20. Arumanis

5K 514 24
                                        

Omongan Sakya di kantin sekolah tidak main-main, buktinya kini pemuda itu berkunjung ke rumah keluarga Bayanaka dengan membawa serta Ibunya.

"Diminum dulu teh sama cemilannya Mba, Sakya..." ucap Qiana sopan, ikut duduk pada sofa di hadapan keduanya. Mereka hanya terpisah oleh meja.

Mata Sakya menatap pintu yang ia tau adalah kamar Arum, pintunya tertutup rapat. Apa gadis itu lupa kalau ia dan Ibunya akan berkunjung ke mari?

"Sebentar lagi Arumnya keluar ko, tadi abis mewek gara-gara berantem sama Kakaknya, biasa anak-anak." seakan tau yang ada di pikiran Sakya, Qiana menjelaskan.

"Hehe... Iya Tan," balas Sakya tidak enak hati. Meminum teh hangat yang dibuat oleh Qiana, rasanya selalu lezat.
"Teh buatan tante, selalu enak."

"Yang buat siapa dulu..." bangga Qiana dengan sifat pecicilan yang mulai keluar.

Hartanti tertawa pelan, ikut meminum teh yang katanya enak itu. "Wah, bener juga. Teh buatan kamu enak banget, pake resep apa?"

"Resep nenek moyang," balas Qiana menyengir lebar.

"Hahahaa.." hartanti tertawa pelan. Lalu mencomot wafer yang diletakkan di dalam toples.

Qiana mengipas-ngipas wajahnya yang terasa gerah. Ah, bukan hanya wajah tapi seluruh tubuhnya. Kenapa juga teman Arum yang pernah ke sini itu kini kembali main, apa lagi sekarang membawa serta Ibunya.

Ini jadi seperti acara lamaran.

Ternyata punya anak berwajah cantik dan mudah bergaul seperti Arum sungguh menyusahkan. Selain karena banyak laki-laki yang mampir ke rumah, ia juga jadi takut kalau tiba-tiba ada yang melamar putrinya untuk dijadikan pembantu, ehk... Maksudnya istri.

"Assalamualaikum Tante," sapa Arum ceria, mencium punggung tangan Hartanti, Sakya bahkan Qiana. Lalu duduk berdampingan dengan Ibunya.

"Walaikumsalam cantik," balas Hartanti senang.

Sakya ikut tersenyum, sepertinya Ibunya juga menyukai Arum. Jadi niatnya semakin mulus untuk menjadikan Adik kelasnya itu sebagai pacar.

Qiana meringis canggung, entah turun dari mana sikap tidak tau malu Arum. Yang jelas bukan darinya!

"Ibu bawa permen kaki tidak?"

Langsung saja Qiana mencubit pelan pinggang Putrinya, melotot agar Arum tidak membuat dirinya malu. "Maaf Mba, Arum anaknya emang suka ga jelas," qiana tersenyum paksa pada Hartanti.

"Ga papah Qi, saya malah suka anak yang blak-blakan seperti Arum..." hartanti tertawa pelan, mendorong kantong kresek hitam ke hadapan Arum.
"Kebetulan, saya bawa beberapa pack permen kaki, tadi sebelum kesini Sakya cerita kalo kamu suka banget sama permen."

"Maka-"

"Duhh, ga usah repot-repot Mba... Anak saya mah lagi sakit gigi. Minggu depan gigi depannya bakal ilang dua," serobot Qiana kembali mendorong kantong kresek itu ke hadapan Hartanti.

Arum langsung menutup bibirnya. Gigi depan hilang dua? Apa Ibunya itu tega, membuatnya jadi terlihat seperti Ipin?

"Diterima dong, kalo saya bawa pulang lagi ga bakal kemakan. Mubajir loh Qi."

Menghela napas, Qiana mengangguk langsung menyerahkan kantong kresek itu kepangkuan Arum. "Nikmatin ya sayang... Sebelum gigi depan kamu ilang..."

"Ih... Mama," sebal Arum jengkel. Tapi tangannya menyobek satu bungkus permen kaki dan mulai memakannya.

"Tante makasih ya..."

Qiana langsung menatap penuh pada Sakya. "Makasih buat apa Sakya?"

"Karena udah ngelahirin gadis secantik Arum."

ArumanisTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang