Bab 28

1.7K 318 41
                                        


Satu minggu berlalu kehidupan Prilly berubah drastis setelah Ratna mengetahui siapa dirinya sebenarnya wanita itu tidak lagi membiarkan dirinya bekerja.

Jadi keseharian Prilly hanya menemani Ratna bercerita terkadang berbelanja bersama lalu memasak tepatnya Prilly belajar memasak. Prilly baru tahu jika pria yang Papa dan Mamanya ingin jodohkan dengannya tidak lain adalah Ali.

Prilly tidak tahu harus menanggapinya seperti apa jika boleh jujur sebagian kecil hatinya merasa menyesal karena menolak dijodohkan dengan Ali tapi mengingat cerita Ratna, Ali juga menolak perjodohan mereka.

Intinya Ali dan dirinya sama-sama menolak untuk dijodohkan tapi dipertemukan dengan cara yang menurut Prilly luar biasa, bagaimana mungkin Prilly melamar kerja di rumah calon jodoh yang pernah dia tolak.

Lucu sekali takdir mereka bukan?

Namun dibalik semua kelucuan itu ada sesuatu yang mengganjal di hati Prilly yaitu keberadaan Ali. Pria itu benar-benar menghilang satu minggu ini, Ali sama sekali tidak memberi kabar dimana pria itu berada.

Prilly mengingat komunikasi mereka terakhir kali sepertinya sikap Ali biasa-biasa saja lalu kenapa tiba-tiba pria itu seolah menghindari dirinya?

Menurut cerita Ratna putranya itu sedang berada diluar kota tepatnya sebuah desa dimana Ali berniat membangun sebuah hotel di sana. Prilly bangga? Iya, dia tidak menyangka Ali bisa sesukses sekarang karena menurut cerita Ratna dahulu kehidupan mereka sangat sederhana sampai akhirnya Ali menjadi salah satu pengusaha muda yang bisa dikatakan sukses di kota mereka.

Prilly pernah mendengar perusahaan Ali namun mereka belum pernah bekerja sama selama Prilly bekerja di kantor Ayahnya meskipun tidak sebesar perusahaan Ayahnya namun perusahaan Ali cukup diperhitungkan keberadaannya.

Kembali pada cerita Ratna, Ibu Ali itu bilang jika selama di sana Ali sering menghubungi Ibunya namun tidak sekalipun Ali menanyakan keberadaan dirinya, pria itu seolah lupa dengan keberadaan dirinya di sini.

Lucu sekali bukan? Prilly berharap Ali menanyainya padahal mereka tidak memiliki hubungan apapun. Ali baik padanya bisa saja karena dirinya bekerja di sini kan?

Apalagi menurut cerita Ratna, putranya itu masih belum bisa melupakan cinta pertamanya, Shania.

Ratna sangat berharap jika dirinya mampu membuat Ali kembali jatuh cinta dan Ratna juga meminta Prilly untuk menerima perjodohan ini. Berat memang karena tugas Prilly sekarang adalah membuat Ali jatuh cinta padanya.

Rasanya Prilly tidak mampu namun melihat tatapan memohon Ratna, Prilly tidak tega hingga akhirnya Prilly menganggukkan kepalanya.

Prilly bersedia membuat Ali jatuh cinta padanya. Entahlah, Prilly merasa seperti berharap hujan di tengah padang pasir. Harapan memang ada namun tingkat keberhasilannya kecil sekali.

Terlebih sekarang Ali mulai memberikan jarak di antara mereka.

"Ali pulang."

Satu kata yang keluar dari mulut Ratna mampu membuat jantung Prilly berdebar kencang. Ada apa ini? Kenapa jantungnya berdebar kencang ketika mengetahui Ali pulang.

Jangan bilang dirinya sudah terlebih dahulu jatuh cinta pada Ali? Tidak mungkin.

***

"Dia siapa?" Tanya Ratna saat melihat Ali datang tidak sendirian.

"Selamat malam Tante." Tama terlebih dahulu menyambut tangan Ratna lalu dia kecup sopan punggung tangan wanita yang sudah dia anggap seperti Ibunya sendiri.

"Malam Nak. Silahkan masuk! Makan malam sudah Tante siapkan." Katanya pada Tama yang langsung melesat masuk meninggalkan Ali dan Laras yang terlihat kikuk disamping Ali.

"Dia Laras anak kepala desa Ma." Ali memperkenalkan Laras pada Ibunya.

"Laras Tante."

"Ratna."

Ratna menatap Laras dari ujung rambut sampai ujung kaki, entah kenapa dia tidak merasa klik dengan wanita yang dibawa putranya. Klik yang dimaksudnya adalah Ratna tiba-tiba merasa tidak suka pada gadis ini bahkan dipertemuan pertama mereka seperti ini.

Gadis ini penuh kepalsuan.

"Lalu kenapa kamu ajak Laras ke rumah kita?" Ratna tidak menutupi ketidaksukaan nya pada Laras hingga membuat suasana di antara mereka semakin kikuk saja.

Ali menghela nafasnya. "Laras ingin mencari kerja di kota Ma. Mama ada kenalan di rumah sakit atau puskesmas dekat sini nggak?"

"Untuk apa?"

"Mana tau ada lowongan kerja untuk Laras Ma."

Ratna tidak mengeluarkan suaranya lagi. "Ayok masuk! Kita makan Prilly sudah capek sekali seharian memasak untuk makan malam kita."

Deg!

Mendengar nama Prilly tiba-tiba jantung Ali berdetak kencang. Berdehem pelan Ali berusaha mengabaikan detak mengerikan itu.

"Ayok masuk Laras!" Ajaknya pada Laras yang mulai tidak nyaman dengan suasana rumah Ali tepatnya Ibu Ali yang kentara sekali tidak menyukai dirinya.

Ali berjalan beriringan dengan Laras sesampainya di ruang tengah dahinya langsung mengernyit ketika mendengar suara Tama yang sedang berbincang-bincang dengan seseorang yang sangat Ali kenali suaranya.

"Eh tangan kamu kenapa?" Suara Tama yang sarat akan kekhawatiran membuat tubuh Ali gerah, dia merasa tidak nyaman sama sekali.

Terlebih ketika dia kembali mengingat luka ditangan Prilly yang terakhir kali dia balut dengan perban di taman belakang. Apa luka itu sudah sembuh atau justru semakin parah?

"Kenapa Mas?" Tanya Laras yang melihat Ali seperti orang linglung.

Ali menoleh menatap Laras lalu menggeleng pelan. "Nggak apa-apa. Kamu ke ruang makan duluan saja. Ada yang ingin aku cari di kamar." Ali langsung melesat meninggalkan Laras yang menatap kepergian Ali dengan pandangan tidak suka.

Niatnya jauh-jauh kesini untuk melalukan pendekatan dengan Ali dan keluarganya eh malam sambutan tidak enak yang dia dapatkan dari keluarga Ali dan sekarang Ali juga ikut mengabaikan dirinya.

Sialan sekali!

Sesampainya di kamar Ali langsung menghempaskan tubuhnya keatas kasur belum apa-apa dia sudah kepanasan sendiri saat mendengar suara Tama yang begitu lembut berbicara pada Prilly.

Sial!

Memangnya kenapa kalau Tama berbicara selembut dan seperhatian itu pada Prilly? Urusannya dengan Ali apa? Tidak ada.

Ali menghembuskan nafasnya berkali-kali, belum bertemu Prilly saja dia sudah kelimpungan begini.

"Ini dada kenapa sih panas gini?!" Ali mengusap dadanya dengan kasar.

Padahal seminggu berada di desa dia sudah yakin jika perasaannya pada Prilly hanya sebatas pelarian saja tapi jika sebatas pelarian kenapa dia merasa.. Cemburu?

Ali langsung terlonjak kaget karena pikiran itu tiba-tiba terlintas di otaknya.

"Tidak mungkin!"

Ali tidak mungkin cemburu pada Prilly bukan?

*****

Permainan HatiTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang