Barra melihat jarum jam yang melingkar di pergelangan tangannya, wajahnya sama sekali tidak menunjukkan ekspresi apa-apa. Auranya yang mengurai sangat membuat orang-orang yang berada di sekitarnya merasa tidak nyaman.
"Yang datang duluan ke sini ini Sakya, jadi lebih baik saya pulang."
"Lho... Ko pulang?!" protes Arum tidak terima.
Pria dewasa itu mengabaikan Arum, menganggap gadis itu tidak ada. "Mari Om, Tante. Saya pamit pulang."
Tanpa menunggu tanggapan dari Alaric maupun Qiana, Barra langsung melangkahkan kakinya keluar rumah. Menutup rapat kembali pintunya dari luar.
Tidak lama terdengar bunyi mesin mobil, menandakan bahwa Barra telah pergi dari pekarangan rumahnya.
Bola mata Arum berkaca-kaca, ia langsung mengusapnya kasar.
"Kak Sakya, Arum udah ga mood jalan-jalan. Kalo Kakak masih mau maen di sini ga papah ko."
Sakya menghela napas kecewa, tapi pemuda itu menerbitkan senyum menawannya. "Aku pulang aja, kapan-kapan kita bikin janji lagi ya?"
Kepala Arum mengangguk pelan sebagai respon, masih kelihatan sedih karena Barra kelihatan marah. Mungkin.
"Om, Tante... Aku pamit pulang juga."
Qiana dan Alaric mengangguk, membiarkan Sakya mencium punggung tangan mereka sebagai bentuk perilaku sopan santun.
"Hati-hati di jalan, jangan ngebut apa lagi sampe gabut..." peringat Qiana sok serius.
Alaric langsung melepas rangkulan pada tubuh aduhai Qiana, menoyor jidat lebar itu dari samping. "Jangan dengarkan."
Sakya terkekeh, ternyata bukan hanya Arum yang selalu heboh tapi Ayah dan Ibunya juga. "Permisi Om, Tante... Arum."
Seperginya Sakya, Arum langsung berlari masuk ke dalam kamar Kakak kembarnya. Ada misi penting yang harus ia selesaikan.
Qiana memukul bahu tegap Al kencang, tiba-tiba menangis tersedu-sedu. "Dulu Qia dapet Om-Om, masa sekarang anak Qia juga dapet Om-Om juga?"
Alaric memeluk tubuh Qiana gemas, menghujani pipi bakpau itu dengan ciuman. "Ga papah dong, namanya jodoh. Lagian Om-om nya hot, tampan, dan mapan. Kenapa harus nolak?"
"Tapi perut A'a udah jadi sarang lemak," jujur Qia menyingkap kaos yang di kenakan Al, menepuk-nepuk perut itu.
"Biarin aja, lagian saya udah tua. Setiap laki-laki yang badannya bagus dan ada kotak-kotak nya. Kalo ketemu sama perempuan yang jago masak kaya kamu bakal hilang semua badan bagusnya jadi tumpukan lemak."
"Kaya A'a."
Alaric memutar bola mata malas, kembali menoyor jidat Qiana. "Kan saya udah ngaku."
Tidak terima dengan Al yang sudah tiga kali menistakan jidatnya, Qiana pun balas menoyor jidat suaminya hingga kepalanya terdorong ke belakang.
"Qia!"
"Iss... Lagian A'a yang ngeduluin!" pekiknya tidak terima.
"Dasar!" sebal Al kembali membawa tubuh itu ke dalam pelukannya. Semakin lama pernikahan mereka, semakin besar rasa cinta Alaric untuk Qiana.
*
"Abang, minjem hp!"
Alano mengusap daun telinganya yang berdengung keras, melempar bantal guling ke wajah Arum. "Ga usah teriak juga dong."
"Hp nya mana?" arum menodongkan telapak tangannya, menendang bantal guling hingga terdorong ke arah pintu kamar.
"Ambil dulu bantalnya!"
KAMU SEDANG MEMBACA
Arumanis
Teen Fiction[Sebagian chapter di privat, follow untuk membacanya] [ Sequel dari ' Suami Kampret!' ] Ini tentang Arum, Putri Bungsu dari sepasang Suami Istri bernama Alaric dan Qiana. Arum yang cantik, polos dan naif membuat sebagian laki-laki terjerat pesona se...
