23. Arumanis

4.8K 486 33
                                        

Disinilah ketiga saudara itu berada, sebuah danau yang terlihat luas dengan angin semilir yang sejuk menggoda mata setiap orang yang mampir ke sini agar tertidur pulas.

"Papa mana sih?!" sebal Alain dengan pandangan menelisik ke setiap pinggir danau, tapi sama sekali tidak ada orang. Bahkan keberadaan Ayahnya juga tidak terdeteksi.

"Itu tuh Papa nya..." tunjuk Arum senang, saat melihat Ayahnya berada di tengah danau, dengan perahu yang di digunakan sebagai transfortasi nya.

Si kembar langsung menatap ke arah yang ditunjukkan Arum, astaga... Sebegitu hobi Ayahnya memancing, hingga mengabaikan pekerjaan kantor dan lebih memilih terapung-apung di atas perahu.

"Eh, Papa sama siapa tuh?" tanya Alain begitu mengetahui kalau Ayahnya tidak sendiri.

Mata Arum langsung memicing, senyumnya melebar dengan binar senang. Berjingkrak-jingkrak bagai anak... Kangguru.

"Pak Barra!!"

Kedua bola mata Alano dan Alain melotot saat mengetahui itu, ah... Kenapa mereka harus terjebak satu tempat dengan Dosennya lagi, bahkan pada hari Minggu.

"Rum... Pulang aja yu," rengek Alain menahan lengan Arum yang terlihat akan berlari mendekat pada pinggiran danau.

"Ga tau ah!" tegas Arum menghempas tangan Alain, lalu langsung berlari.

Jadilah si kembar mengikuti langkah Arum yang kelewat aktif dalam segala hal, termasuk menyengsarakan mereka berdua.

Alaric dan Barra menghampiri ketiga remaja itu, meletakkan alat pancing mereka ke atas tanah berumput.

"Pak Barra, ko bisa ikut mancing sama Papanya Arum sih?"

Barra menatap dalam diam wajah imut gadis permen kaki, melengos pergi begitu saja tanpa menjawab pertanyaan penuh semangat itu.

"Kalian berdua, bantuin Papa coba. Ini kail pancingnya nyangkut!"

"Gimana bisa nyangkut sih Pah?" tanya Alano membantu melepaskan kail pancing yang menancap di dahan pohon kering yang terjatuh di tanah.

"Iya nih Papa mah ada-ada aja, pake segala acara nyangkut," tambah Alain yang langsung mendapat lirikan maut Ayahnya.

Alain cengengesan, "Maap Aph, maap. Ini mau bantuin."

Sedangkan Arum masih menatap ke mana perginya Barra. Wajahnya langsung pias saat melihat laki-laki itu berniat masuk ke dalam mobilnya.

Dengan cepat Arum langsung berlari, menarik baju kaos bagian belakang Barra kencang hingga badan laki-laki itu yang sudah masuk ke dalam mobil kembali tertarik keluar.

"Mau apa?" tanya Barra dengan suara dingin tidak bersahabat nya.

"Bapak yang kenapa?"

"Saya ga papah," jawab Barra pelan, berniat kembali masuk ke dalam mobil. Tapi bajunya kembali ditarik oleh gadis kecil itu.
"Lepas Rum..."

"Ga mau, Arum tau Bapak marah kan sama Arum. Bilang Arum salah apa? Arum mau perbaiki itu," ucapnya dengan suara bergetar.

"Kamu ga salah."

"Terus kenapa sikap Bapak beda sama Arum, padahal kan Arum seneng banget ketemu Bapak..."

Terdengar Barra menghembuskan napasnya pelan, menutup kembali pintu mobilnya. Punggungnya di senderkan ke mobil dengan pandangan teduhnya, "Di sini saya yang salah," ucapnya pelan.

"Tapi Bapak ga punya salah apa-apa sama Arum."

"Saya salah Rum." jeda sebentar, "Saya udah lancang masukin kamu ke hati saya, kesalahan saya fatal Rum, karena kamu juga bukan siapa-siapa saya."

ArumanisTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang