"Shh, tidak ada yang perlu ditangisi dan dipertanyakan Marco."
Jeno melangkah mendekat kearah Mark yang terlihat menitikberatkan seluruh emosinya ke kepalan tangannya. Jeno berdiri disamping Mark dan meremat pundak Mark, "Apa harus aku kembali jelaskan hukum alam dari para buyut kita Mark? Kali ini aku benar benar berbicara sebagai 'Jeno' asal kau tahu..."
Jeno menarik ujung bibirnya dan menepuk pundak Mark sembari terkekeh sekilas, "Hmm, aku sangat bersyukur kehidupan kita kembali bersambung taut. Dan, aku rasa ada baiknya kau membuka barikade pintu itu, Mark. Mata Haechan akan mengering jika ia terus terusan menangisimu disini."
Mark mendecih dan mendengus kesal, ingin rasanya ia memukul wajah Jeno dengan segera, sungguh.
"Berhenti berpura pura, Jevano. Segera katakan apa yang kau inginkan. Kita selesaikan disini, bedebah." Geram Mark.
"Mark, Ingat, Marco sudah membunuh adiknya sendiri. Itu juga yang membunuh sosok Jevano, Mark. Jadi sekarang, berbicaralah layaknya seorang Mark Lee kepada Jeno Lee." Cetus Jeno, ia perlahan mendudukkan dirinya di kasur reyot tersebut. Mark melirik pergerakan Jeno yang seolah tidak mau mengungkit satu lagi aksi perkelahian yang mengharuskan mereka melukai satu sama lain.
Mark mulai merenggangkan kepalan tangannya dan amarahnya perlahan meluap beriringan dengan deru napasnya, "forget on everything, Jeno. And plaese surrender over my brother. Berhenti mengusik hidup Haechan." Seru Mark sebelum beranjak dan menendang barikade pintu dengan mudahnya.
Setelah pintu terbuka, wajah Haechan benar benar memerah diatas permukaan kulit tan-nya itu, Ia mendongak dan mendapati wajah Mark dengan aura yang cukup mencekat. Haechan mencoba mengatur napasnya dan berusaha untuk tidak sesegukan, "M-mark?... A-are you okay..." lirih Haechan.
Tidak memperdulikan pertanyaan dilontarkan, Mark segera mengangkat Haechan dalam pelukannya, "No more question, Kita pulang." Geram Mark.
Sementara dari ceruk leher Mark, Haechan bisa melihat Jeno yang duduk sembari menunduk, dan perlahan Jeno mengangkat wajahnya dan menatap manik Haechan yang di timbun dengan kelopak sembabnya. Pupil Haechan melebar, Jeno hanya bisa tersenyum pasrah dan bangkit berdiri perlahan seolah mengucapkan selamat tinggal.
***
Mark mengundurkan diri, Ia berhenti dari pekerjaannya dan menjaga Haechan di apartment miliknya. Mark bahkan menjual paksa apartment milik Haechan yang sebelumnya hanya bersebelahan dengannya. Apa yang terjadi dengan Haechan sungguh membuat Mark tidak bisa tidur dengan tenang.
Begitu pula sebaliknya.
Sejak kejadian tersebut, Haechan selalu menangis dalam tidurnya sembari memegangi lehernya. Setiap malam Mark selalu terjaga karena Ia tahu bahwa hanya satu hal yang menghantui alam bawah sadar Haechan. Kematian Marco dan Hexane.
Disamping itu, ada satu hal yang membuat Mark sangat terpukul.
Dimana Haechan selalu berbisik dalam tidurnya, meringkuk dan meremat kaosnya.
Don't worry, Im always here.
Sungguh, Mark ingin membenturkan kepalanya setiap hari agar ia bisa melupakan apa yang terjadi. Ini bukan salahnya.
Mark yakin ini bukan salahnya. Bahkan, Mark sesekali berbicara dengan refleksi dirinya di cermin, mempertanyakan titik terdalam dirinya.
Mengapa harus reinkarnasi.
Mengapa harus kembali bersambung taut.
Mengapa harus bertemu, dan,
Mengapa harus di raganya saat ini.
Setiap Ia menatap wajahnya, Mark selalu bertanya hal yang sama secara berulang.
Dan malam ini, Mark tidak ingin menatap wajahnya dicermin. Kali ini, Haechan sudah terlelap di kasurnya. Saat Haechan terlelap, Mark biasanya akan mendekap Haechan erat agar Ia tidak perlu menangis lagi dalam tidurnya. Namun kali ini, Mark beranjak ke kamar mandi dan menyalakan keran air hangat.
Sudah merasa cukup untuk tubuhnya berendam, tubuh putih yang hanya terbalut celana se-paha itu akhirnya masuk kedalam bathub dan menghela napasnya. Mencoba untuk menepiskan pikirannya sembari merikekskan diri. Sepertinya, Mark sudah muak dengan apa yang sudah Marco lakukan.
Mark selalu meyakinkan diri bahwa Marco lah biang dari semua ini, Marco hanyalah benalu di tubuhnya.
Perlahan Mark menenggelamkan seluruh tubuhnya kedalam air hangat, Ia menahan napas dan merenung.
Karena, Ia juga sudah lelah dengan memori Marco yang selalu terputar kembali di dalam mimpinya. Bagaimana ia harus membunuh orang orang, harus mengorbankan prajurit perbatasan, dan bahkan bagaimana Marco memperlakukan Hexane saat itu.
Sangat busuk.
Sangat egois.
Jika ia bisa memutar waktu, Mark sangat ingin membunuh Marco dan membiarkan mayatnya membusuk diperbatasan. Dibandingkan dengan penderitaan orang orang yang ia lihat. Termasuk penderitaan Hexane.
Namun, di dalam renungannya, Mark merasakan sedikit guncangan pada bathubnya, ia membuka matanya di dalam air, dan menemukan seseorang menggunakan poet shirt duduk dipinggir bathub, Mark terkejut dan segera terkesiap sembari meraup udara dengan boros.
Seseorang dengan surai lembut berwarna kecoklatan terang, kulitnya yang cukup mirip dengan Haechan, dan mata yang terlihat sayu tersebut hanya melontarkan senyum kepada Mark. Masih meraup udara dengan tergesa, Mark mencoba untuk tetap waspada, "S-siapa kau?!"
Sosok yang berbalut kemeja ala kerajaan jaman dahulu itu melayangkan satu usapan lembut di dagu Mark dan menariknya perlahan. "Do it, do it for me, Mark Lee. I believe in you." Bisiknya, lalu menempelkan kedua bibir mereka. Mark terkejut.
Satu, entah siapa orang ini, tetapi ia tiba tiba muncul dan menciumnya.
Kedua, ada yang salah. Ia seolah olah pernah merasakan kehangatan ini.
Kehangatan yang sama saat Haechan mencumbu bibirnya waktu itu.
Mark memejamkan mata dan perlahan, ia merasakan tak ada lagi sentuhan di permukaan bibirnya. Ia membuka mata, dan tak ada satu orangpun yang berada di kamar mandi bersamanya.
Perlahan, kesadaran Mark mulai terkumpul, "Haechan!" Serunya. Tak peduli dengan tubuh yang kuyup, ia segera berlari keluar dari kamar mandi dan memastikan Haechan berada di kamar atau tidak.
"Haechan!-"
Ia terkejut saat menemukan Haechan masih terlelap di balik selimut tebalnya, rasa lega dan panik mengaduk didalam dirinya. Ia menghela napas lega, namun setelah berendam di air hangat cukup membuat dirinya haus. Mark segera mengambil handuk dan mengeringkan dirinya sedikit. Akhirnya ia berjalan menuju pintu kamarnya.
Saat ia membuka pintu kamarnya, Tubuhnya terhuyung. Bukannya menjadi penghubung antar ruang, saat pintu kamarnya dibuka, dibaliknya menghembuskan angin yang sangat kencang dan mengeluarkan cahaya yang sangat amat benderang.
Perlahan menyesuaikan penglihatannya, Mark menautkan alis saat sosok itu kembali muncul dan mengulurkan telapaknya sembari tersenyum. Ya, sosok yang menciumnya di kamar mandi tadi,
Sosok itu tersenyum dan berbisik lembut, sangat lembut,
"Come, Mark"
***
HAYYYY BESTIHHH AHAHAHAHAHAHAH PLIS GW TAU CRITA INI GA GUNA LAGI, TAPI KALIAN PASTI PENGEN GEBUKIN GW KAN😭😭🏃♂️🏃♂️🏃♂️
GILA, SETAHUN GA APDET WKWKWKWKWKKW😭😭🏃♂️🏃♂️
GAMAU KOMEN LAGI, PALING UDAH SEPI, AJAJAJAHAHAHAHHA BYE AYANKKUU😘🏃♂️
KAMU SEDANG MEMBACA
Master Vamp ;NoHyuck
FantasyRather than Master, you're better to be called baby. [YAOI] [BXB] [VAMPIRE] [ABO] HOMOPHOBIC? NAGA AWAY JUSEYO! ©Caramelizedbear, 2020 Highest Rank #61 - Markhyuck - 02/04/20 #101 - Vampire - 09/05/20 #649 - Fantasy -07/05/20 #4 - Nohyuck - 03/06/20...
