6. Arumanis

8K 692 29
                                        

Arum berjalan memasuki rumahnya dengan mulut tersumpal permen kaki juga tangan membawa jingjingan berisi gula-gula yang sempat di belinya bersama Dosen kedua Kaka kembarnya, Barra.

Tenang saja, ia membeli gula-gula ini dengan uang sendiri. Tugas Barra hanya mengantarkannya ke penjual gula-gula.

"Huh! Secuil, dari mana aja kamu? Jam segini baru pulang."

"Beli gula-gula dulu sama Pak Barra," jawab Arum mendekat ke arah Abangnya.
"Hi Kak Nana, lagi main ya?"

Nana menyelipkan anak rambutnya kebelakang telinga. Tersenyum lembut. "Iya, aku ga papah kan main di sini?"

"Ga papah dong," jawab Arum tersenyum lebar, mendudukkan bokongnya di sofa.

"Minta gula-gula ga?" tanya Arum menyodorkan satu gula-gula ke hadapan pacar Abangnya, jarang-jarang loh ia mau berbagi.

"Jangan kasih Nana gula-gula, dia ga boleh makan terlalu manis," serobot Alano cepat, menatap penuh peringatan pada Arum.

Arum cemberut, menyimpan kembali gula-gula nya ke dalam wadah. "Emang kenapa, sampe Kak Nana ga di bolehin makan manis? Kak Nana kena gula darah?"

"Heh, sembarangan." Tegur Alano ketus, membuat Nana tersenyum geli.

"Terus kenapa dong?"

"Ga baik bagi kesehatan gigi, nanti berlubang."

"Kan yang penting sikat gigi teratur!" semprot Arum kesal.

"Pokoknya jangan!" tegas Alano lagi, tidak mau di bantah.

Kedua Kakak beradik itu saling melayangkan tatapan mematikan milik masing-masing.

"Udah-udah, kenapa jadi berantem gini," tegur Nana. Menyentuh lengan Alano agar mau mengalah pada Arum.

Arum memutuskan pandangannya. "Dasar tukang ngatur."

"Apa kamu bilang? Coba ulangi?" Alano langsung berkacak pinggang tidak terima.

"Dasar tukang ngatur!" sinis Arum bangun dari duduknya, mengangkat jingjingan nya tinggi-tinggi lalu memukulkannya ke arah kepala Alano.

Plakkk....

"Arum!" teriak Alano berniat mengejar, sedangkan Arum sudah ngacir ke dalam kamar.

Nana yang melihat itu langsung menarik tangan Alano. Menyuruh pemuda itu kembali duduk. "Kamu sih jail."

"Sakit tau," kesal Ano mengelus-elus atas kepalanya.

"Sini biar aku bantu usap," dengan penuh perasaan Nana mengelus-elus kepala Ano. Kejahilan antara Kakak beradik ini selalu saja bisa membuatnya tertawa tidak habis pikir.

"Benjol ga?"

"Engga... Sayang."

*

Gadis berpakaian santai dengan rambut digelung asal itu memicingkan matanya tidak suka ke arah Kakak kembarnya yang sedang bermesraan bersama pasangan masing-masing, mengabaikan dirinya begitu saja.

ArumanisTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang