109.

163 20 0
                                    

Sial! Aku akan terlihat seperti hantu yang bergentayangan kalau begini? Haruskah setidaknya aku mengikat rambutku sebelumnya? A-aku minta maaf untuk matamu…

“Aku harap dia tidak membebas-AAH…!!!”

Aku membuka mulutku saat ketakutan memikirkan hal tersebut, hanya untuk mengakhiri jeritan ketakutanku. Itu karena Jannette yang mulai melangkah mendekatiku.

“Tuan Putri…! Apakah itu Anda?”

Aku merasakan sedikit malu setelah menatap tatapan matanya yang agak terasa menggangu penuh dengan keterkejutan.

Kek. Dia sama sekali tidak memeriksa apakah aku hantu atau manusia kan? Dia malah menerjangku begitu saja! Haahh… dia memang bertindak dulu sebelum berpikir.

“Ya, ini aku. Ini nyata.”

Matanya bergetar lebih dari sebelumnya. Tangannya yang bergetar meraihku dan memegang tanganku.

Uhhh… tunggu! Kenapa matamu jadi berair? A-apa kau ingin menangis, tidak kan? Hah? Ayolah, jangan menangis!

“Tu-tuan Putri…!!!”

Khek!”

Tapi dia tetap menangis kemudian. Aku masih terus membuat suara aneh yang mengganggu saat Jannette masih memelukku dengan sekuat tenaganya.

Ahhh! Aku pikir kau sudah sedikit melewati batas! Meskipun kita telah minum teh bersama dan saling mengirim surat, ini bukanlah sesuatu yang boleh atau pantas dilakukan seperti kau yang melompat begitu saja dan langsung memelukku, kan?

Uhh, aku harus menurunkan pertahananku. I-ini tidak seperti aku yang memang tidak menyukainya, tapi ini terasa begitu aneh. Lihatlah tanganku yang tidak tahu harus berbuat apa!

“A-aku… aku pikir…”

Aku begitu panik saat Jannette memelukku begitu saja, sampai aku tidak dapat berpikir apa yang harus kulakukan. Aku menggenggam tanganku sendiri dibalik punggungnya tapi kemudin aku melepaskannya saat melihat ia yang menangis makin kencang.

“Aku pikir aku tidak akan dapat bertemu denganmu lagi, hiks…”

Aku tersentak untuk beberapa saat.

“A-aku dengar kau mendadak hilang da-dari Istana…”

“…”

“Aku pikir, aku tidak akan bisa bertemu denganmu lagi…”

“…”

“Aku benar-benar ketakutan… hiks… hiks… ja-jadi aku…”

Dia menangis amat parah air mata juga membasahi wajahnya, sampai-sampai karena tangisannya tersebut, aku tidak dapat mengerti apa yang ia katakana.

Dia melukku lebih erat lagi seakan kalau ia melepaskannya aku akan menghilang lagi.

“Uh… hiks…”

Aku menatapnya dan menepuk-nepuk lembut sambil menghela napas lembut.

Pat, pat.

Dia kembali mulai menangis lagi namun lebih bebas karena aku mulai menepuk-nepuk punggungnya. Tangisannya terus menghentak gendang telingaku dan perlahan memudar menghilang ditengah udara malam.

“Hiks…”

Aku dengan lancang berpikir bahwa orang didepanku ini begitu lemah dan nampaknya seakan hancur berkeping-keping.

Jika kalian menertawakanku karena dengan tidak tahu dirinya mengkhawatirkan orang lain, tapi aku tidak bisa mengatakan apapun. Aku juga mengetahui bahwa begitu bodoh kalau aku berempati pada orang lain yang mungkin menempatkan bahaya dibelakangku begitu saja.

Aku Mendadak Menjadi Putri!Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang