❝𝐟𝐭. 𝐊𝐢𝐦 𝐃𝐨𝐲𝐨𝐮𝐧𝐠❞
Dara nyaris serangan jantung mendadak ketika kembali dipertemukan dengan Dirga, kakak angkatan Pramukanya semasa SMA di acara Reuni gudep. Gadis itu nyaris serangan jantung bukan karena takut bertemu lagi dengan sosok D...
“Jealous ? never, why should I be jealous anyway” - Weki Meki, I Don’t Like Your Girlfriend
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
“Tumben cepat bangun ?”
Nyawa Dirga belum sepenuhnya terkumpul ketika Bundanya, Vera bertanya perihal alasan Dirga bangun cepat pagi ini.
Sebagian nyawanya masih berada di atas kasur, namun dia sudah menuruni anak tangga dan langsung menuju dapur untuk membuat segelas susu.
Namun bukannya langsung membuat susu, dia malah duduk didepan meja makan, bergabung dengan Ayahnya dan Gerry yang sedang meminum kopi. Menjatuhkan kepalanya diatas meja dengan lengan sebagai bantal lalu kembali memejamkan matanya
“Tumben cepat bangun ?” tanya Ayahnya
Pertanyaan itu lagi. Dengan mata yang masih terpejam Dirga berdecak kecil. “mau ke singkawang”
“Yang bagi-bagi tupperware itu ?” tanya Ayahnya. “Dimana bagi-bagi tupperware ?” tanya Vera cepat. Ia yang awalnya sibuk dengan beras yang akan Ia masak lantas langsung mendekat kearah tiga lelaki yang ada dirumahnya.
“Waktu itu, ada kok” sahut Imron sedikit gelagapan. Karena dia menjawab seingatnya. “Dimana ?”
“Lupa bun” jawab Imron yang langsung direspon helaan nafas pasrah oleh sang istri.
Dirga yang sudah hampir sadar seratus persen menggelengkan kepala pelan ketika melihat ekspresi Bundanya mendengar kata 'tupperware'.
Benar-benar fast respon.
Menjadi pertanyaan besar dikepalanya Kenapa telinga ibu-ibu selalu tajam ketika mendengar nama produk itu ?
Membuat dia jadi berpikir bagaimana jika istrinya kelak juga begitu ?
“Bang” panggilnya pada Gerry. Abangnya yang berprofesi sebagai dokter itu pun lantas menoleh pada adiknya, “kenapa ?”
“Kak Hera mana ?”
Hera, wanita yang berhasil meluluhkan hati Gerry tujuh tahun lalu dan sukses membuat lelaki itu melabuhkan cinta terakhirnya pada Hera tiga bulan lalu.
Setahu Dirga, kakak iparnya itu sedang hamil. Maka setiap Gerry dinas malam Hera selalu menginap dirumah mereka. Dan biasanya Hera selalu bangun paling pagi, tidak ada Hera pagi ini didapurlah yang membuat Ia bertanya keberadaan kakak iparnya itu.
“Masih tidur, semalam enggak bisa tidur dia”
“Jangan-jangan lo berdua…” gantung Dirga dengan nada dan tatapan curiga pada sang abang. Membuat Ayahnya dan Gerry menatapnya aneh.