24. Arumamis

4.4K 493 22
                                        

"Hiks... Hiks..."

Alano yang sedang berada di dapur untuk mengambil minum langsung merinding, masalahnya ini sudah tengah malam. Bahkan lampu dapur juga tidak ia nyalakan.

Ia yakin, semua orang sudah terlelap ke dalam mimpi masing-masing. Lalu suara tangis siapa yang terdengar sangat menyedihkan itu?

"Hiks... Hikss... Hiksss..."

Walaupun terlihat takut, Alano yang ditangannya membawa segelas berisi air putih melangkahkan kaki ke sumber suara tangis tadi.

Langkah kakinya berhenti tepat di pintu belakang rumah, pikiran buruknya mulai berdatangan. Jangan-jangan memang benar, yang menangis itu kuntilana-

"Huaaa..."

Alano terkejut, refleks tangannya langsung membuka pintu, matanya sontak melotot saat melihat seseorang berambut tergerai yang mengenakan piyama bergambar Hello Kitty.

Jadi sosok di hadapannya bukan kuntilanak, ya kali setan berwujud seram itu memakai piyama Hello Kitty. Setaunya hantu perempuan itu sering digambarkan memakai daster berwarna putih. Kecuali kuntilanaknya glow up sih, mungkin beda cerita.

"Sesenti?" panggil Alano ragu.

Kepala perempuan dengan rambut yang tergerai itu menoleh tepat ke arah Alano.

Pemuda itu terjengkit kaget. Astaga, sudah berapa kali ia terkejut?

"Abang..." rengek Arum langsung menghambur memeluk Alano, terisak kecil.

"Ini udah malem, kenapa kamu masih di luar?" tanya Alano sembari mengelus lembut rambut Arum.

"Mau cari sinyal lho Bang..." rengeknya.

"Buat apa? Perasaan kalo di dalam juga sinyalnya 4G."

"Tadi Arum nelpon Pak Barra, tapi ga diangkat, di SMS juga ga di bales. Jadi Arum kira sinyal milik Arum yang gangguan, mangkanya Arum rela keluar cari sinyal."

"Bego..." gumam Alano tidak habis pikir. Ada-ada saja kelakuan Arum ini.

Tangis Arum semakin kencang, Alano jadi keki sendiri. Takutnya para tetangga terganggu dan mengira ada korban kekerasan. Padahal tangis itu dari Arum yang sepertinya sedang... Galau.

"Eh udah dong Dek, jangan nangis. Malu sama tetangga. Udah malem."

"Hiks... Tapi Arum mau ngomong sama Pak Barra Bang!"

"Arum... Udah mau jam 1 pagi ini. Mungkin Pak Barra udah tidur. Lagian kamu mau apa? Sampe ngebet gini."

"Tapi Arum mau ngomong Bang... Hiks, hiks... Sedih Arum tuh."

"Udah ah, jangan nangis gini. Abang ga suka."

"Ck, biasanya juga Abang suka bikin Arum nangis."

Alano cengengesan, mengurai pelukannya. Dengan penuh pengertian Alano menuntun Arum agar kembali masuk ke kamar. Membaringkan Arum ke atas ranjang, menyelimuti tubuh gadis itu.

"Tidur, udah malem juga."

"Ga mau tidur! Arum mau ngomong sama Pak Barra, huaa..." jerit Arum kencang.

Dengan cekatan Alano membungkam mulut Arum dengan gumpalan jilbab segi empat yang ada di gantungan baju Arum hingga suara cempreng itu terhenti.

"Abang!" jerit Arum lagi lebih kencang, dengan mata melotot.

"Habisnya kamu udah malem teriak-teriak terus, dikira lagi konser apa!" gerutu Alano kembali membetulkan selimut yang melorot.

Wajah Arum langsung murung, bergerak memunggungi Alano. Kembali terisak pelan.

ArumanisTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang