Setelah menunggu hujan reda, Rezi segera mengantar Afra menuju rumahnya. Beruntung, Sheina tak bertanya apa-apa.
Ia mengendarai mobilnya menuju rumahnya, di sana Abidzar dan kembarannya tengah menunggu."Gimana? Gue sendiri yang bukan cowoknya, ngerasa kasihan."
Samar-samar Rezi mendengar kata kembarannya yang tengah memojokkan kondisi Abidzar.
"Nggak ada yang salah. Pikirin gimana jalan keluarnya. Bukan waktunya buat salah-salahan"
Rezi benar.
"Gue cuma ngerasa nggak becus ngurus cewek gue. Terus dan terus jadi boneka Papa."
"Yang bisa nyelesaiin ini, cuman lo. Mau nggak mau. Hati cewek tuh kayak kaca, bro. Sekali retak nggak bakal bisa utuh."
Abidzar mengangguk, menyetujui perkataan Reza.
Saat akan mengatakan sesuatu, ponselnya berdering."Halo."
"................................"
"Gue otw, bang."
"........"
Si kembar menatapnya dengan tatapan penuh tanda tanya.
"Siapa?"Abidzar tersenyum kecil, "Bang Satria. Dia balik."
Seketika Reza tertawa keras, ia segera merangkul kedua sahabatnya untuk menuju mobil. Menjemput teman terbaiknya. Satria Adhijaya.
Sesampainya di bandara, pandangan mereka mengedar ke seluruh penjuru.
Memperhatikan setiap orang yang lewat di hadapannya."Bro!"
Ketiganya menoleh.
Sosok tegap itu masih saja seperti dulu.
Hanya di sekitar atas bibirnya, muncul kumis tipis yang menambah kadar ketampanannya."Bang,"
Abidzar memeluk tubuh tegap Satria, dan dibalas dengan Satria.
Tiga tahun berlalu dengan sangat lambat, ia harus menahan rindu berat pada keluarga.
Adik yang dulu masih mengenakan pakaian SMP sekarang sudah menjadi sosok tegap sepertinya."Gue bawain kopernya, bang." Reza menawarkan bantuan.
"Guna juga lo." Rezi membalas.
"Sialan!"
Dengan dibantu Rezi, kembar itu membawakan koper dan tas Satria.
"Mama gimana?"
Abidzar tersenyum, "Udah sadar. Kita sekarang tinggal di apartemen, udah diusir sama Papa."
Satria mengangguk, memahami. Karakter Harri memanglah seperti itu.
Menempuh perjalanan sekitar sepuluh menit, keempat cowok itu sampai di apartemen.Bel pertama, Farah sudah membuka pintu menggunakan celemek. Ia menaikkan alisnya, bingung saat melihat teman Abidzar membawa koper dan tas.
"Surprise! Mam,"
Satria muncul dari balik punggung si kembar dan memeluk Farah yang diam mematung.
"Satria?"
————————————————————
Setelah kedatangan Satria, apartemen menjadi seperti sangat hangat dengan candaan dan cerita konyol yang pernah ia alami di Jerman.
Sudah tiga tahun ini, ia menimba ilmu di Jerman. Dan semester ini, ia mendapat libur yang cukup panjang.Farah merasa hidupnya sudah sangat lengkap dengan kedatangan putra sulungnya.
Ia terus menerus tersenyum sembari memasak makanan kesukaan kedua putranya.

KAMU SEDANG MEMBACA
Abidzar (END) ✅
RomanceKisah mengenai perjuangan Afra Hanina untuk mendapatkan hati seorang Abidzar Adhitama, cowok yang suka dengan Hoodie berwarna putih. Berkali-kali usaha yang dilakukan Afra untuk mendapatkan hati Abidzar, dan berkali-kali pula Abidzar mencoba untuk m...