Gadis cantik yang memakai baju rumahan dengan rambut terikat asal itu berlari kecil menghampiri kedua Kakaknya yang sudah rapih dengan jaket kulit andalan mereka. "Kalian mau ke mana?"
"Abang ada janji sama Nana Dek."
"Kalo Kakak mau ada urusan sebentar di luar."
"Terus Arum ditinggal di rumah sendiri gitu?!"
Pemuda kembar itu menatap terkejut Adik perempuan mereka yang baru saja meninggikan suara. Jika sudah seperti ini, tandanya Arum sudah dalam keadaan ke kesal sampai ke ulu hati.
"Biasanya juga gitu kan Dek. Paling Mama sama Papa juga bakal pulang entar sore."
"Iya tuh, tumben banget kamu jadi penakut gini," tambah Ain dengan wajah heran.
Hidung Arum memerah dengan napas mulai memburu. "Ya udah, terserah!" jeritnya kesal langsung berlari dan menutup pintu kamar kasar.
Kedua pemuda itu saling menatap. Pandangan mereka jatuh ke arah jam tangan yang melingkar dipergelangan tangan masing-masing.
"Mana gue udah terlambat dateng lagi."
"Gue juga ga bisa batalin janji sama Nana."
Mereka berdua berbicara serempak. Saling berpandangan dan langsung berlomba berlari keluar rumah.
"Lo aja si yang nemenin Arum di rumah!" gertak Alano berdiri menghalangi Alain yang akan masuk ke dalam mobilnya.
"Ogah. Lo aja sana!"
"Yang muda harus nurutin yang tua."
Alain mendesis tidak terima. "Selisih umur kita cuma 12 menit!"
"Intinya gue di sini yang lebih tua," tukas Alano telak. Berusaha mengambil Kunci mobil dari tangan Adik kembarnya itu. Jangan sampai Alain yang lebih dulu lolos.
"Nyebelin banget sih Bang!" kesal Ain mencoba mempertahankan kunci mobilnya. Ia tau tabiat kembarannya sampai mau adu otot seperti ini demi bertemu Nana. Tapi siapa peduli, ia juga mempunyai urusan yang harus di selesaikan.
Dari arah gerbang, wanita cantik bertubuh pendek itu berjalan ke arah kedua Putranya dengan bayi mungil di gendongannya. Telapak tangannya bertengger mulus di bahu Putra pertamanya. "Lagi debat apa?"
"Astagfirullah!" kembali keduanya beristigfar akibat terkejut akan suara itu, tak tanggung-tanggung bahkan kunci yang menjadi rebutan mereka sampai terjatuh ke bawah tanah.
Qiana terkekeh senang melihat itu, namun tak mengeluarkan suara apa-apa. Wanita itu mengelus lembut sebelah pipi kemerahan milik bayi perempuan yang kini berada di gendongannya.
"Ya Allah Mah. Kapan hamil? Kenapa udah brojol aja Debay nya!" histeris Alain berdiri di depan sang Ibu. Matanya menatap penuh terkejut pada wajah kecil bayi itu.
Dulu ia memang sangat senang akan kelahiran Arum, tapi sekarang ia tarik omongan itu. Karena sifat Arum sangat menyebalkan setelah gadis itu beranjak remaja.
"Sembarangan! Debay ini bukan anak Mamah ya."
Hembusan lega keluar dari hidung Alain maupun Alano, bahu mereka yang tegang kembali rileks. Kalaupun nanti mereka punya Adik, harus laki-laki jangan perempuan. Mereka tidak mau Adik mereka bisa satu model dengan Arum. Adik secuil mereka yang doyan permen kaki.
KAMU SEDANG MEMBACA
Arumanis
Novela Juvenil[Sebagian chapter di privat, follow untuk membacanya] [ Sequel dari ' Suami Kampret!' ] Ini tentang Arum, Putri Bungsu dari sepasang Suami Istri bernama Alaric dan Qiana. Arum yang cantik, polos dan naif membuat sebagian laki-laki terjerat pesona se...
