dua puluh dua

501 69 0
                                        

"I don't know since when, I started to get used to hiding my feelings"
- DO, That's Okay

Rossa rasa Jonas mungkin tidak akan tenang hidupnya jika sehari saja tidak menganggu dirinya, bahkan ketika Rossa sedang piket Koas pun Ia tidak pernah absen menghubungi Rossa meski hanya satu kali

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

Rossa rasa Jonas mungkin tidak akan tenang hidupnya jika sehari saja tidak menganggu dirinya, bahkan ketika Rossa sedang piket Koas pun Ia tidak pernah absen menghubungi Rossa meski hanya satu kali. Dan sialnya itu hanyalah sebatas iseng.

Namun lelaki itu cukup tahu diri untuk tidak menelpon Rossa ketika sedang kelas.

Dari kecil, bahkan beberapa keisengan Jonas masih membekas diotak Rossa saking itu benar-benar membuatnya jengkel.

Pernah, ketika MOS SMP, Rossa tidak menyimak atribut apa saja yang perlu dibawa dihari selasa, dan bertanya pada Jonas saat itu adalah kesalahan terbesarnya. Ketika panitia mengatakan menggunakan sepatu hitam, maka yang keluar jadi mulut Jonas adalah sepatu putih.

Alhasil Rossa harus dihukum berdiri didepan tiang bendera selama dua jam lamanya.

Hari ini, Rossa sedang asyik menikmati hari libur yang sangat minim dapat Ia dapatkan dan Jonas kembali mengacaukannya.

Awalnya Rossa ingin acuh dengan ponselnya yang terusan berdering, bahkan Ia rasa sudah hampir sepuluh kali ponselnya berdering.

Dan seratus persen Rossa Yakin itu adalah Jonas

Rossa yang tengah rebahan manja di kamarnya pun lantas bangkit lalu menuju meja tempat dimana ponselnya sedang diisi daya. Tangannya perlahan meraih ponsel itu dan membuka layar kunci. Dan benar, orang yang menganggu hari indahnya adalah Jonas.

Awalnya gadis itu berniat untuk mengerjai balik Jonas dengan tidak mengangkat satupun telpon dari Jonas, namun setelah dipikir kasihan juga manusia gabut itu. Disisi lain dia berpikir kalau-kalau ada hal yang sangat mendesak dan Jonas memerlukan dirinya segera.

Dengan segala rasa kekekasalannya, Rossa pun memutuskan menelpon balik Jonas setelah panggilan ke 15 yang tidak dia angkat.

"Halo sayang"

"Sayang ndasmu"

"Ih kasar, engga suka abang" ucap diseberang sana sok imut, membuat Rossa terpaksa memijat pelipisnya karena tingkah random Jonas hari ini.

"Nas please ?" pinta Rossa dengan nada pasrah, diseberang sana Jonas terkekeh mendengarnya, "hehe maaf- hm lo lagi apa ca ?"

Pertanyaan itu sontak membuat dari Rossa berkerut, "tumben lu nanya begituan ? Gabut lo ?"

Terdengar diseberang Jonas berdecak kecil, "Misa yuk, udah lama engga Misa bareng" ajaknya.

Dua kali Rossa dibuat heran, matanya perlahan melirik kearah jam dinding, dimana jarum panjang mulai beranjak dari angka 6 dan jarum pendek ada diantara angka 4 dan 5.

"Lo engga lagi sakit kan ?"

"Engga ca, lagi mau tobat gua, makanya ngajakin elu duluan"

Rossa terkekeh mendengarnya, tobat toh ?

"Boleh-"

"Oke, jam setengah 6 gua jemput, see you beb"

Rossa memutar bola matanya ketika panggilan diputus Jonas sepihak, gadis itu menyugar rambutnya kebelakang lalu menghela nafas pelan.

"Gila emang itu anak"

.

.

.

▪ What About Us ?▪
.

.

.

"Nas! Itu Dirga bukan sih ?"

Jonas melirik Rossa sebentar, lalu mengarahkan pandangannya kearah dimana jari Rossa menunjuk. Gadis itu menunjuk ke salah satu parkiran motor dilingkungan Gereja yang tak jauh dari mereka berdua memarkirkan motor.

Mata Jonas perlahan menyipit untuk memastikan, "iya itu Dirga, sama Dinda bukan sih ca ?"

"Ha iya deh, itu Dinda kan ?" Jonas mengangguk. Ketika keduanya sudah sampai dimotor, Jonas hendak memasang helm, namun Rossa yang tiba-tiba mengajaknya berbicara sukses membuat Ia mengurungkan niatnya.

"Gua denger Dirga deket sama Dara, bener gak sih ?" tanya Rossa. Jonas melirik sahabatnya itu sekilas. Sedikit kesal dengan topik yang tiba-tiba Rossa seret diantara mereka berdua.

"Lo baru keluar dari Gereja lho ca kalau lo lupa, masih diparkiran ini neng ?" tegur Jonas.

"Terus ?"

"Hm, GHIBAH TEROSS!" gas laki-laki itu diakhir.

Bukannya merasa tersinggung atau apa, Rossa malah terkekeh. "Lucu banget sih lho" katanya lalu mencubit pipi Jonas. Lagi, dan itu membuat Jonas kembali batal memasang helmnya.

"Gue lagi megang helm ya ca"

"Terus"

"Habis lo!" sentak Jonas kecil dengan gerakan seolah ingin menabok Rossa dengan helm. Mengikuti permainan, gadis itu lantas berpura-pura ketakutan lalu tertawa.

Membuat Jonas pun tak kuasa menahan tawanya karena tingkah gadis cantik Rossa.

"Eh btw soal Dara..." gantung Jonas tiba-tiba. Kali ini gantian, Rossa yang malah mengurungkan niat untuk memasang helmnya karena saking penasarannya.

"Kenapa mereka ?" tanya Rossa cepat.

"Gue mau nyelametin Dara dari orang kayak Dirga ca"

"Gue mau nyelametin Dara dari orang kayak Dirga ca"

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

Tbc

Ada yang bisa nebak perasaan rossa pas Jonas bilang gitu ke dia ?
Udah chapter 22 aja, sedikit engga nyangka semenjak aku mulai ngerevisi bisa hampir nyelesaikan cerita ini. Bahkan sampe detik ini aku juga belum mikir siapa yang bakal bersanding sama Dara ataupun endinganya bakal sad or happy ?
Btw aku sih yang sad, Dirga di dunia nyata mau tunangan gaes :)

What About Us ? [✔]Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang