putus dengan Dhani

64 39 13
                                        

Masih di hari yang sama, malam di bulan mei, saat Dhani lagi-lagi memakiku dengan kata-kata itu. Terakhir kali aku pergi bersama putri. Menghabiskan heinken dan bir bintang di taman, Putri ! Seharusnya aku menelfonnya. Pikirku seketika menelfon Putri dan mengajaknya keluar untuk mencari angin.

"Haloo Put," sapaku diujung telfon

"Rinjani ? "

"Sibuk ngga ?" Tanyaku sedikit terbata bata

"Ngga, kenapa ?"

"Keluar yuk, aku mau ... "

"Mau minum beer. Dira? " Kata kataku terpotong dengan ungkapan Putri yang menyinggung Dira, laki- laki yang tak ingin ku temui dulu.

"Ah, dia juga ngga akan tau."

"Terakhir, dia datang di taman. Ah, gue ngga mau mati konyol." Ungkap Putri dengan nada kesal

"Udah, ngga usah ngurusin Dira."

"Baik, kutunggu di taman ya." Kututup telfon, bersiap memanggil taksi saat malam sudah terlalu larut untuk perempuan pergi sendirian.

Ditaman itu sudah duduk seorang perempuan seusiaku, membawa dua Botol bening ukuran sedang, dengan sekotak rokok menthol ditangannya.

"Udah lama nunggunya?" Tanyaku, dengan manik mata melihat wajahnya yang mulai masam.

"Sudah, setengah jam !"

"Maaf, aku lupa rumah kamu deket sini."

"Yaudah, ngga apa-apa.. sini." Aku duduk di sampingnya, dengan kacang pilus garuda panggang di tangan.

Malam itu benar benar tenang, kegelisahanku, kemarahanku, kesedihanku sudah hilang sejenak, rasa yang begitu sakit ternyata bisa hilang dalam sekejap setelah meneguk isi botol yang Putri bawa.

Tak berhenti manik mataku selalu mengawasi setiap orang yang lewat, setiap wajah ku lihat seksama, karena takut Dira tiba-tiba datang dan membawaku pulang.

"Tumben si Dira ngga nongol !" Seru Putri yang sepertinya sudah setengah melantur.

"Hahaaha, Dira?" Ucapku, terdiam seketika melihat sosok yang Putri cari ada didepanku, memasang wajah yang marah.

"Dira!" Putri dan aku tersentak kaget, dengan Dira tiba-tiba duduk di sampingku. Dia hanya tersenyum membiarkanku dan Putri. Tak berhenti mengawasi berberapa orang yang lewat.

"Kenapa disini ?" Tanya ku, namun Dira hanya terdiam. Mengepalkan tangan seperti menahan amarahnya. Hidungnya mendengus kesal dengan tangan tak berhenti berputar saling begulat.

"Sudahlah." Putri beranjak berdiri, mencoba meninggalkanku dan Dira berdua di bangku taman, terpogoh jalannya. Terpaksa Dira menarik lenganku, lalu membawaku dan Putri masuk kedalam mobil yang ia bawa.

"Mobil siapa?" Tanyaku, dengan pipi memerah.

"Mobil ayah " jawabnya singkat, menggiringku duduk dibelakang bersama Putri disebelahku.

Jalanan sepi saat jam dua belas malam. Dira hanya terdiam, laki-laki itu membuatku mengacuhkan sikapnya. Membiarkan wajahnya begitu sampai dia tersenyum dengan sendirinya.

Sesampainya dirumah Putri, Dira membantu perempuan itu masuk ke dalam rumahnya, sedangkan aku menunggu mereka di dalam mobil. Melihat kaca yang berembun.
Lima menit Dira didalam, tapi belum saja keluar dari rumah Putri, dengan rasa penasaran mencoba mengintip sedang apa mereka di dalam.

"Put, tolong jangan ajak Rinjani melakukan hal ini!" Seru Dira menatap Putri menahan amarahnya

"Maaf Dir." wajah Putri tertunduk, wajahnya masih memerah setengah sadar.

Tentang Rasa  Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang