115.

260 38 0
                                    

Aku menangis semakin kencang saat sebuah tangan hangat mendarat dipunggungku.

“Ayah…”

“Iya,”

“Ayah…”

“Aku masih disini.”

Dia, kehilangan ingatannya, dan bilang padaku bahwa dia bukanlah Ayahku. Biar bagaimanapun, dia tetap membalas tangisanku, saat memanggilnya “Ayah”.

Betapa bodohnya kami berdua…

Tangisanku tidak kunjung berhenti mungkin karena aku telah menahan tangisanku untuk beberapa kondisi. Claude juga mencium kehangatan yang tidak asing baginya dan itu seakan mengatakan padaku bahwa tidak apa-apa untuk tetap tinggal disini, dan aku telah memutuskan untuk tetap tinggal disini.

Aku akhirnya menyadari bahwa aku saat ini tengah berhadapan dengannya dan berada dalam pelukannya.

Ah, aku kembali pulang kerumah. Akhirnya setelah bertahun-tahun. Aku kembali pada orang yang kurindukan.

Aku menangis hingga aku tidak nyaman lagi dengan tepukannya yang agak canggung.

=====@=====

“Lili, apa yang Lili tahu tentang semua ini?”

Aku bersiap untuk pergi tidur di Istana Emerald dengan dibantu oleh Lili untuk pertama kalinya setelah sekian lama.

Matanya masih agak sembab setelah berbicara denganku dan menangis bersama tadi. Mataku juga agak kemerahan karena aku menangis tidak lama setelah aku datang ke Istana.

“Yang Mulia mengagumi gambar dimana kalian menggambar bersama hampir setiap hari dulu.”

Lili tersenyum dan menyelimutiku dengan selimut.

“Beliau juga memutar batu rekaman dikamarnya setiap hari tanpa pernah terlewati seharipun.”

Aku menutup mataku sebentar dan membukanya kembali ketika merasakan sentuhan tangan Lili. Wajah Claude muncul dalam pikiranku dan secara bertahap tenggelam.

“Beliau tidak mengatakan secara gambling bahwa beliau menyesali dan merasa bersalah atas apa yang pernah dilakukan dulu.”

Lili benar. Claude benar-benar seperti menara Jenga yang tinggi yang nyaris roboh kapan saja. Ditambah dengan dirinya yang memuntahkan darah karena sihir bodoh itu… betapa bodohnya dia.

“Tentu saja saya marah pada Yang Muliat karena Anda adalah orang paling berharga didunia bagi saya.”

“Tidak, tidak… akulah yang menyebabkan semua ini kira-kira.”

“Orang tua dan anak memang sering berbeda. Ini mungkin karena saya menganggap Anda sebagai anak saya sendiri.”

Tawa kecil dan helaan napas bergema diatas kepalaku. Aku mengerutkan hidungku saat aku merasakan sentuhan yang menenangkan ditubuhku dan mendengar bisikan lembut.

“Tapi saya percaya, beliau tidak akan menyakiti Anda.”

Tangannya dan suaranya yang menghangatkan hati terus menenangkan hatiku.

Dan akhirnya aku menyadari bahwa aku tidak pernah merasakan tidur malam yang damai semenjak aku meninggalkan Istana. Kelopak mataku jatuh tertutup saat mengenang hal tersebut.

“Tidur yang nyenyak, Tuan Putriku tercinta.”

Aku akhirnya menutup mataku mendengarkan suaranya yang menenangkan bagai malaikat.

Aku akhirnya dapat tidur dalam ketenangan malam itu.

***

“Tuan Putri, apa Anda tidak ingin menemui Yang Mulia?”

Aku Mendadak Menjadi Putri!Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang