anak kelas A reguler B.
“Baik pak” dosen itu mengangguk sekilas,
“Dara Mega, tolong bawa ini keruangan saya” Pintanya yang lantas membuat kedua gadis itu saling bertatapan. Yang satunya memanyunkan bibir dan satunya lagi tersenyum pasrah.
Setelah mengucapkan salam, Dosen muda itu lalu keluar dari kelas dan saat itu juga Dara dan Mega mengikutinya dari belakang dengan membawa tumpukan buku yang dimaksud Saka barusan.
Hingga sampai ke ruangan Saka, kedua mahasiswi itu mempercepat langkahnya bahkan sampai mendahului Saka karena sudah merasa keberatan dengan buku-buku tersebut.
“Bang ?” panggil Mega pada Dosennya yang kebetulan abang kandungnya sendiri. Membuat siapa saja mungkin iri pada dirinya, termasuk sang pacar, Mark.
“Kenapa ?”
“Abang udah mau pulang ?” tanyanya. “Duluan aja, gue ntar”
“Ya udah kita nyantai dulu” final Mega yang lantas membuat Ia dan Dara langsung duduk di sofa yang sudah disediakan diruang itu.
Saka menghela nafasnya sejenak sambil melihat kedua mahasiswinya itu. Kalau mereka berdua yang kesini dia tidak masalah, asal jika ada yang lain masuk keruangannya kedua gadis itu bisa menjaga sikap.
“Daripada kalian enggakada kerja mending bantu gu”
“Honor ?”
Pertanyaan Mega lantas membuat abangnya berdecak, membuat Dara terkekeh kecil melihat kedua kakak beradik yang dari dulu tidak berubah. Saka selalu tahan dengan tabiat ajaib adiknya, dari dulu.
“Bagi dua” kata lelaki itu lalu memberikan selembar uang berwarna merah pada Mega.
Ia lantas tertawa menang atas kekesalan kecil abangnya, kemudian Ia mengambil tumpukan lembaran kertas yang ada diatas meja kerja Saka. Lalu memberi separuhnya pada Dara.