25

5.9K 686 68
                                        

Marco menghela napasnya malas. Sesekali ia menepuk punggung Ibu Hexane yang sedang menangis sembari memeluk dirinya.

Ya, Ayah Marco memberitahu rencana gilanya pada Ibu Hexane. Dan sekarang ia harus meyakinkan Ibu Hexane tentang rencananya. Rencana untuk melepas Ikatan adiknya.

Marco tidak memberitahu Ibu Hexane tentang ikatan apa yang harus dihapuskan dari adik tirinya itu. Tetapi, hanya itu satu satunya cara agar Ibu Hexane tetap menyetujui ritual yang akan mereka laksanakan.

"Ibu yakin pilihan kalian adalah yang terbaik untuk Hexane, Marco. Apapun, lindungi ia ya, nak?" Lirih Ibu Hexane di dalam dekapan Marco, sementara Marco hanya menghela napasnya diam, ia tak mengerti apa yang harus ditangisi dari anak tengil seperti Hexane.

"Of course, Mother. Don't worry about that. Now, get ready, okay? See you later, Mother." Final Marco sembari mengusap kedua pundak Ibu Hexane pelan lalu pergi dari ruang kosong yang berada dibelakang mimbar Gereja.

Marco menutup pintu dan mendapati Ayahnya sedang menatap kearah keluar jendela. Marco tak peduli dan melangkahkan kakinya menuju mimbar utama Gereja untuk melihat keadaan adiknya, Hexane.

"Explain it, Marco." Cegat Ayah Marco.

"What else should i explain? He's marked, Dad. And, Your Son is marked by those disgusting werewolf." sarkas Marco dengan sedikit penekanan lalu kembali melangkahkan kakinya menuju ruangan mimbar.

Tubuh Hexane tergeletak diatas rangka besi datar, dan ia masih belum sadarkan diri sejak Marco membenturkan kepalanya.

Marco berdiri disamping rangka besi tersebut dan menatap wajah Hexane, satu telapaknya mengusap dahi Hexane hingga poni Hexane sedikit tersingkap ke samping.

"Mengapa kau datang sebagai adikku, Hexane? Kita bisa saja menggunakan cawan emas daripada cawan perak itu. Dan, mengapa kau selalu benci denganku?" Monolog Marco sembari mengusap wajah Hexane lembut.

Marco menghela napasnya pelan lalu memasukan tangannya ke saku celana bahan yang ia pakai, "Dan, andai juga kau lebih patuh padaku. I hope our relation will goes well, Hexane..."

'Later.'

Tak berseling lama, pandangan Marco teralih ke pintu dari sebelah mimbar berderit dan menampilkan Pastur bersama Ayah Ibu mereka. Akhirnya, Marco beranjak dan mengambil wadah kaca dengan ukiran kuno dan ia berikan pada Pastur tersebut.

Akhirnya, mereka berdiri diantara sisi kepala Hexane dengan Pastur yang berdiri di dekat puncak kepalanya. Pastur mengambil pisau perak dan mengangkatnya bersama dengan wadah kaca tersebut.

Mereka menunduk sembari berdoa dan Pastur menurunkan wadah tersebut dan memposisikannya di hadapan Hexane, sehingga setiap dari mereka mengulurkan lengan kanan mereka diatas wadah.

"Biarlah darah domba-Mu akan menjadi kesembuhan." Ucap Pastur sembari perlahan menurunkan pisau perak dan menyayat pergelangan Matthias. Darah ayah Marco menetes ke dalam wadah kaca.

Pisau perak tersebut kini berpindah ke atas permukaan kulit Haline—Ibu Hexane, dan pastur perlahan menggoreskan pisau tersebut, "Menjadi Keabadian," ucap Pastur.

Dan terakhir, Marco.

Akhirnya, pisau perak tersebut menyentuh permukaan pergelangan tangannya. Marco perlahan menghela napas dan menatap wajah Hexane yang masih terlelap.

Pisau tersebut pun mulai merobek permukaan kulit Marco, "Dan hidup baru,"

Let's live our life, Hexane.

"Amen." Serentak mereka.

Dengan begitu, Ayah Marco pun perlahan membuka mulut Hexane. Marco mengusap lembut sisi wajah Hexane dan Ibu Hexane yang menutup kedua mata anaknya dengan telapaknya.

Akhirnya, Pastur menuang darah tersebut kedalam mulut Hexane.

***

"Argh!"

"Tahan, Jev. Bagaimana bisa aku mengeluarkan perak ini jika kau terus terusan menahan lenganku."

Jevano terus terusan menarik dan memukul lengan sahabatnya, Raven. Ia baru saja berhasil melarikan diri dari maut dan sekarang, Raven sedang membantu Jevano untuk mengeluarkan perak tajam dari tubuh temannya itu.

"Kalau tidak sakit, aku tidak akan memukulimu bodoh!" Seru Jevano. Ia menengadahkan kepalanya sembari meringis saat Raven perlahan menarik perak tersebut keluar.

"Lagipula, mengapa kau bisa diburu?! Kau pergi ke rumah tua itu lagi ya?!" Tanya Raven curiga. Dan tanpa mengelak kata, Jevano hanya menghela napas dan mengusap wajahnya kasar.

"Bagaimanapun, itu peninggalan kakekku, Ven. Setiap malam aku mengunjungi tempat itu untuk merenung. Walaupun tempat itu berada di garis Kaum."

"Tetapi, ini pertama kalinya aku bertemu seseorang tanpa rasa curiga."

"Ya, aku tau itu peninggalan, tetapi, kakekmu bukan makhluk seperti kita, Jevan!" Seru Raven kesal. Ia sudah menarik keluar perak tajam tersebut dan sedang membersihkan luka dalam.

"Aku bertemu orang itu, Ven. Orang yang ingin ku temui setiap hari, ingin ku lindungi, dan ingin selalu bersamanya..."

Raven terdiam sesaat. Jevano tidak mendengarkannya, Jevano bermonolog. Jevano sedang  larut dalam pikirannya sendiri.

"AGH RAV?!" Seru Jevano tiba tiba. Ya, Raven menekan bagian dalam luka Jevano, dan taktik tersebut berhasil membuat Jevano kembali terfokus padanya.

Raven melepaskan kain kasa yang sudah terbalur darah dan menghela napasnya, ia melipat tangannya di dada dan menatap malas kearah sahabatnya ini, "Aku benci kau, Jev."

Jevano mengernyit, ia menatap Raven heran, "Tiba tiba?! Apa maksu—"

"Kakekmu meninggal karena penghianatan keluarganya. Keluarga dari kaum itu, Jev. Dan, sepertinya kau mempunyai garis takdir yang sama dengan kakekmu..." lirih Raven, ia akhirnya menghela napas dan melangkah untuk mengambil perban kain.

"Rav..."

"Selamat Jev, kau sudah bertemu mate-mu. Dan, tolong, kelak, jaga dirimu dengan baik"

***

TBC












AKU TAU KALIAN UDAH MENGHILANG KARNA FITUR SAMPAH DUNIA ORENJ INI, TAPI GAPAPA.

AKU LEBIH YAKIN KALAU KALIAN LEBIH MILIH GEBUKIN AKOH DARIPADA WEDPED AOWMAOWMWOWMK.

AKU TAU ALURNYA NGAUR, Tapi gapapa la ya:(

Aku rindu kalian banget btw, kalian jangan rindu ke aku ya, cukup aku aja😭😭😭❤️❤️

Aku uda gakuat ama realita aowmaowk

Btw, Raven cocoknya sape ye🌚


Don't forget to Vote, Comment and Follow me.

Master Vamp ;NoHyuckTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang