si Tukang kebun suruhan Pak RT

216 133 46
                                        

Hari itu..
Hari dimana ibu memberikan wejanngan bak ndoro putri. Memerintahkan Dira dan Dhani untuk tidak menemuiku selama tiga hari. Seperti biasa, aku beranjak dari tempat tidurku setelah ku lihat matahari sudah menampakan diri di balik tirai kamar. Berjalan menuju meja makan dimana sudah ada Ibu dan Rani menungguku untuk sarapan.

"Pagi bu," sapaku dengan kecupan mendarat di pipi kanan ibu.

"Duhh perawan bangunnya siang amat?" Sindir ibu menatapku yang masih mengantuk.

"Tadi malam Rinjani ngga bisa tidur bu, kepala masih sakit,"ucapku, lalu duduk diantara Ibu dan Rani membuka tudung saji melihat apa yang bisa ku makan.

"Yasudah sarapan dulu, ada bubur kesukaanmu." Ibu memberikan bubur hangat mangkuk bunga yang biasa ku pakai saat makan. Mangkuk dengan warna putih dan kuning untuk bunganya.

"Enak bu buburnya,"ucapku, tak berhenti mengunyah. Melahap setiap sendok tanpa tersisa.

"Iya, Dhani yang bawain tadi pagi," ucap Ibu sambil mengambilkanku segelas susu dikulkas.

"Kenapa Ibu ngga bangunin Rinjani?" Tanyaku, kakiku berlari ke arah pintu hanya untuk melihat apakah Dhani masih berada di depan rumah untuk menungguku.

"Luppa ya? Kan Ibu melarang kalian untuk bertemu." Cecar Ibu dengan lirikan tajam ke arahku. Menyiratkan bahwa omongan Ibu harus benar-benar ditepati.

"Oh iyaa." Senyumku, dengan kaki berjalan kembali ke arah meja makan.

"Sudah sana mandi, jangan lupa minum obat ya." Ibu mengingatkanku dengan tatapan serius ke arah tempatku berdiri.

"Baik Bu." langkahku beriringan menuju kamar mandi dengan handuk Hijau motif bintang dipundak.

--***--

Setelah selesai. Aku duduk di depan rumah, merasakan angin mendung disiang hari.
Angin itu memberitahuku bahwa hujan akan turun. Ku angkat kaki ke meja bulat didepanku, kusandarkan kepala setengah keatas untuk merasakan resapan air yang jatuh ketanah.

Hujan belum juga deras, masih rintik-rintik membuat sedikit basah halamanku. Sedangkan, angin yang semakin kencang membawa harum yang ku suka. Bau hujan yang menyentuh akar pohon.

Lama ku pandangi jalan, duduk melamun di kursi teras. Tak terasa dingin mulai datang dan mengusir tubuh dari tempatku duduk.

Membuatku menggeser tubuh ke daun jendela dengan tangan kanan mulai menulis di buku harian yang sudah lama kusimpan .

"Jikala rindu ini terlarang..
Maka biarkan aku untuk berhenti..
Jika rindu ini menyiksa..
Maka biarkan aku untuk merasakan.
Jika rindu ini memang untukmu.
Maka biarkan kau juga menikmatinya.
Senja membiarkan langit lebih terang. Sehingga
Pelangi datang dan
Mendung membiarkan hujan turun.
Hati membawaku kedalam situasi dimana ku harus memilih. Di saat ku
Biarkan rasa ini berubah.
Berubah menjadi "sebuah Rasa"
Sebuah rasa yang membawaku merasakan
Senang,sedih,terluka,dan dicintai.
Bila memang kau bukan untukku.
Biarkan aku tetap disampingmu "

-untukmu Dira ku-

Sebetulnya aku tak pandai menulis puisi. Tapi, ketika aku mengingat Dira. Hidupku seakan menjadi kertas yang berwarna, entah apa yang ku lakukan bersama nya akan terasa menyenangkan.

Hingga, ketika matahari mulai menunjukan senyumnya walau mendung tetap saja menutupinya. Hujan membuat daun jatuh berserakan menutupi halaman. Cahayanya terlihat samar-samar di balik awan. Tiba-tiba, ku lihat seseorang memakai jas hujan di depan rumahku. Jas hujan yang tak asing, Rasa penasaran itu membuatku
beranjak dari kamarku untuk mencari ibu.

Tentang Rasa  Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang