tiga puluh satu

492 60 1
                                        

"I lost you without knowing what I deserved"
- Straykids, Ex

  Dirga masih setia menunggu, Ia masih menunggu didalam mobil dan parkir tak jauh dari rumah Dara

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.


 
Dirga masih setia menunggu, Ia masih menunggu didalam mobil dan parkir tak jauh dari rumah Dara. Sengaja dia menggunakan mobil Gerry agar Dara tidak tahu keberadaan.

Ia tau, Dara pasti tidak ingin bertemu dengannya, apalagi setelah Dinda menunjukan jemari dengan cincin pada Dara, Mark dan sepermainan mereka. Dirga, ini pasti sangat menyakiti Dara.

Ia menyesal, bukan menyesal sudah melamar Dinda, tapi menyesal karena membawa Dinda malam itu kerumahnya. Jika tau akhirnya Dinda akan pamer cincin, jika saja Ia tau ada Dara ada dirumahnya, langsung dia antar saja Dinda pulang.

Tiba-tiba saja Ia terpikiran soal Dinda, Ia perlahan sadar betapa jahat dan egoisnya dia saat ini. Dan ia sadar betapa sabarnya seorang Dinda. Hampir lima tahun tidak terhitung berapa kali Dinda tersakiti oleh kebiasan buruknya ini, dan tidak terhitung juga hati yang Ia sakiti dengan cara seperti ini.

Cukup lama menunggu, sebuah motor vario perlahan memasuki pagar rumah. Dengan cepat Dirga keluar dari mobil lalu menyelinap masuk sebelum Dara mengunci pagar rumah, sebelum Dara mengusir dirirnya.

“Dara ?” Dirga dapat melihat gadis itu sediki tersentak kaget ketika namanya dipanggil, gadis itu melepas helm lalu membalikkan badannya. Wajahnya datar, namun perlahan berubah menjadi sinis, “ngapain lo disini ?”

“Kita perlu bicara ?”

Dara tertawa miris, “bicara apa ? bicara kalau cincin itu cuma prank ?”

“Enggak, mak-”

“Oh berarti cincin itu beneran ?” Dirga terdiam, Ia mati kutu menghadapi Dara. Dara berdecak kecil lalu berjalan masuk kedalam rumah, dengan cepat Dirga mengikutinya. “Pergi! gue mau istirahat”

“Biar gue jelasin dar”

Dara menatap tajam Dirga, Ia memberikan sedikit celah pada Dirga untuk masuk. Ia enggan berdebat diluar lalu didengar tetangga.

Dara memejamkan matanya, menarik nafas panjang lalu membuka matanya kembali seraya menghembuskan nafasnya kasar, “Lo engga perlu bicara apa-apa lagi, semuanya udah jelas”

“Dar, gue mohon” Dirga meraih lengan kanan Dara, namun dengan cepat gadis itu melepaskannya dengan air mata yang perlahan mulai turun.

“Lo jahat” seru Dara, netra Dirga melebar saat itu juga, “lo minta gue buat bertahan, bertahan apa ? bertahan disaat lo bahagia sama yang lain ? Iya ?” 

Kata-kata Dara barusan sukses membuat Dirga merasa bersalah teramat dalam pada Dara, Ia malu, Ia benci pada dirinya sendiri karena sudah menjanjikan namun tidak bisa menepatinya. 

"Gue juga jahat, kita sama-sama jahat kenapa engga bareng aja sih!?" raungnya, perlahan Dara menangkup wajahnya. Ia mulai merasa bahwa Ialah orang paling jahat didunia.

Dia tau bagaimana rasanya jadi Dinda, tapi dia tetap melanjutkan hubungan terlarangnya dengan Dinda.

“gue sayang sama lo ra, tapi…”

“tapi apa ? tapi lo lebih sayang sama Dinda ?” Dirga menggeleng, entah kenapa air matanya ikut turun ketika Dara menangis seperti ini. Hatinya ikut sakit.

Setiap air mata yang turun dari mata Dara bagai sebuah rasa sakit yang tidak bisa dia jelaskan bagaimana rasanya.

Intinya ini sangat sakit

“kenapa sih lo harus hadir dihidup gue lagi ? kenapa sih lo harus hadir di acara reuni gudep ? kenapa gue harus ketemu sama lo bank ?” raung Dara. Pertemuan-pertemuan itulah yang membawanya dalam permainan terlarang dengan Dirga, Ia menyesali semua pertemuan itu saat ini. Ia benci, sangat.

“maaf, maaf ra”

“maaf engga buat luka gue selesai” Dirga sudah habis akal menghadapi Dara malam ini, semua yang keluar dari mulu Dara benar-benar membuatnya merasa bersalah.

Tak hanya pada Dara, pada Dinda pun Ia merasa sudah sangat salah.

Keduanya tiba-tiba sama terdiam, Dara perlahan mundur lalu menyandarkan tubuhnya pada dinding ruang tamu.

“Kak Dirga…” Dirga melirik ketika Dara memanggil dirinya, gadis itu mendongak untuk menatap dirinya membuat Ia perlahan mendekat pada diri pada Diri.

 “Gue sayang sama lo, gue bakal bahagia kalau lo bahagia” katanya masih dengan air mata yang tersisa dimata cantiknya.

“Jangan ngomong gitu” Dara terkekeh, “makasih udah ngasi luka ke gue, tolong sampaikan maaf gue buat Dinda”

Dirga menghela nafas pelan, berusaha kembali meraih lengan Dara namun dengan cepat gadis itu menepisnya.

“Makasih, lo hebat! Semoga bahagia”

“Makasih, lo hebat! Semoga bahagia”

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

Tbc

Semoga bawang nya sampai

Semoga bawang nya sampai

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
What About Us ? [✔]Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang